oleh

Seorang Pedagang Tahu Asongan Hadapi Kritis Ekonomi Ditengah Pandemi

SUMEDANGEKSPRES.COM – Sebuah keluarga di Dusun Jamban, Rt 03 Rw 02, Desa Girimukti, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang harus menelan pahitnya kehidupan ditengah kemiskinan.

Saat dikunjungi Sumeks, tampak jelas raut kesedihan dari sepasang suami isteri Dayat Hidayat, 49 dan Ai Mayanti, 32.

Dayat, sebelumnya sempat menikah dengan wanita lain dan dikaruniai 4 orang anak. Sedangkan dengan Ai, dirinya telah dikaruniai 2 orang anak perempuan.

Dalam kemiskinan tersebut, Dayat juga harus pasrah dengan kondisi istrinya yang didiagnosa memiliki penyakit Miom (Pertumbuhan sel tumor di dalam atau di sekitar uterus/rahim yang tidak bersifat kanker atau ganas).

Ditambah, anak bungsunya yang berumur 7 tahun juga terdiagnosa memiliki riwayat penyakit Tuberkulosis (TBC).

Selama ini, Dayat berprofesi sebagai penjual tahu asongan. Namun, dikarenakan pandemi wabah Covid-19, dirinya harus berhenti untuk berjualan.

“Sekarang kerja serabutan saja, kadang menjadi buruh tani. Say juga memelihara kambing tetangga disini, kalau beranak mudah-mudahan kebagian,” ujarnya kepada Sumeks, Selasa (26/5).

Saat ditanya jumlah bantuan yang diterima selama pandemi Covid-19, Dayat justru mengaku belum pernah mendapat bantuan apa-apa. Baik dari pemerintah pusat, provinsi bahkan Pemda Sumedang.

“PKH saja kami tidak dapat, apalagi bantuan dari pemerintah kami belum pernah dapat. Hanya waktu itu sempat menerima nasi bungkus sebanyak 2 kali,” terangnya.

Tak hanya itu, lanjut Dayat, dirinya juga turut menyesalkan karena status pra sejahtera nya dihilangkan oleh pihak desa. Sehingga Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang seharusnya didapatkan menjadi tidak diterimanya.

“Alasanya katanya karena pernah mendapat bantuan bedah rumah dan pasang listrik gratis,” sebut Dayat.

Sementara itu, hal memilukan lainnya datang dari kedua anaknya. Dimana kedua putrinya, yakni Lisna Maida, 13 dan Fiqrianti, 7, harus terhambat bersekolah karena terbentur masalah biaya.

“Padahal mereka sangat semangat untuk sekolah. Tapi mau gimana lagi, sekarang biayanya kami tidak punya,” terangnya.

Oleh sebab itu, Dayat sangat berharap pemerintah dapat membantu memberikan solusi untuk kesulitan yang dihadapinya saat ini.

“Saya cuma bisa berdoa, dan berharap ada bantuan dari pemerintah agar bisa hidup layak dan anak-anak juga bisa sekolah,” tuturnya. (bay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed