oleh

Fenomena Naiknya Penggemar Olahraga Bersepeda Terjadi Juga di Pedesaan

Penjualan Laris, Sampai Kewalahan Penuhi Pesanan

Fenomena olahraga sepeda, saat ini menjadi tren bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya di kota besar, di kota-kota kecil dan bahkan pedesaan, juga banyak digemari dan digandrungi masyarakat. Bagaimana hobi bersepeda di Sumedang. Berikut liputannya.

ATEP BIMO AS, SUMEDAGEKPRES.COM

SEPEDA, saat ini menjadi barang yang digandrungi masyarakat di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Fenomena ramainya pengguna sepeda, saat ini juga terlihat di Sumedang. Bahkan, masuk ke pedesaan.

Di wilayah Kecamatan Conggeang, setiap hari Sabtu dan Minggu ataupun hari libur banyak orang bersepeda. Bandara Kertajati menjadi tujuan favorit para penggemar sepeda di wilayah Kecamatan Conggeang.

“Kami juga selalu bersepeda ke tempat tempat wisata yang menarik,” ujar seorang penggemar olahraga sepeda Didi, belum lama ini.

Didi menuturkan, selain berolahraga, bersepeda juga cukup menarik dilakukan. Oleh karena itu, saat ini banyak digemari oleh berbagai kalangan. “Tidak hanya para orang tua, kawula muda pun banyak yang menggemarinya,” tuturnya.

Peningkatan penggemar olahraga sepeda, berpengaruh besar pada penjualannya. Hal itu dirasakan oleh pemilik toko sepeda N2Bike di kawasan Stadion Ahmad Yani Sumedang, Budi Arianto. Menurutnya, penjualan sepeda mengalami tren kenaikan saat penerapan adaptasi kebiasaan baru (AKB) di Sumedang.

Baca juga :

Penebangan Pohon Tua Berjalan Dramatis, Timpa Tiga Petugas

“Terasanya (peningkatan) pas habis lebaran. Padahal saat awal-awal ada korona sempat sepi, bahkan toko juga tutup karena ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar),” ujar Budi di tempat jualannya, Senin (22/6).

Kata Budi, omzet penjualan sepeda saat ini naik sampai 6 kali lipat dari sebelum ada pandemi covid-19. Bahkan Budi mengaku, kewalahan melayani permintaan pelanggan yang mencari sepeda jenis MTB dan sepeda lipat.

“Paling ramai dan banyak dicari itu sepeda MTB dan sepeda lipat Begitu datang langsung habis, sekarang barangnya susah,” ucapnya.

Dalam sehari Budi bisa menjual sepeda sebanyak 20 sampai 25 unit. Ramainya permintaan sepeda pun berdampak kenaikan harga sepeda.

Dia menggambarkan, sepeda jenis MTB yang biasanya harganya sekitar Rp 2 juta, kini naik menjadi sekita Rp 3 juta per unit. “Sekarang harganya sudah tidak masuk akal. Permintaan sepeda sekarang masih banyak, cuman barangnya tidak ada,” tuturnya.

Diakui Budi, fenomena lonjakan penjualan sepeda ini tidak pernah terprediksi. Apalagi di tengah kesulitan ekonomi masyarakat karena pandemi covid-19.

Menurut salah seorang pengurus Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Sumedang, Beben, banyaknya warga yang gowes karena kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lebih tinggi. “Masyarakat sudah lebih peduli akan pentingnya kesehatan, selain itu sepeda sudah jadi gaya hidup,” ujarnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 komentar

News Feed