oleh

Izin Tower Diragukan

KOTA – Adanya penolakan pemasangan tower salah satu provider di kawasan Desa Cikeusi, Kecamatan Darmaraja, mendapat tanggapan Komisi A DPRD Kabupaten Sumedang. Anggota Komisi A, Dudi Supardi menyebutkan, pemasang tower dikatakan salah jika tidak menempuh tahapan perizinan.

“Pada prinsipnya, tahapan perizinan itu kan dimulai dari persetujuan warga sekitar. Bisa melalui dengan pendekatan pembicaraan dan kesepakatan sampai akhirnya keluar MOU yang saling menguntungkan,” katanya melalui sambungan teleponnya, Jumat (7/7). Menurutnya, apa bila tahapan itu tidak dilewati, artinya ada pemaksaan kehendak. Oleh karena itu, politisi asal PAN tersebut meragukan izinnya telah keluar.

“Ya itu diragukan kalau perizinan keluar tanpa ada persetujuan warga. Lain lagi halnya kalau warga hanya memanfaatkan kondisi sehingga menekan pengusaha agar mendapatkan nilai materi yang tidak wajar, maka dalam kondisi ini pihak pemerintah bisa memfasilitasi kedua belah pihak,” ujarnya. Kendati demikian, pada prinsipnya setiap pembangunan itu tidak boleh dihalangi sepanjang tidak melanggar aturan. Akan tetapi, pembangunan itu harus dapat bermanfaat baik untuk pengusaha maupun masyarakat sekitar.

“Kalau ada pengorbanan itu merupakan sebuah resiko untuk pembangunan sepanjang masih bisa dieliminir. Atau dapat diganti dengan konpensasi lain, maka pembangunan dapat dilaksanakan. Jadikan pertimbangan bahwa manfaat harus lebih besar dari madlorot yang akan ditimbulkan,” tutur Dudi. Sebelumnya, salah seorang warga sekitar, Supardi menegaskan, bahwa berdirinya tower tersebut tidak mendapat restu dari warga sekitar, termasuk dirinya yang menolak mentah-mentah terhadap tower itu. Bahkan warga merasa resah dan heran dengan adanya isu terkait keluarnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) terkait tower tersebut.

“Saya bersama masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan tower itu sudah jelas menolak, tapi muncul isu bahwa IMB-nya sudah turun. Saya merasa heran, kalau benar IMB itu sudah ada atas dasar apa bisa keluarnya IMB tersebut,” kata Supardi. Diakuinya, bahwa tower tersebut belum aktif meski sudah berdiri sejak lima tahun lalu. Namun saat ini, sudah mulai ada pengembangan dari pihak pengusaha untuk mengaktifkan tower tersebut. Hal itu makin membuat resah masyarakat dan upaya masyarakat untuk mencari solusi agar tower itu tidak aktif sudah melakukan pengaduan kepada pihak desa setempat dan muspika.

“Kami sudah menyampaikan aspirasi ini kepada desa dan muspika, tapi kalau tidak ada juga solusinya, maka saya secara pribadi akan membuat lubang di tanah saya sendiri yang jaraknya berbatasan dengan tower itu,” tegasnya. (bay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed