oleh

Keutamaan Seorang Ibu

RENUNGAN JUMAT
Oleh: Drs Zaenal Alimin MM (A’hwan PCNU Sumedang)

ALKISAH, dahulu di masa Bani Israil ada yang bernama Juraij. Ia selalu melakasanakan shalat, hingga pada suatu saat ibunya memanggil dia, tetapi tidak menjawabnya.

Juraij berkata dalam hatinya: “apakah aku harus pergi menyambut panggilan ibu atau terus shalat?”. Karena Juraij tidak saja mendatangi ibunya, maka ibunya berdo’a : “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan dia sehingga melihat wajah wanita pelacur”. Do’a ibunya terkabul.

Ketika Juraij sedang dalam tempat ibadahnya, datanglah seorang wanita pelacur merayunya, namun Juraij menolaknya. Tidak berhasil merayu Juraij, Wanita pelacur itu lalu berzina dengan seorang pengembala hingga hamil dan melahirkan bayi laki-laki.

Orang-orang bertanya, dari siapa bayi itu? Kata pelacur : “dari Juraij”. Maka mereka pada datang berbondong-bondong merobohkan tempat peribadahan itu serta memaki maki dan mengusir Juraij. Juraij pergi berwudlu lalu shalat, dan menanyakan dimana bayi itu? Ketika bayi itu dibawa, Juraij bertanya kepada bayi, “siapa ayahmu hai bayi?”

Bayi menjawab : “Penggembala”. Setelah itu, orang banyak tadi menyesal dan berkata : “kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dari emas. Tetapi kata Juraij “tidak”, cukup dibangun dari tanah saja. (HR Bukhari – Muslim dalam kitab al Lu lu-u wal marjan)

Dari riwayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa betapa sangat mulianya seorang ibu dan dalam kondisi tersakiti hatinya, maka do’a seorang ibu pasti dikabulkan Allah, walaupun anaknya seorang ahli ibadah, seperti contoh kasus Juraij diatas. Jadi kita harus hati-hati bersikap kepadanya. Mengatakan “ah” saja dilarang (QS al Isra : 23). Bahkan bakti kepadanya berada pada urutan kedua setelah bakti (ibadah) kepada Allah swt (QS Luqman :14).

Bakti kepada kedua orang tua harus kita lakukan dengan cara selalu memuliakannya; bersikap sopan, santun dan mendo’akannya. Sabda Rasulullah saw, bahwa “surga itu ada di bawah kedua telapak kaki ibu; ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua. Dampak ridha dan murka itu bisa terjadi pada perjalanan hidup ini.

Bila orang tua non muslim, tetap kita harus berbuat baik padanya, tetapi tidak boleh mengikuti agamanya (QS Luqman : 15). Semoga kita selalu dalam lindungan ridha dan hidayah Allah swt. Amin yra. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed