oleh

Mengenal Leni Natalia Seorang Crosser Cantik dari Desa Sukajaya

Leni Natalia, perempuan cantik yang menjadi crosser dari Kota Tahu, Kabupaten Sumedang cukup memiliki daya tarik tersendiri. Perempuan yang kini berusia 25 tahun itu, sudah bermain trail sejak 2010 atau sekitar 7 tahun yang lalu. Selama perjalananya, Leni mengaku senang karena memiliki berbagai pengalaman petualangan sebagai crosser.

PARAS cantik dan murah senyum, tampak ada pada diri perempuan kelahiran 24 Desember 1992, Leni Natalia. Namun dari hal itu semua, ada sisi sangar dari perempuan berdarah Sumedang yang kini tinggal di RT 01 RW 03 Dusun Dago Girang Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan ini. Dia memiliki hobi sebagai crosser yang merupakan sebuah hobi yang jarang dimiliki oleh setiap perempuan.

Sosok Leni, pertama kali dikenal ketika dia tengah mengikuti acara Cadas Adventur Trail Sumedang, dalam rangka HUT Bhayangkara ke-71 yang diselenggarakan di IPP Kabupaten Sumedang. Dari sekitar 2700 peserta yang ikut, semua didominasi oleh para crosser lelaki. Dan Leni, mungkin menjadi salah satu crosser perempuan yang turut memeriahkan hari jadi bhayangkara tersebut.

“Iya saya lagi ikut adventure di HUT Bhayangkara Polres Sumedang. Setahu saya sih mungkin cuma ada dua perempuan saja yang ikut acara itu,” kata Leni sambil menunggui motornya yang mengalami trouble di Lingkungan Desa Padasuka Kecamatan Sumedang Utara.

Anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Uu Kusmayadi dan Sopianingsih tersebut, mengaku menyenangi hobi extrem tersebut dari ayahnya. Bahkan bisa dikatakan, hampir seisi keluarga memiliki hobi yang sama. “Yang ngajarin bapak, kita sekeluarga seneng adventur. Saya juga ikut acara ini berdua sama kakak saya,” ujar Leni.

Leni menjelaskan, awalnya dia menyenangi hobi ini karena sering diajak sang ayah ikut adventur. Lalu dia mulai berlatih menggunakan motor trail, dengan berbekal pernah menggunakan motor yang berkopling. “Pertama latihan dibonceng dulu sama ayah ke Nangorak dan keluar di Desa Baginda. Lama-lama dilatih sampai bisa. Untung pas SMA saya sudah bisa motor kopling,” sebutnya.

Karena sudah terbiasa menggunakan motor trail, Leni akhirnya diberikan motor trail hasil rakitan ayahnya sendiri. Karena kebetulan, ayahnya juga merupakan seorang ahli dalam hal merakit roda dua, khususnya jenis motor trail. “Iya, motornya hasil bikin sendiri dari jenis Suzuki TRS. Yang ngerakit sih bapak, kebetulan bapak punya bengkel pribadi. Tapi belum terbuka untuk umum,” terangnya.

Setelah memiliki motor sendiri, Leni kerap mengikuti ajang adventur yang sering digelar di Kabupaten Sumedang. Namun Leni mengaku, belum siap untuk melakukan adventur di luar kota, dikarenakan belum memiliki kendaraan yang bagus.

“Ikut adventur sih sudah lima kali, tapi di Sumedang aja. Saya belum pernah nyoba di luar, soalnya belum berani karena motornya masih belum memadai dan belum 100 persen bagus,” sebut Lani. Di luar daripada itu, sosok Leni yang juga merupakan seorang pegawai RSUD di bagian humas, memiliki sebuah impian untuk bisa melakukan adventur di luar kota. Salah satu yang ingin disambanginya, adalah track menantang di tanah Jawa, yakni Gunung Bromo.

“Harapannya pengen adventur lebih luas lagi. Pengen dong nyobain di luar kota. Impiannya sih saya pengen nyoba adventur di Gunung Bromo. Karena di sana medannya menantang sangat adrenalin,” tuturnya. (bay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed