oleh

Omset Tahu Sumedang Turun Drastis

SUMEDANG – Penjualan tahu di Sumedang terjun bebas hingga delapan puluh persen. Hal itu dirasakan oleh semua pengusaha rumah makan tahu di Sumedang. Penurunan omset dirasakan setelah adanya jalan Tol Cipali yang membentang dari Cikampek hingga Kertajati Majalengka.

Sumedang yang sejatinya hanya sebagai kota lintasan, terkena dampak yang sangat besar di industri kuliner. Mengingat banyaknya pembeli tahu merupakan pengguna jalan yang melintas dari arah Bandung ke Cirebon.

“Omsetnya terjun bebas, setelah adanya Tol Cipali ini. Kebanyakan pembeli tahu merupakan pengunjung atau pengemudi yang melintas, dan membeli tahu untuk oleh-oleh. Kemudian, ketika sudah tidak menjadi kota lintasan, maka dampaknya seperti ini,” terang salah seorang pemilik Rumah Makan Tahu, Hermawan Safari, saat ditemui di tempatnya, Selasa (4/7).

Hermawan yang sudah bergelut dibidang kuliner tahu dari tahun 1991 ini mengungkapkan, sebelum adanya tol, omsetnya dalam sehari bisa mencapai Rp 3 Juta. Namun, saat ini turun drastis hingga sekitar Rp 600 ribu per hari. Dalam sehari, hanya habis satu atau dua gilingan, padahal sebelumnya dalam sehari tahu delapan gilingan bisa ludes dibeli pelanggan.

“Satu gilingan itu bisa jadi Rp 300 ribu, sebelumnya sehari bisa habis terjual 8 gilingan. Kalau sekarang, 2 gilingan saja habis sudah termasuk untung,” kata Hermawan. Dia pun menceritakan pengalamannya ketika dipertanyakan oleh Dinas Pengelolaan Pendapatan Daerah Kabupaten Sumedang perihal penurunan pajak yang disetorkan kepada pemerintah yang jauh dari sebelumnya.

Namun, setelah diberikan alasan bahwa omsetnya turun, tapi petugas tidak percaya. Terpaksa untuk memastikannya, akhirnya iapun meminta petugas untuk nongkrong seharian melihat omset penjualannya dalam sehari yang pada kenyataanya turun drastis.

“Saya sempat dipertanyakan juga sama dinas, kenapa kok pajaknya turun. Alasanya saya kemukakan bahwa memang terjadi penurunan omset, tapi mereka tidak percaya. Ya saya tantang petugasnya untuk membuktikan sendiri, seharian saja tongkrongin berapa yang terjual,” terangnya.

Namun, masih ada bayang-bayang lagi ancaman yang bisa membuat industri tahu semakin terpuruk, yakni adanya jalan tol Cisumdawu. Jika tidak ada antisipasi dari pemerintah, tentunya akan membuat para pengusaha di bidang tahu gulung tikar. Ia berharap, pemerintah tidak tinggal diam dalam hal ini, dan segera mencarikan solusi yang tepat.

“Jangankan memikirkan ke depan, untuk mempertahankan omset saat ini saja kita kesulitan. Harusnya pemerintah yang mengambil kebijakan yang berpihak kepada kami bagaimana para pelaku usaha tidak kehilangan mata pencahariannya,” katanya.

Terkait dengan rencana adanya rest area yang disediakan pemerintah untuk para pedagang produk Sumedang, Hermawan tidak terlalu optimis bisa menyelamatkan bahkan mendongkrak para pelaku usaha di Sumedang. Sebab, dikahwatirkan justru denga adanya rencana ditempatkan di rest areaakan banyak onkum pengusaha yang bermain yang justru semakin melemahkan pedagang kecil.

“Saya juga pernah dengan terkait adanya rest area itu, namun saya kurantg optimis itu akan membantu. Justru banyak timbul kekhawatiran banyak oknum pengusaha bermodal besar yang bermain,” jelasnya. (her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

News Feed