oleh

Menengok Aktivitas Sanggar Seni Siloka Jagat Darmaraja

Sanggar Seni Siloka Jagat yang terdapat di Desa Darmaraja, Kecamatan Darmaraja semakin banyak diminati banyak masyarakat, terutama kalangan pelajar. Sebab, sanggar tersebut memiliki tarian khas yaitu ‘Pelet Marongge’. Namun sayang, eksistensinya tidak didukung dengan sarana penunjang yang memadai.

HERI PURNAMA, Darmaraja

Suasana pagi menjelang siang di langit Darmaraja begitu indah. Cuaca saat itu lumayan cerah dan disertai dengan hembusan angin yang sedikit memberikan rasa dingin yang berbeda. Sebab musim saat ini sedang mengalami perubahan, dari musim kemarau ke musim hujan.

Sementara laju kendaraan roda dua pun mengarah ke salah satu sekolah yang belum lama berdiri di Kecamatan Darmaraja. Sebut saja, SMK Inovasi Mandiri, tujuan kali ini menemui seorang seniman, yang mempunyai Sanggar Seni Siloka Jagat.

Ya, dia adalah Ujang Syarif Hidayatullah, SPd, atau akrab dengan sebutan Aif. Namun, semakin meluapnya peminat seni tradisional itu kurang begitu efektif lantaran sarana untuk sanggar tersebut masih minim. Selain dari belum mempunyai bangunan khusus untuk sanggar, mereka juga belum memiliki kelengkapan alat kesenian.

“Semakin kita eksis, maka semakin banyak juga yang meminati untuk ikut sanggar ini. Namun kami belum memiliki tempat khusus,” kata dia.

Menurutnya, untuk sementara dalam waktu dekat ini mungkin akan menggunakan gedung olahraga desa tersebut untuk latihan. Namun untuk lebih sempurnanya pihak sanggar tari meminta kepada pemerintah untuk memberikan bantuan pembangunan sanggar.

Dengan begitu, pihak sanggar bisa dengan leluasa menampung dan menggali bakat-bakat seni yang ada di Kecamatan Darmaraja.

“Yang paling utama yang kita butuhkan adalah sanggar, dimana tempat berkumpulnya para pencinta seni dan tempat bertukar pikiran para seniman,” kata dia.

Aif menilai, di wilayah Kecamatan Darmaraja, sebenarnya banyak potensi yang mengarah kepada kesenian tradisional. Namun karena faktor pendukungnya yang lemah, maka potensi-potensi itu tidak terlihat dan cenderung beku. Padahal masih terdapat beberapa tokoh seniman yang ada di Darmaraja yang siap untuk menurunkan seni buhun yang mereka bisa, kepada generasi-generasi penerus.

“Kalau seni tradisional tidak segera di wariskan kepada generasi penerus (kaum remaja) maka kesenian itu akan punah begitu saja,” katanya lagi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed