oleh

Kehidupan Ridwan Bocah Berusia 12 Tahun yang Sudah Bisa Hidup Mandiri

Sepulang sekolah, anak-anak menikmati harinya dengan bermain bersama teman-temannya. Namun hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan Ridwan. Dia harus mencari uang sendiri dengan cara memungut sampah di Alun-alun Sumedang, agar mempunyai bekal bersekolah. Berikut liputannya.

HARI Anak Nasional (HAN) tahun 2017 belum lama ini telah diperingati. Namun nampaknya, Pemerintah Kabupaten Sumedang masih memiliki PR besar dalam bagaimana bisa mensejahterakan anak-anak usia dini. Karena tidak sedikit, anak-anak kurang beruntung di Sumedang perlu uluran tangan pemerintah untuk kesejahteraanya.

Salah satunya, siswa kelas VII MTs Koirul Isroh Talun Muhamad Ridwan. Bocah berusia 12 tahun ini sudah harus merasakan kerasnya kehidupan. Dimana Ridwan yang merupakan warga Lingkungan Gudang Kecamatan Tanjungsari itu, beraktivitas sebagai pemulung sampah. Dan dari apa yang dilakukannya itu, hanya untuk bekalnya bersekolah.

Aktivitasnya sebagai pemulung sampah itu, dilakukan Ridwan di Alun-alun Sumedang. Hal itu pun menjadi perhatian banyak orang, karena anak kecil sudah harus mencari uang sendiri. Apalagi areal alun-alun itu biasa dijadikan masyarakat sebagai tempat bermain bersama orang-orang terdekat. Namun hal itu berbeda untuk Ridwan, karena baginya alun-alun adalah tempat dimana dirinya bisa mencari rupiah dengan mengumpulkan sampah plastik.

“Abdi mulung rongsok tos opat bulan, mamah sareng emak mah terang. Tapi bapak mah teu terang, upami terang mah pasti ambek terus dilarang,” ujarnya saat ditemui. Ayah Ridwan yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta, dikatakannya suka pulang dalam waktu sebulan dua kali. Dari cara Ridwan mencari uang dengan memulung sampah, menunjukan jika keluarga Ridwan ini memang mengalami kekurangan dalam hal ekonomi.

“Abi milarian artos kanggo bekel sakola. Sadinten minimal kenging Rp 10 ribu. Lumayan tiasa ngaringanken beban hidup,” sebut Ridwan sembari menundukan kepalanya yang tampak lelah. Jalan hidup yang diambil Ridwan dengan menggunakan waktu luangnya selepas sekolah hingga larut malam untuk memungut sampah, bertolak belakang dengan apa yang dikehendaki oleh hati nuraninya. Ridwan mengaku ingin hidup normal seperti anak-anak lainnya. Namun, kondisi memaksa bocah tersebut berjuang melawan rasa malu sampai dinginnya udara malam untuk menyambung hidup dengan memungut sampah yang kemudian dijualnya kepada pengepul.

“Upami tos pinuh, rongsokana dijual di Darangdan. Kadang mapah, kadang naik angkot. Hoyongna alim jiga kieu, tapi kondisina kieu,” tuturnya. Dibalik semua pahitnya kehidupan sosok Ridwan, dia memiliki sebuah cita-cita untuk bekerja di sebuah perusahaan besar kelak. Dengan begitu, setidaknya dia bisa membahagiakan orang tuanya. “Cita-cita hoyong kerja di kantoran. Hoyong tiasa ngabahagiakeun orang tua,” harapnya.

Sementara ditanya mengenai tinggal bersama siapa, Ridwan menjawab tinggal bersama bersama nenek dan kakeknya di Talun Kecamatan Sumedang Utara. Namun ketika ditanya nama ibu kandungnya, dia seolah menghindar tanpa memberi tahu nama ibunya. “Hilap deui saha namina, tara diinget-inget. Upami bapak mah namina Rahman, damel di Jakarta janten kuli bangunan,” jawabnya.

Dengan jawaban seperti itu kemungkinan mengandung arti lain. Antara memang tidak tahu atau sebatas ingin menyembunyikan identitas keluarganya. Begitu juga ketika ditanya nama kakek dan neneknya, jawaban yang sama keluar dari mulut Ridwan. “Sami teu terang, da teu dipasihan terang ku mamah. Di Talun ge disauran ku tatangga teh si emak weh,” katanya.

Sementara itu salah seorang pedagang kopi yang biasa mangkal di dalam Alun-alun Sumedang Feli, 47, membenarkan jika Ridwan kerap memungut sampah plastik di sekitaran alun-alun. Bahkan, dia dan Ridwan kerap bercanda sekaligus melepas lelah. Menurut Feli, Ridwan orangnya kurang terbuka. Namun Ridwan juga dikenal sebagai anak yang periang. “Kalau ditanya masalah keluarga, dia kurang terbuka. Malah jawabannya suka dibecandain,” jelasnya.

Akan tetapi, sedikitnya ada yang pernah tanpa sengaja diketahui oleh Feli tentang Ridwan. Hal itu diketahuinya ketika sebelum lebaran kemarin, secara kebetulan Ridwan memborong sepatu anak kecil hingga lima pasang. “Pas ada pameran di masjid agung kemarin, Ridwan beli lima pasang sepatu. Ketika ditanya untuk siapa, dia ngakunya untuk keempat adiknya,” tuturnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed