oleh

Duka UN di Jatinunggal

** Sekolah Disegel Ahli Waris
** Hari Pertama Ujian, Siswa Terusir

JATINUNGGAL – Sebanyak 22 siswa-siswi SDN Kirisik, Desa Kirisik, Kecamatan Jatinunggal, terpaksa melaksanakan Ujian Nasional (UN) di SDN Pajagan,
Kecamatan Jatinunggal. Itu setelah bangunan sekolah mereka disegel pihak ahli waris sejak Sabtu (13/5).

Akibat dari penyegelan ruang kelas VI dan dua ruangan lain di SDN tersebut, selain mengganggu aktivitas belajar mengajar, juga puluhan siswa harus mengungsi (pindah tempat, red).

Kepala SDN Kirisik, Eti Rohaeti menyebutkan, pihaknya mengambil langkah memindahkan tempat UN itu, untuk menjaga kenyamanan para siswa dalam mengerjakan soal UN. Pelaksanaan UN SDN Kirisik, kata dia, terpaksa dipindahkan ke SDN Pajagan yang masih berada di Desa Kirisik.

“Awalnya saya juga kaget ada penyegelan sekolah. Sebelumnya padahal saya sudah mempersiapkan ruang kelas VI untuk ujian. Bangku meja sudah diatur,” ujar Eti, kepada Sumeks, Senin (15/5).

Terpisah, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Jatinunggal, Mumu menyebutkan, pihaknya sedang berusaha untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dia mengakui persoalan tersebut memang sudah beberapa kali disampaikan ke pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang.

Dirinya memastikan pelaksanaan UN siswa SDN Kirisik bisa dijamin lancar dan berjalan normal meski dilakukan di sekolah lain.

Terpisah, pihak penggugat, Sahidin menyatakan, belum akan membuka segel sebelum ada penyelesaian dari pihak terkait. Ahli waris, kata dia, sebenarnya sudah menawarkan hal termudah dengan meminta lahan tanahnya seluas 50 bata dibayar dengan Rp250 juta.

Namun, pihaknya sudah bosan karena berulangkali menyampaikan persoalan ini, namun tak kunjung mendapat respon.

“Kami punya bukti-bukti kuat kepemilikan lahan tersebut. Kami hanya mengambil hak kami,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kirisik, Papat saat dihubungi melalui ponsel menerangkan, bahwa pihak desa selama ini sudah melakukan empat kali musyawarah antar ahli waris, Muspika dan pihak UPTD Pendidikan untuk mencari solusinya.

Namun sampai saat ini, masalah sekolah tersebut solusi tersebut tidak juga tergambarkan. Dikatakan, pihak desa sangat menyayangkan terkait adanya penyegelan sekolah tersebut. Sebab, dinas terkait dianggap lamban dalam menyelesaikan masalah tersebut.

“Kalau saja pihak dinas terkait ada niatan serius untuk menyelesaikan masalah ini, tentu tidak akan sampai terjadi hal seperti ini,” kata dia.

Dia menilai, bahwa tindakan ahli waris menyegel sekolah tersebut hal yang wajar. Sebab kekesalan pihak ahli waris setelah lama menunggu tidak juga direspon oleh pihak dinas.

Mengenai status kepemilikan tanah, pihak desa telah mengecek dibuku C Desa Kirisik. Hasilnya, ternyata memang benar bahwa sebagian tanah yang dibangun sekolah itu, adalah atas nama Warta (orang tua dari ahli waris yang menggugat).

“Saya selaku pihak desa sudah berusaha maksimal untuk mencari solusinya. Tapi kalau pihak yang lebih berwenang seperti dinas terkait tidak respon, upaya saya selama ini sia-sia saja,” kata dia lagi.

Selaku alumni SDN Kirisik, Papat juga merasa sedih melihat anak didik di sekolah tersebut harus numpang di sekolah lain untuk melaksanakan UN.

“Saya selaku alumninya juga tidak tega liat sekolah itu disegel. Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah seharusnya sekolah itu berdiri tanpa ada yang dirugikan,” ucapnya. (eri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed