oleh

Petani Jamur Kewalahan Penuhi Pasar

SUMEDANG- Para petani jamur tiram mengaku belum mampu memenuhi permintaan kebutuhan pasar dalam skala besar. Saat ini, rata-rata kemampuan produksi atau panen perhari baru mencapai kisaran 25 kilogram sampai 33 kilogram perhari. Jumlah ini tentunya masih sangat jauh dari permintaan pasar.

“Mungkin karena kami belum mampu memperluas dan memperbanyak produksi sehingga kami juga belum bisa melayani permintaan yang banyak. Kecilnya permodalan kami adalah salah satu faktornya,” ujar petani jamur tiram Hirup Hurip di RT 1 RW 1 Dusun Cisasak Desa Pajagan Kecamatan Cisitu Wiyudi Furyadiyanto, belum lama ini.

Dia mengaku pernah ditawari salah satu produsen makanan olahan skala nasional untuk menyediakan jamur tiram sebanyak dua ton perhari. Namun permintaan itu tidak disanggupi, mengingat produksi jamur tiram di wilayah Cisitu belum maksimal. “Kalau hasil panen sejumlah petani jamur di Cisitu dikumpulkan, tetap tidak akan bisa memenuhi permintaan pasar sebanyak dua ton perhari,” ungkapnya.

Yudi menggambarkan, usaha jamur tiram memang sangat prospektif. Sejak merintis lima tahun lalu, perkembangan usahanya meningkat. Dari mulai pasar lokal, kini pesanan jamur merambah ke luar daerah seperti Majalengka dan Bandung.

“Berawal modal hanya Rp 3 juta. Kemudian mulai dari hanya budidaya 400 log kemudian naik lagi 800 log sampai kini bisa ribuan log,” katanya. Pengembangan usaha jamur tiram, menurutnya perlu ketelatenan yang tinggi. Dengan modal kumbung berukuran 9×18 meter, kini dirinya mulai memiliki ruang produksi, ruang bibit, ruang pengembangan jamur. Dari itu semua, sekarang mampu ini memproduksi berkapasitas 11.000 log.

“Memang hasil produksi saat panen raya hanya 33 kilogram perhari. Normalnya 25 kilogram perhari. Tapi kalau dikembangkan lebih lanjut dan didukung SDM serta permodalan mungkin nanti kami siap melayani permintaan pasar dalam jumlah banyak,” paparnya.

Wiyudi mengatakan, dalam produksi jamur tiram tak hanya dibutuhkan modal, tapi kualifikasi individu petani. Dirinya telah dibekali sertifikat teknik pembuatan, sertifikat teknik manajemen produksi, sertifikat tamat pelatihan wirausaha sektor kehutanan, penguatan kemampuan dan manajemen usaha.
Hal itu, mampu meyakinkan konsumen untuk mempercayai produksi yang dihasilkan. “Tinggal bagaimana peran pemerintah daerah mendorong para pelaku usaha jamur. Jika saja dorongan kuat, kami yakni setiap petani jamur mampu memproduksi hingga tonan perhari,” tuturnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed