oleh

Hidup yang Penuh Ujian

KETIKA sesuatu yang tak menyenangkan terjadi, terkadang kita mensikapinya dengan lapang dada. Namun lebih sering kita menjadi kehilangan kesabaran. Padahal, kita sering marah dan kecwa dengan suatu kejadian.

Setelah waktu berlalu, ternyata “kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat. Jauh lebih baik dari apa yang diharapakan sebelumnya. Maka hati-hatilah mengomel dan mengeluh, karean bisa jadi dengan omelan kemarahan terhadap sesuatu peristiwa kita telah tergolong kufur nikmat. Sesuai dengan Firman Allah SWT,

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka diaberkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinaku”. (QS 89. AL-Fajr:15-16).

Masalah, merupakan suatu realitas pasti yang terus menerus mendera kehidupan manusia. Sehingga tidak perlu dirisaukan atau takuti. Diundang atau tidak diundang, suka atau tidak suka “sang masalah” pasti datang. Karenanya kita tidak perlu dipusingkan oleh masalah itu sendiri.

Persoalan yang sesungguhnya, bukan terletak pada adanya masalah. Melainkan kepada sikap kita menghadapi masalah tersebut. Oleh karena itu, siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar dan bahagia; mutlak harus terus menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi masalah (qudroh ‘ala muwajahatil qadhoyya).

Karena berbagi masalah itu, semakin hari pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya. Seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab yang diemban oleh sesorang.

Kelaian kita dalam menyadari pentingnya bersunguh-sungguh, mencari ilmu tentang cara menhadapi hidup ini, dan kemalasan kita dalam melatih dan mengevaluasi keterampilan dalam menghadapi persoalan hidup. Ini akan membuat hidup diisi dengan perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan yang bertubi-tubi.

Agar libih tabah dalam menghadapi kehidupan, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, pernah memberikan wejangan kepada sahabat Abu Dzar.

Beliau bersabd, “Hai Abu Dzar, perbaharuilah perahumu karena lautan itu amat dalam. Dan berbekallah dengan sempurna, karena perjalanan itu jauh. Ringankanlah beban karena bukit yang menjulang akan merintangi, dan perbaikilah amalmu karena Yang Maha memperhitungkan Itu Maha Mengenal. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed