oleh

Air Jatigede Kian Surut

DARMARAJA – Air Waduk Jatigede kondisinya tengah surut. Dampaknya, pengusaha rakit pemancingan kini kehilangan penghasilannya. Sudah beberapa minggu ini, air Waduk Jatigede terus turun. Sampai saat ini, surutnya air waduk sudah sekitar lima meter.

Hal itu, jelas mengakibatkan rakit yang disewakan warga sekitar besisir waduk kekeringan dan tidak bisa disewakan lagi. Salah satu penjaga rakit, Marno menerangkan, bahwa rakitnya bermodal paling minim Rp 2 juta. Sedangkan penghasilan dari sewa rakit tersebut, kini tidak menentu. Untuk satu orang pemancing, membayar jasa sewa rakitnya hanya dengan harga Rp 10 ribu untuk seharian.

“Rakit ini paling masuk 15 orang. Tapi perharinya yang mancing paling beberapa orang saja. Kalau dirata-ratakan perminggunya itu bisa menghasilkan Rp 150 sampai Rp 200 ribu. Tapi untuk saat ini, pengusaha rakit tidak punya penghasilan lagi karena airnya surut,” katanya saat ditemui di besisir Waduk Jatigede, Rabu (12/7).

Sementara itu, warga lainnya di kawasan eks Desa Jatibungur, Yayan menyebutkan bahwa surutnya air waduk membuat warga penasaran. Apa penyebabnya, dan mau sampai berapa meter air ini diturunkan. Pada umumnya, rasa penasaran itu timbul pada semua masyarakat dari penyebab surutnya air setiap hari.

Pasalnya tidak ada pemberitahuan atau sosialisasi dari pihak terkait. Bahkan sempat timbul isu terjadi kebocoran pada bangunan fisik waduk tersebut. “Saya dan warga lainnya penasaran apa penyebab surutnya air tersebut, karena sampai saat ini tidak ada sosialisasi dari pihak terkait,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan salahsatu tokoh masyarakat terdampak waduk, Mahmudin yang menilai kalau memang waduk tersebut adalah pembangunan nasional untuk kesejahtraan rakyat. Seharusnya, ada keterbukaan dari pihak terkait, kondisi apapun yang terjadi patut diketahui oleh masyarakat.

Surutnya air tanpa alasan yang jelas itu, menimbulkan kegelisahan pada masyarakat banyak. Hal wajar, jika masyarakat berasumsi macam-macam, bahkan sampai asumsi negatif. Sebab, memang tidak ada sosialisasi dari pihak terkaitnya.

“Beragam asumsi yang berkembang di masyarakat menjadi bukti bahwa tidak adanya sosialisasi dari pihak terkait,” tandasnya

Dirinya menyinggung terkait permasalahan yang masih numpuk terkait kehadiran Waduk Jatigede, juga masih belum bisa diselesaikan. Namun sekarang, tiba-tiba airnya surut cukup drastis, tentu saja hal itu membuang masyarakat semakin bingung.

“Yang kami tunggu itu kejelasan dari pihak terkait mengenai penyelesaian dampak sosialnya dan permasalahan-permasalahan lain yang menyangkut pembebasan tanah,” ucapnya. Dikonfirmasi pihak satuan kerja (satker) Jatigede, sulit ditemui. Seorang satpam menyatakan harus ada surat dari kantor bila ingin masuk kawasan.

Bahkan regulasi yang tidak memperbolehkan warga sipil memasuki area Badan Bendungan Jatigede, tetlalu memberatkan bagi warga Dusun Jatigede, Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede. Pasalnya, regulasi tersebut mematikan perekonomian warga setempat.

Pantauan Sumeks, warung-warung yang sebelumnya ramai di sekitar lokasi Kantor Satker dan Badan Bendungan Jatigede, saat regulasi belum diberlakukan kini sepi. Baik itu hari biasa ataupun hari libur.

“Bahkan warga yang biasanya melakukan salat Idul Fitri di lokasi di lapangan areal Kantor Satker Bendungan Jatigede, kini tidak diperbolehkan. Warga hanya bisa melakukan salat Ied di jalan menuju akses Kantor Satker Jatigede,” ujar seorang warga setempat, Nana.

Dia menegaskan, sudah dua tahun warga melakukan salat Ied di jalan karena masjid/ataupun mushola tidak dapat menampung warga. Padahal jalan belum tentu bersih dari najis. “Kalau di lapangan Kantor Satker Jatigede sangatlah bersih dan nyaman untuk melakukan salat Ied. Selain itu lebih luas dan dapat menampung seluruh warga,” tandasnya.

Nana mengharapkan, regulasi itu kembali dikaji ulang. Terutama bagi warga di sekitar lokasi Kantor Satker Jatigede, ataupun Badan Bendungan Jatigede. “Masa hanya untuk melakukan sholat Ied kami harus meminta izin dengan birokrasi berbelit. Padahal mereka sudah tahu kami merupakan warga disini,” tukasnya.

Hal yang sama diungkapkan seorang pengunjung, Neni. Menurutnya, regulasi itu tentu sangat mempersulit bagi warga. Karena kalau melihat pemandangan dari Badan Bendungan Jatigede, cukup asri dan indah.
“Pemerintah ataupun Satker harus memikirkan solusi yang lebih baik lagi. Apalagi bagi warga,” tukasnya.

Kendati demikian, surutnya genangan air di Bendungan Jatigede tidak berpengaruh bagi warga di hilir Bendungan tersebut. Menurut warga, selama ini kondisi surutnya air di Bendungan Jatigede tidak membuat warga resah.

“Alhamdulillah masih aman-aman saja. Warga tidak resah dengan surutnya air di Bendungan Jatigede,” ujar seorang warga Dusun Cilengar, Desa Cipeles, Kecamatan Tomo, Naryu. Kata dia, justru yang menjadi masalah saat ini adalah jadwal buka tutup pintu air yang tidak teratur.

Pasalnya, hal itu akan berpengaruh bagi areal lahan pertanian ataupun keselamatan warga di hilir bendungan. “Apabila jadwal tidak teratur bagaimana pengairan sawah kami. Misalnya, apabila jadwal buka pintu air dilakukan di malam hari. Saat itu kami sudah berada rumah dan tidak bisa mengairi sawah,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tomo, Sahlan Romansah mengatakan, masyarakat Tomo tidak terlalu memperhatikan surutnya air di Bendungan Jatigede. Mereka menganggap hal itu wajar karena musim kemarau.

“Warga menganggap hal itu biasa di musim kemarau. Dipastikan debit air semakin berkurang,” jelasnya.
Bahkan katanya, beberapa waktu lalu masyarakat Kabupaten Indramayu mendatangi Dinas Pertanian terdekat dikarenakan sawahnya kekeringan.

“Mereka meminta air terus dialirkan agar sawahnya tidak kekeringan. Sehingga, pintu air Bendungan Jatigede tidak ditutup dan dibuka secara terus menerus saat ini. Hal itu memungkinkan debit air berkurang dan Bendungan Jatigede mengalami susut airnya,” tegasnya.

Pantauan dari lokasi lainnya, tepatnya di Blok Cisema, Desa Paku Alam, Kecamatan Darmaraja, kondisi surutnya air masih dimanfaatkan untuk merauk untung. Banyaknya masyarakat yang masih penasaran dengan surutnya air waduk yang digenang dua tahun yang lalu itu, menjadi kesempatan kedua para pedagang setelah moment lebaran untuk merauk untung.

Salah satu penjual nasi liwet di besisir waduk, Mamah menyebutkan, meskipun air waduk surut, tidak mempengaruhi sepinya pengunjung. Justru, banyak masyarakat yang berkunjung untuk melihat kebenaran surutnya air waduk itu.

“Pengunjung mah selalu banyak, apalagi saat moment lebaran kemarin. Saya sampai dapat penghasilan dari jualan nasi liwet sekitar satu juta sehari. Tapi itu tidak setiap hari, misalkan kalau hari ini kita untung kadang satu minggu biasa-biasa saja,” ucapnya.

Lepas dari moment lebaran, kali ini pengunjung kembali datang karena ingin melihat kebenaran air waduk yang surut. Namun dalam kondisi seperti saat ini, ada dua sisi pendapat. Sari satu sisi pengunjung bisa lebih leluasa bermain karena daratannya semakin luas, namun sisi lainnya kondisi hamparan waduk nampak semrawut karena pohon-pohon dan bekas bangunan rumah kembali terlihat.

“Ada yang bilang jadi semakin leluasa bermain, ada juga yang bilang jadi tidak nyaman melihat pemandangannya,” ucapnya. (eri/atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed