oleh

Pesantren Kilat Rangsang Anak Cintai Alquran

**Cara Baru Agar Anak Rajin Baca Kitab Suci

Ditengah perkembangan zaman android, anak-anak usia SD sampai SMA disinyalir masih banyak yang belum bisa baca Alquran. Namun dengan program pesantren Ramadan, sejumlah anak terpancing dan termotivasi untuk membaca Alquran. Berikut catatannya.

HERI PURNAMA, Jatinunggal.

PULUHAN kilo meter jarak yang ditempuh menuju Desa Banjarsari, di Kecamatan Jatinunggal. Namun rasa lelah itu terbayar kontan oleh lantunan-lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan anak-anak santri atau peserta pesantren kilat di daerah tersebut.

Tak lama kemudian perbincangan pun dimulai bersama salah satu panitia pesantren tersebut. Dia menerangkan, terdorong dari masih banyaknya anak sekolah yang belum bisa membaca Alquran. Sejumlah aktivis pesantren menggelar Pesantren Ramadan yang dipusatkan di Masjid Besar Banjarsari, Kecamatan Jatinunggal.

Pelaksanaan Pesantren Ramadan begitu singkat hanya berlangsung 5 hari. Namun dengan waktu yang singkat itu diyakini malah lebih efektif. Materi yang diajarkan pemahaman baca Alquran, fiqih, akidah ahlak, hadist dan tariq.

Penggagas Pesantren Ramadan, Teten Cahya Mubarok menyebutkan, meski hanya selama 5 hari peserta pesantren Ramadan membludak sampai 450 perserta. Terdiri dari anak SD, SMP sampai SMA. Peserta tak hanya dari wilayah Jatinunggal, juga datang dari perbatasan Majalengka.

“Waktu yang sempit diefektifkan untuk mendidik generasi motekar. Pesantren Ramadan tahun ini temanya, Ceria, Khidmat, Bersahabat di Bulan Rahmat,” katanya.

Dari jumlah 470 peserta tersebut, peserta dibagi 5 kelas terdiri dari gabungan siswa kelas 1 dan 2, kemudian gabungan siswa kelas 3 dan 4 dan gabungan siswa kelas 5 dan 6. Serta siswa SMP dan siswa SMA.
Untuk jadwal dibuka pagi dan siang. “Pengajarnya sendiri dari pondok-pondok pesantren yang ada disekitar Jatinunngal saja,” ucapnya.

Dikatakan, sebelum melaksanakan Pesantren Ramadan, dilakukan kunjungan-kunjungan ke sekolah. Ternyata banyak didapat sejumlah anak yang belum bisa baca Quran. Dengan demikian diharapkan hasil dari Pesantren Ramadan ini peserta lebih mencintai Alquran.

Teten menambahkan, Pesantren Ramadan kemungkinan bisa dilakukan kontinyu tak hanya pada saat bulan puasa. Sehingga pelaksanaan pesantren kilat bisa lebih intens. Agar pemahaman akan baca Alquran lebih banyak dirasakan para peserta yang rata-rata anak sekolah.

“Pesantren Ramadan justru harus jadi contoh untuk kegiatan nanti di luar Ramadan. Intinya bisa memaksimalkan waktu,” ungkapnya.

Pesantren Ramadan tersebut mendapat dukungan baik, dari pemerintah desa maupun pemerintah kecamatan serta didukung penuh dari unsur pesantren konvensional. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed