oleh

Warga Sabagi Geram Rumahnya Akan Dibongkar Pihak Tol

SUMEDANG – Sejumlah pemilik rumah yang terkena dampak pembangunan Tol Cileunyi, Sumedang dan Dawuan (Cisumdawu) di wilayah Sabagi, Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, tidak terima rumahnya dibongkar begitu saja oleh pihak proyek Tol Cisumdawu.

Sebelumnya, pihak Tol dan terkait memberikan informasi, pemilik rumah wajib mengosongkannya pada Selasa 29 Oktober 2019. Informasi itu menuai keresahan warga. Diantaranya tiga rumah, satu masjid dan satu pabrik gilingan padi di Desa Sabagi satu dan Sabagi dua.

Salah seorang pemilik rumah yang terletak di RT 02 RW 06 Dusun Sabagi dua, Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, Ade Enca Supriatna, mengungkapkan belum ada kesepakatan harga dan tanda tangan warga. Namun rumahnya akan dibongkar hari Selasa besok.

“Seharusnya kan setelah ada kesepakatan atau pembayaran, baru bisa dilakukan pembongkaran. Ini mah belum ada apa-apa sudah ingin membongkar, dimana letak kemanusiaannya,”

“Kami akan terus bertahan apa pun yang terjadi, karena harga rumah kami yang tak sebanding, berbeda dengan harga yang diberikan kepada rumah hantu (rumah yang sengaja atau baru dibuat dikarenakan ada proyek tol agar mendapat keuntungan, red) dan juga tidak sebanding dengan harga yang diberikan kepada tetangga yang memiliki rumah berukuran lebih kecil dari rumah saya.” ujarnya kepada Sumeks, Minggu (27/10).

Ade juga menyesalkan, rumahnya yang tergolong Tipe Permanen C dihargai lebih rendah dari kandang ayam dan sapi.

“Ini yang tidak saya mengerti dari BPN. Saya menanyakan setelah mendapatkan amplop yang isinya harus konsinasi ke pengadilan, dan saya tidak mengerti Konsinasi itu apa. Saya ini orang yang tidak mengerti urusan hukum, jangan dulu ada konsinasi pengadilan atau apa pun itu, seolah-olah itu mengintimidasi, menakut-nakuti kami karena kami orang bodoh,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjut Ade, pihaknya akan mempertahankan rumah miliknya, karena terbilang rugi dengan hanya dihargai senilai Rp150 juta saja. Sedangkan yang lain dihargai sampai Rp300 juta lebih dengan golongan rumah yang sama dengannya.

“Keinginan saya ‘cik atuh standar lah setara!’. Ada rumah yang sudah tidak layak dihargai layak. Rumah saya rumah huni dan ini satu-satunya harta benda saya, masa hanya dihargai sedemikian rendah. Uang segitu hanya bisa beli tanah tidak bisa beli rumah, mau kemana saya pindah sedangkan saat ini tidak ada harga tanah yang murah,” keluh Ade.

Sementara itu, Ade juga memaparkan adanya rasa tidak adil dimana rumah yang tidak kena dampak justru dibayar full dengan harga mahal. Sedangkan pihaknya justru menerima surat dari pengadilan harus mengosongkan tanah dan rumah.

“Harapan saya, kami dibawa sebagai masyarakat untuk bermusyawarah. Pemerintah harus sayang kepada masyarakatnya, dalam hal ini pemerintah desa tidak ada sama sekali rasa perhatian kepada kami,”

“Dapat surat dari pengadilan, kosongkan tempat nanti selasa akan dieksekusi dan sepertinya mereka bergembira. Tol ini bukan jalan umum melainkan jalan komersial. Seperti yang disampaikan presiden, saya tidak mengganti rugi korban penggusuran tol siapapun dan dimanapun, saya akan mengganti untung, kenapa saya malah dirugikan,” paparnya.

Dilokasi yang sama, hal serupa disampaikan warga lainnya, Nur Nurnaningsih. Dirinya memilih pemerintah agar dapat mengganti rumah miliknya dengan rumah kembali yang ukurannya sama dengan rumah yang ditempatinya saat ini.

“Sekarang posisinya siapa yang sebenarnya membutuhkan, warga atau pihak Tol. Rumah tinggal dihargai lebih rendah dari rumah hantu. Sungguh kami perlu simpati dan perhatian lebih dari pemerintah Kabupaten Sumedang. Ada rumah yang sampai dihargai hampir Rp1 Miliar. Sedangkan rumah saya yang taat pajak yang ukurannya 6×8 Meter, lebih besar dari rumah itu, dihargai begitu rendah,”

“Saya tidak ingin diganti dengan uang, yang terpenting pihak terkait bisa mengganti rumah saya dengan rumah yang sama luasnya, intinya sih adil,” pintanya. (cr2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed