oleh

Pernikahan Dini Rentan Perceraian

SUMEDANG – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terus berupaya menggaungkan usia minimal perkawinan pada perempuan yakni 21 tahun. Pertimbangannya pun tidak hanya soal kesiapan mental dan kematangan alat reproduksi. Jika menikah di bawah usia 21 tahun misalnya 18 tahun, maka si wanita baru tamat SMA. Selain itu pada usia 21 tahun, kematangan alat reproduksi pun sudah cukup, begitu juga kematangan mentalnya.

Secara fisik, sel-sel leher rahim dan organ reproduksi sudah matang. Jika belum siap mental, kawin muda akan mengakibatkan banyak kejadian kawin-cerai belum lagi jika tiap menikah kembali si wanita kembali punya anak. Untuk itu, Pemerintahan Desa Hegarmanah Kecamatan Jatinangor selalu menggaungkan usia minimal perkawinan pada perempuan 21 tahun. Salahsatunya dengan membina kemitraan bersama seluruh komponen masyarakat. Apalagi saat ini, desa tersebut akan dijadikan sebagai kampung KB.

“Salahsatu contoh wanita di desa mau sekolah dari SD ke SMP sulit, sehingga lebih baik dinikahkan saja. Jadi jangan melulu kita salahkan wanita di desa. Meskipun di kota pun di pinggiran banyak juga pernikahan dini. Artinya sosialisasi kurang,” terang Kepala Urusan Perencanaan Desa Hegarmana Kecamatan Jatinangor Irwan Firmansyah, (23/7) kemarin.

Dengan demikian, perlu adanya sosialisasi agar para orang tua memahami pentingnya menjaga agar putra-putrinya tidak menikah pada usia dini. Meskipun begitu, dari data yang ada sedikitnya tujuh orang warga desanya yang tercatat sebagai pasangan pernikahan usia dini. Irwan yang juga Ketua Kampung KB Kecamatan Jatinangor, mengaku dari ketujuh pasangan pasutri tersebut telah melangsungkan pernikahannya di bawah usia 17 tahun.

“Pernikahan terjadi karena ada berbagai faktor yang terjadi. Diantaranya hamil di luar pernikahan, perceraian orang tua, adanya kekhawatiran orang tua yang pernah melihat chating yang tidak pantas anak dan pacarnya. Makanya mereka dinikahkan sama orangtuanya. Bahkan dari ketujuh pasutri tersebut ada yang berusia 13 tahun,” terangnya.

Dengan adanya program Kampung KB ini, setidaknya dapat mensosialisasikan untuk mencegah berlangsungnya kembali pernikahan usia dini, khususnya di desanya. Dari data yang ada di wilayah Kecamatan Jatinangor dari UPTD KB di wilayah Desa Hegarmanah, yang tertinggi jumlah warganya yang telah melangsungkan pernikahan usia dini. Untuk mencegah terjadinya pernikahan dini ini, diimbau agar para orangtua dan guru di sekolah untuk membimbing dan memberikan wawasan terhadap anaknya untuk meberikan pengertian dampak dari pernikahan dini. (kos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed