oleh

Siswa Papua Belajar di Smansa

KOTA – Melalui jalur afirmasi pendidikan menengah (Adem), dua siswi asal Papua mendapat kesempatan bersekolah di SMAN 1 (Smansa) Sumedang. Mereka adalah Palea Tipagau dan Olopia Degie. Kepala SMAN 1 Drs Yosef Raharja MMpd mengatakan, keduanya merupakan siswa titipan pemerintah pusat yang ikut serta dalam program Adem. Program Adem ini salahsatu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan menengah, bagi siswa yang memiliki keterbatasan. “Baik keterbatasan secara geografis atau keterbatasan secara ekonomi,” katanya, kemarin (17/7)

Proyek pemerintah pusat ini, dikerjasamakan antara Pemerintah Daerah Provinsi Papua dengan sejumlah Pemerintah Daerah Provinsi di Indonesia. “Salah satunya Provinsi Jawa Barat,” tutur Yosef.

Di Jawa Barat sendiri, ada sekitar 100 siswa asal Papua. Sementara untuk Sumedang, terdapat enam siswa yang disebar di tiga sekolah negeri. “Di SMAN 1 sebanyak dua orang, SMKN 1 dua orang dan di SMAN Tanjungsari dua orang,” ujarnya. Mereka, katanya, akan menimba ilmu di Sumedang selama tiga tahun yang dibiayai oleh pemerintah. “Kami diberi tugas untuk mengkondisikan mereka (Palea dan Olipia), agar merasa aman dan nyaman selama tinggal di Sumedang dan belajar di SMAN 1 Sumedang.

Karena keduanya merupakan titipan pemerintah, diharuskan untuk diperhatikan. “Karena ilmu yang akan didapatnya sangat dibutuhkan untuk membangun kampung halaman mereka,” tuturnya. Sedangkan untuk masalah tempat tinggal, keduannya menempati rumah kost yang tidak jauh dari lokasi sekolah. Bahkan untuk biaya hidup sehari-harinya diatur pihak sekolah dari uang pemerintah.

“Sesuai amanat pemerintah, biaya hidup mereka dikelola pihak sekolah. Karena dikhawatirkan tidak dapat mengatur keuangannya sendiri, mengingat usia mereka yang tergolong masih anak-anak,” jelasnya.
Begitupun sambung kepsek, dengan masalah kerohanian mereka. Pihak sekolah sudah mengkondisikannya dengan rohaniawan sesuai dengan agamanya. “Kami pun menitipkannya kepada pemilik kost termasuk RT setempat,” katanya menambahkan.

Dengan adanya dua siswi tersebut, Yosef mengaku bangga. Selain pertama kali memiliki siswa dari luar provinsi yang memiliki karakter berbeda, juga menjadi kebanggaan tersendiri. “Ini suatu kepercayaan dari pemerintah untuk mendidik dan mengajar mereka,” tukasnya. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed