oleh

Masuki AKB, Daftar Cerai Tinggi

 Sejak 4 Juni, Tercatat 411 Pemohon

SUMEDANGEKSPRES.COM – Memasuki masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), angka pendaftaran perkara perceraian di Kabupaten Sumedang, cukup tinggi. Sejak dibuka kembali pendaftaran pada 4 Juni, hingga kemarin tercatat 411 pendaftaran perceraian pasangan suami istri.

“Sejak masa PSBB berakhir pada 4 Juni, kita kembali membuka pendaftaran perkara perceraian. Sejak tanggal tersebut hingga hari ini (kemarin, red), sebanyak 411 perkara. Lumayan tinggi,” ujar Kabag Humas Pengadilan Agama Sumedang Drs Nuryadi Siswanto MH.

Tingginya angka pendaftaran ini, bisa jadi dampak penghentian sementara pelayanan pendaftaran perkara di kantor PA selama masa PSBB. Meski demikian, sebenarnya pendaftaran pada masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tetap dibuka secara online.

“Sebetulnya, kami tetap membuka pendaftaran online. Namun, mungkin karena keterbatasan kemampuan dalam pendaftaran online, jadi daftarnya langsung ke PA yang dimulai kembali sejak 4 Juni lalu,” ujar Nuryadi.

Sementara itu, selama 2 bulan masa PSBB lalu, pihaknya banyak menunda agenda persidangan. Sesuai dengan instruksi dari Mahkamah Agung. Namun, memasuki masa AKB ini, persidangan kembali dilaksanakan.

“Awal Juni sudah dibuka kembali pesidangan. Hanya saja, jadwal sidangnya disesuaikan. Jika sebelum wabah Covid bisa dilaksanakan hingga 40 perkara persidangan, maka pada masa AKB ini dikurangi sekitar 50 persennya saja,” beber dia.

Pembatasan ini, terang dia, bertujuan untuk mengurangi kunjungan masyarakat ke instansi yang berlokasi di Jalan Pangaduan Heubeul ini. “Jika tidak dibatasi, jumlah kunjungan masyarakat bisa mencapai ratusan. Misalnya saja, ada 40 perkara. Yang datang untuk satu perkaranya bisa dua sampai tiga orang. Apalagi jika ada dua majelis, bisa dua kali lipat,” terang Nuryadi.

Meski ada pengurangan jadwal agenda sidang, pihaknya tetap memberlakukan ketat protokol kesehatan. Dan yang paling sering lupa dari masyarakat, adalah penggunaan masker. Bahkan, ada beberapa diantaranya pengacara yang lupa bawa masker.

“Agenda persidangan sempat ditunda beberapa saat, agar warga mencari dulu masker. Jadi, selama tidak pakai masker, tidak diperbolehkan mengikuti persidangan,” tegas Nuryadi.

Selain penerapan protokol kesehatan, pihaknya juga melakukan penyesuaian ruangan persidangan. Misalnya saja, ruangan yang tadinya menggunakan kipas angin, kini diganti dengan kipas blower. Begitu juga dengan tempat duduk pengunjung persidangan disesuaikan agar tetap jaga jarak. “Dengan penerapan protokol kesehatan serta menyesuaikan jadwal persidangan, mendapat respons positif dari para hakim. Mudah-mudahan saja, pandemi segera berakhir dan pelayanan di pengadilan agama pada khususnya bisa kembali berjalan normal,” pungkas dia. (ahm/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 komentar

News Feed