oleh

Kejahatan Seksual Anak Marak

KOTA – Dalam dua minggu terakhir, Polres Sumedang mendapatkan dua laporan terkait kasus dugaan pelecehan seksual di wilayahnya. Saat ini, petugas tengah melakukan proses penyidikan dari setiap laporannya.

“Betul ada laporan, ada dua. Tapi kami belum bisa memberikan dimana dan siapanya karena untuk kasus PPA, penanganannya khusus, karena tidak boleh dipublikasi,” ujar Kasat Reskrim Polres Sumedang, Dede Iskandar saat dikonfirmasi, kemarin (10/7).

Dede mengungkapkan, berdasarkan pasal 81 dan 82 UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara, serta denda minimal sebesar Rp 60 juta dan maksimal sebesar Rp 300 juta.

Sedangkan hukuman lainnya menurut KUHP pasal 287 dan 292 menyebutkan bahwa masa hukuman terhadap pelaku pencabulan terhadap anak maksimal 9 tahun (pasal 287) dan maksimal 5 tahun (pasal 292).
“Pelaku dijerat dengan UU Perlindungan anak,” katanya.

Sementara itu, meningkatnya kasus pelecehan seksual yang terjadi belakangan ini, disesalkan sejumlah pihak. Mereka memandang jika pelaku kejahatan seksual sudah tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pemerhati Perempuan yang juga Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sumedang, Ani Gestaviani merasa prihatin dengan tindakan pelaku ini yang belakangan membidik kalangan anak-anak sebagai korban.

“Memang perempuan lebih rentan. Memang objektivitas sudah sangat lama, cuman belakangan ini ada pegeseran objektivitas pada anak-anak. Ini kan artinya ada sebuah moral perilaku yang mengkhawatirkan,” ujarnya.

Dia meminta, aparat penegak hukum untuk memberikan hukuman seberat-beratnya agar kejadian ini tidak terjadi lagi. “Harusnya para pelaku mendapat hukuman yang lebih berat bukan pada kita memproteksi korban saja. Tapi kejahatan pelaku ini harus dihukum lebih berat,” pungkasnya.

Dari maraknya kasus pencabulan pada anak di bawah umur, tak pelak juga membuat beberapa dewan dan tokoh Sumedang angkat bicara. Seperti diungkapkan Ketua Komisi C DPRD Sumedang, dr Iwan Nugraha. Menurutnya, para pelaku pencabulan terhadap anak harus diproses secara hukum, agar membuat efek jera pada para pelaku.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyebutkan, bagi para orang tua kejadian itu harus menjadi perhatian. Apalagi, bagi mereka yang memiliki anak perempuan. “Terutama ketika mereka masih dalam proses tumbuh kembang. Perhatikan dengan siapa mereka bergaul dan bermain. Diharapkan para orang tua harus selalu waspada,” tegasnya.

Sementara itu, tokoh muda Sumedang, Asep Kurnia ketika dihubungi mengatakan, dengan banyaknya kejadian pencabulan terhadap anak dibawah umur, diharapkan para orang tua dan masyarakat harus dapat saling menjaga dan mengingatkan, sehingga anak-anak di bawah umur bisa benar-benar terlindungi.

“Para penegak hukum harus secepatnya memproses kasus itu. Dan para orang tua harus tetap mendampingi yang bersangkutan,” harapnya. Dikatakan Asep, para pelaku harus benar-benar diproses seadil adilnya. “Apalagi ini menyangkut masa depan mereka. Para pelaku harus mendapatkan hukuman yang setimpal,” tuntasnya.

Sebelumnya diberitakan, dua gadis di Tanjungmedar menjadi korban pencabulan seorang kakek. Namun di tempat lain, kejadian serupa terjadi pula di wilayah hukum Polsek Tanjungkerta. Kejadian itu dibenarkan Kapolsek Tanjungkerta, AKP Aep Suhendi SH. Peristiwanya terjadi beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

“Pelaku memegang kemaluan korban yang masih berumur belasan,” ujarnya disela-sela kegiatan peringatan HUT Bhayangkara, kemarin. Aep menjelaskan, kasus di Polsek Tanjungkerta terjadi lebih dahulu dibandingkan kasus di Polsek Tanjungmedar. Jajaran Polsek Tanjungkerta, berhasil mengamankan pelaku.
“Kasus ini juga telah dilimpahkan ke Unit PPA Polres Sumedang,” tambahnya. (her/atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed