oleh

Urbanisasi Berakibat Perubahan Budaya

JATINANGOR – Di wilayah Jatinangor, jumlah penduduk terus mengalami peningkatan. Salah satunya di Desa Hegarmanah dengan bertambahnya jumlah penduduk lebih disebabkan adanya perguruan tinggi. Sedikitnya, terdata 7.000 ribu penduduk baru tercatat setiap tahun. Rata-rata, mereka berstatus pelajar usia 18 tahun keatas. Pertumbuhan penduduk yang tinggi sebenarnya membawa beberapa keuntungan, diantaranya ketersediaan tenaga kerja yang melimpah.

Seperti dikatakan Kepala Desa Hegarmanah Dede Sumitra SE, bahwa dampak negatif yang ditimbulkan dari penambahan penduduk yang tinggi adalah sosial ekonomi.Jumlah penduduk yang tinggi jika tidak dibarengi dengan lapangan kerja yang cukup, hanya akan menimbulkan masalah kriminalitas. Orang yang tidak mempunyai pekerjaan, bisa saja beralih menjadi kriminal.“Dengan begitu penduduk kami diarahkan untuk memiliki pekerjaan tetap agar tidak menjadi masalah di lingkungan sekitar,” terang Dede, kemarin.

Sebagai contoh di kota-kota besar, banyak orang yang tidak mendapatkan pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya. Merekapun mencari nafkah dengan menjadi seorang kriminal seperti pencopet, perampok dan lain sebaginya. Bukan hanya itu, dari segi sosial ekonomi jumlah pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak dibarengi dengan pendistribusian fasilitas yang merata. Hal ini akan mendorong terjadinya urbanisasi yang pada akhirnya akan memunculkan kelas sosial baru di masyarakat.

Rendahnya kualitas pendidikan, salah satu faktor yang menyebabkan suatu wilayah rendah akan sumber daya manusianya. Berbeda dengan wilayah desanya, peningkatan penduduk lebih disebabkan banyaknya pendatang yang tinggal di wilayahnya berstatus pelajar. “Selain pelajar juga para pekerja, sebagian besar pelajar yang menuntut ilmu di berbagai universitas di Jatinangor,” ucapnya.

Adanya perguruan tinggi ternama, mendorong aliran migrasi masuk dari luar Jatinangor ke dalam wilayah Jatinangor. Para imigran yang bermigrasi menuju Jatinangor memiliki banyak motif, mulai dari menjadi mahasiswa hingga mencari nafkah di Jatinangor. Logikanya, ketika penduduk semakin padat, kebutuhan masyarakat akan bahan pokok pun semakin meningkat. Hal ini yang membuat masyarakat banyak berpikir bahwa akan ada banyak kesempatan terbukanya lapangan kerja di Jatinangor.

Diakuinya, adanya peningkatan jumlah penduduk menimbulkan peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa, sehingga memunculkan penawaran dari berbagai produsen. “Pada akhirnya menggerakan bermacam kegiatan ekonomi untuk menyelaraskan permintaan dan penawaran pada masyarakat. Wilayah desa kami kini didominasi oleh sektor perdagangan barang dan jasa,” tuturnya. (kos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed