oleh

Majlis Ta’lim Bersatu (MTB) ke-33, Sambut Kapolres Sumedang yang Baru

Duduk Bersama, Allah Tak Melihat Baju, Pangkat dan Jabatan

Ribuan jamaah kembali mengikuti pengajian Majlis Ta’lim Bersatu yang ke-33. Dalam beberapa kesempatan, kerap hadir tamu istimewa. Beberapa waktu sebelumnya, Wakil Gubenur H Deddy Mizwar hadir pada MTB khusus Milad Sumeks pada 9 Maret 2017 lalu, kini pada MTB ke-33, dikhususkan menyambut Kapolres Sumedang AKBP Hari Brata SIK, yang baru beberapa hari bertugas di Sumedang. Berikut liputannya.

Asep Nurdin, Masjid Agung

TERAS dan pelataran Mesjid Agung Sumedang malam itu, Kamis (8/6) dipadati lebih dari seribu jemaah. Mulai dari masyarakat umum, pelajar, santri, LSM, ormas, klub mobil dan motor, anggota TNI/Polri hingga pejabat pemerintahan Kabupaten Sumedang.

Berbeda dengan sebelumnya, pengajian kali ini tidak di dalam ruangan masjid, melainkan menggunakan teras dan halaman. Hal itu, sengaja dilakukan pihak panitia acara, agar jamaah bisa lebih santai, bisa sambil ngopi pada saat mengikuti pengajian, karena setelah seharian menjalankan ibadah puasa.

Di antara jamaah yang rutin mengikuti pengajian MTB, tampak pula “pendatang baru” yang memiliki sosok tegas, karismatik dan agamis. Ia enggan menyebut pangkatnya saat berkenalan dengan jemaah.

“Kita disini duduk bersama, Allah tidak melihat baju, pangkat dan jabatan,” tutur AKBP Hari Brata SIK, yang baru beberapa minggu menjabat Kapolres Sumedang, dalam sambutannya.

Takbir pun bergema, saat orang nomor satu di lingkungan Kepolisian Resort Sumedang ini, menyerukan dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot), layaknya seorang kiyai. Bahkan, beberapa kisah Nabi Muhammad SAW, pun ia paparkan, untuk dijadikan suri tauladan.

“Ada beberapa kejadian di negara kita, ribut, rusuh dan kebencian yang dimunculkan. Padahal, Rasulullah SAW, mengajarkan kepada para sababat, tabi’it- tabi’in hingga kita semua, untuk tidak menanamkan rasa benci kepada siapa pun, terlebih sampai menebarkan kebencian yang akan mengakibatkan pertengkaran dan perpecahan. Apakah Rasulullah mengajarkan kebencian?” tuturnya.

“Ingatkah kita peristiwa Thaif? Bagaimana baginda Rasululloh SAW dilempari batu hingga keluar darah dari tubuhnya. “Namun, beliau tidak menaruh dendam atau benci kepada orang-orang yang telah mencelakainya. Padahal, dua malaikat penjaga gunung menawarkan diri atas perintah Allah, akan menimpakan gunung kepada penduduk Thaif untuk membalas perlakuannya kepada baginda Nabi,” papar Kapolres.

Namun, baginda Nabi menolaknya seraya berkata, “Bahwa sesungguhnya dari bangsa Thaif, akan melahirkan keturunan-keturunan yang hafidz Al Qur an dan menjadi ulama”.

“Membaca kisah Rasulullah yang sangat mulia itu, tidak sepantasnya kita sebagai umat beliau untuk menebar kebencian yang saat ini sering dilakukan di media sosial,” ucapnya. “Karena dari ujar kebencian di media sosial, akan menimbukan pertengkaran, permusuhan hingga perpecahan,” lanjutnya.

Sementara itu, Yang Mulia Abuya KHM Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi MA dalam tausiyahnya menyebutkan, untuk tidak menanggapi informasi yang sifatnya hoax, atau ikut-ikutan memposting kebencian yang akan menimbulkan pertengkaran. “Lebih baik diam, dari pada memperkeruh suasana dengan postingan di media sosial,” ujarnya.

Masih banyak pekerjaan yang bermanfaat dan mengandung nilai pahala, dari pada harus mengumbar kebencian yang dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed