oleh

Kesadaran Bayar Zakat Masih Minim

SUMEDANGEKSPRES.COM – Mendekati hari raya Idul Fitri, Unit Pengelola Zakat (UPZ) Kecamatan Jatinangor, menargetkan pendapatan dari zakat fitrah dan sodakoh tahun ini, senilai Rp 1,2 Miliar. Jumlah itu meningkat dari tahun lalu, yang menargetkan Rp 1,1 Miliar dengan capaian Rp 78. 315.000.

Dikatakan Kepala UPZ Kecamatan Jatinangor, H Dedep Hambali, pendapatan dari zakat fitrah Rp 1,2 Miliar itu didapat dari 96.000 jiwa wajib zakat, ditambah kupon Rp 2.000 yang disebar Baznas ke warga. Namun hitungan itu, masih hitungan kasar. Sebab pada kenyataannya, masih banyak warga yang membayar zakat ke masjid atau pondok pesantren atau ke amilinnya langsung.

“Ya kalau target kita itu Rp 1.272.800.000 tahun ini. Tapi kan pada kenyataannya hanya 30 persenan saja warga yang zakat melalui UPZ desa dan kecamatan. Kebanyakan bayar zakat ke amilinya langsung, jadi tidak terdata di Baznas Sumedang,” jelasnya, Jumat (8/5)

Selain itu, lanjut Dedep, kendala lain adalah UPZ RW dan desa, memberikan uang titipan zakat, tanpa ada surat atau berita acara. Semisal, uang itu dari jumlah warga yang membayar, atau kostnya dari mana saja tidak jelas.

“Jadi, para pengumpul itu menyetorkan ke UPZ kecamatan pake amplop, udah gak pake administrasi apa-apa,” tuturnya.

Kemudian, lanjut Dedep, karena sifatnya imbauan (meskipun menurut Agama diwajibkan) pihak UPZ sulit menekan atau menarget ke tiap UPZ desa dan RW. Sebab, yang namanya bayar zakat itu, merupakan hak masing-masing mau ke siapa saja.

“Sekarang ketika ditanya ke desa, dari pihak UPZ RW-nya cuman setor segini. Ketika ditanya ke RW, dari RT-nya setor segini, kan gak bisa maksa,” katanya.

Dedep mengakui, meskipun Jatinangor kaya akan potensi industri, pertokoan dan kampus, namun tidak menjamin pendapatan zakat lebih besar dari kecamatan lain. Sebab, Jatinangor itu kebanyakan pendatang sehingga warga pendatang bayar zakatnya di daerahnya masing-masing.

“Sekarang contoh kampus, ada berapa ratus dosen. Ada berapa ribu mahasiswa. Jika mereka membayar yang iuran kupon Rp 2.000 saja perorang selama empat bulan sekali saja, ada berapa penghasilan untum Baznas buat keperluan sosial,” katanya.

Belum lagi ribuan karyawan pabrik dan pengusaha apartemen dan hotel. Jika mereka membayar zakat ke UPZ Baznas Kecamatan Jatinangor, pasti pemasukan nya akan meningkat. Bahkan, lanjut Dedep, tak menutup kemungkinan pendapatan UPZ Kecamatan lain lebih besar dari Jatinangor. Sebab, tergantung pada kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajiban rukun islam ke-4.

“Kalau ASN itu pasti ada pemotongan zakat (zakat penghasilan) sebesar 2,5 persen. Tapi itu juga kan ke provinsi atau ke pusat, tidak ke UPZ di masing-masing wilayah, meskipun mereka bekerja di wilayah itu,” katanya.

Berkaitan dengan wabah Covid-19, UPZ Baznas Jatinangor pun memprediksi pendapatan dari zakat fitrah dan sodakoh akan menurun. Meski ada laporan dari Baznas pusat bahwa tingkat kesadaran warga untuk beramal di tengah pandemi justru meningkat.

“Kalau titipan bantuan untuk Covid-19 dari masyarakat belum ada. Baru ada dari Baznas Sumedang uang senilai Rp5 juta dan masker sebanyak 1.500 buah dan sudah dibagikan,” tandasnya. (imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

News Feed