oleh

Dua Kali Longsor, Rumah Ambruk

TANJUNGKERTA – Sebuah rumah permanen milik Opik Santosa (40) ambruk dibagian dapur akibat terkena longsor, Selasa (15/3). Peristiwa terjadi di RT 03, RW 02, Dusun Cipadung, Desa Mulyamekar Kecamatan Tanjungkerta.

Kejadian longsor terjadi dua kali. Longsor pertama terjadi pada pukul 03.30 dan merobohkan benteng. Sementara, longsor kedua terjadi pada pukul 04.00 dengan merobohkan material tanah tebing serta rumah bagian dapur. Beruntung, bagian dapur yang ambruk sudah dijadikan gudang penyimpanan barang dan tidak ditempati lagi. Sehingga, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Kini, longsor juga mengancam rumah milik Hera (35), tetangga korban Opik Santosa.

Longsor yang terjadi dari ketinggian kurang lebih 12 meter dengan lebar 8 meter. Hal itu diungkapkan Kasi Trantib Kecamatan Tanjungkerta, Agus Hidayat.

“Longsor terjadi di bagian belakang rumah korban, Opik. Kebetulan, di belakang rumahnya merupakan tebing. Rumah itu sendiri berukuran cukup besar, 17 x 8 meter dengan dapur yang cukup luas,” kata Agus melalui selulernya kepada Sumedang Ekspres, kemarin.

Agus menambahkan material longsor mengenai sawah milik warga. Tetapi, longsoran tidak berakibat fatal pada sawah.
“Hanya tepian sawah yang terkena longsor, sehingga tidak mengganggu tanaman padi,” tambahnya.

Agus menerangkan kini korban masih menempati rumahnya dan tidak diungsikan. Karena, rumahnya berukuran panjang dan tanah pada bagian depan rumahnya berupa tanah padat. Sehingga, tidak dikhawatirkan terjadi longsor susulan.

“Tanahnya cukup padat pada bagian depan rumah korban. Selain itu, disekitar rumah korban tidak ada sungai yang dapat mengakibatkan longsor. Kami tidak khawatir terjadi longsor susulan. Namun, diharapkan korban tetap waspada,” tandasnya.

Menurut Agus, longsor terjadi akibat adanya hujan dengan intensitas tinggi. Hujan yang mengguyur secara terus menerus mengakibatkan tanah retak-retak dan longsor.

“Mudah-mudahan saja tidak ada longsor susulan. Baik bagi korban ataupun tetangganya,” tukasnya.
Dikatakan Agus, korban menderita kerugian sekitar Rp 30 juta. Baik bangunan ataupun barang-barang didalam bangunan itu sendiri.
Saat ini, lanjutnya, Pemerintahan Kecamatan Tanjungkerta dan Pemerintahan Desa Mulyamekar beserta warga menangani longsor. Pihaknya membersihkan material longsor yang ada di bawah dan pinggiran sawah. Banyak material yang dibersihkan. Diantaranya, tanah, batu dan bata sisa-sisa bangunan serta material lainnya.

“Kami bergotong royong membersihkan semuanya. Termasuk yang mengenai material longsor yang mengenai sawah warga,” pungkasnya.

Sementara itu, pemilik rumah, Opik Santosa mengaku dirinya terbangun saat terjadi longsor. Longsoran pertama dan kedua dirinya turut menyaksikan. Dikatakan Opik, dirinya sengaja membiarkan urugan longsor.

“Hal itu dilakukan agar tidak terjadi longsor susulan,” tandasnya.

Opik berharap tidak terjadi lagi longsor susulan. Ia masih tinggal di rumah dan tidak mengungsi ke rumah kerabat dan keluarga. “Mudah-mudahan tidak ada susulan,” tutupnya.(atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed