oleh

Bahan Baku Garam Langka

KOTA – Menurunnya produksi garam “Eka S” akibat cuaca, berdampak pula kepada salah satu perusahaan garam di Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang. Dari semula, produksi garam perusahaan ini mencapai 50 ton perbulannya. Namun, kini menurun drastis hanya sekitar 10 ton akibat bahan baku yang dipasok dari Kabupaten Indramayu tidak ada.

Kepala Seksi Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Bidang Perdagangan Diskoperindag Iyan Supriatna membenarkan, jika garam yang diproduksi salah satu perusahaan di Paseh ikut menurun akibat tidak ada bahan baku. “Memang benar, di Sumedang ada satu perusahaan yang memproduksi garam walaupun bahan mentahnya diambil dari Indramayu. Namun, akibat perubahan cuaca, tidak ada bahan baku yang berdampak pada produksi,” kata Iyan.

Pada saat normal, kata Iyan, perusahaan garam ini bukan hanya memproduksi garam untuk kebutuhan Sumedang, tetapi juga menyuplai untuk daerah Subang dan Bandung. Terbatasnya bahan baku untuk garam ini, memang sudah mulai dirasakan sejak akhir 2016 lalu. Dan, dampak yang paling terasa memasuki tahun 2017, sehingga tak heran jika perusahaan garam tersebut menaikan harga jualnya.

“Informasi yang kami peroleh, saat ini pengusaha sudah mulai menaikan harga garam hingga 100 persen untuk menutupi biaya produksi,” katanya. Iyan mengatakan, kurangnya pasokan garam di pasaran memang belum begitu dirasakan masyarakat, mengingat garam bukan kebutuhan pokok seperti halnya beras maupun gas LPG. Namun, upaya antisipasi memang harus dilakukan, jangan sampai kedepan masyarakat merasa kesusahan mendapatkan garam mengingat keberadaan garam banyak dibutuhkan.

Keterangan dari Diskoperndag ini, dibenarkan salah seorang karyawan perusahaan garam di Paseh, Komara. Menurut Komara, sewaktu normal bahan baku garam yang diperoleh dari Indramayu itu di bawah Rp 1.000 perkilogram, kemudian sejak akhir 2016 terus naik hingga sekarang. “Hingga sekarang harga bahan baku itu mencapai Rp 4.500 perkilogram, itu pun barangnya sulit dicari dari petaninya,” kata Komara kemarin.

Perusahaan garam di Paseh ini berdiri sejak awal tahun 1990-an dan memiliki tambak garam di Indramayu. “Baru sekarang terjadi kenaikan garam yang cukup tinggi dan barang tidak ada, sehingga perusahaan mengurangi produksi,” kata Komara warga Sumedang Utara ini. (her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed