oleh

KBM Belum Bisa Tatap Muka

Kadisdik: Kalau nanti masuk zona hijau, tidak sekonyong-konyong anak boleh sekolah, tetapi harus di- screening

SUMEDANGEKSPRES.COM – Tahun Ajaran Baru 2020/2021, akan dimulai pada tanggal 13 Juli mendatang. Namun begitu, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang tidak akan melakukan pemeriksaan kesehatan, untuk mengetahui apakah siswa berisiko lebih tinggi dan mengalami suatu masalah kesehatan atau tidaknya (screening).

Lantaran, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) belum bisa dilakukan dengan cara tatap muka. “Kalau nanti masuk zona hijau, tidak sekonyong-konyong anak boleh sekolah, tetapi harus di- screening (penyaringan). Mana yang boleh bersekolah dan mana yang tidak boleh,” kata Kadisdik Kabupaten Sumedang, Agus Wahidin saat ditemui Sumeks di kantornya, Selasa (23/6).

Kalaupun sudah memasuki zona hijau, kata dia, siswa masih belum bisa masuk sekolah secara bersamaan. Mereka tetap displit menjadi dua bagian. “Kalau satu kelas ada 32 anak, maka yang diperbolehkan belajar tatap muka hanya setengahnya. Minggu ini 16, dan minggu depannya lagi 16 siswa,” ujarnya.

Sementara itu, di  masa pandemi covid-19, pihaknya menerapkan tujuh langkah aksi Dinas Pendidikan. Antara lain, pertama melalui virtual meeting. “Ini dibatasi. Sekolah tidak boleh melakukan virtual meeting terlalu banyak, lantaran biayanya tinggi,” katanya.

Satu kali virtual meeting, kata dia, satu anak akan menghabiskan dua giga bait (GB) per satu mata pelajaran. “Kalau satu giga Rp 20 ribu, kali tiga mata pelajaran, kali satu minggu, kali satu bulan, sudah berapa?” tuturnya.

Kedua, kata Agus, melalui pembelajran projek. “Anak akan diberi tugas oleh guru, sesuai dengan umur atau tingkatan kelas masing-masing,” ujarnya.

Baca juga :

190 Anak di Jabar Terkonfirmasi Covid-19

Ketiga, pembelajran melalui Lembar Kerja Siswa (LKS). “Duku LKS menjadi hal yang menakutkan,” sebutnya.

Namun disaat pandemi seperti sekarang, LKS sangat diperlukan. “Lembar-lembar tugas yang sangat sederhana ini tidak boleh diperjual belikan,” Agus menegaskan.

Keempat, melalui metode home visit. Artinya, guru mendatang setiap siswa ke rumahnya, di daerah-daerah tertentu. Seperti Kecamatn Surian dan Jatigede. “Guru akan mengontrol hasil tugas yang dikerjakan para peserta didiknya,” ujar dia.

Kelima, pembelajaran melalui media massa, seperti informasi yang tersebar saat ini. “Sistem luring atau nonton di televisi,” katanya.

Keenam, sistem pembelajaran melalui aplikasi WhatsApp. “Guru-guru kelas kan punya grup WA murid-muridnya. Guru akan memberikan tugas melalui aplikasi tersebut,” katanya.

Ketujuh, melalui penugasan yang berkala. “Guru juga tidak serta merta seenaknya memberikan tugas kepada siswa,” tuturnya.

Disebutkan, ke tujuh sistem pembelajaran tadi, tidak bersifat farsial atau berdiri masing-masing. Melainkan, komplementer atau saling mengisi. “Kalau tidak bisa virtual karena tidak ada jaringan internet, berarti belajar melalui modul dan kalau tidak terjangkau televisi, berarti guru yang harus mendatangi rumah siswa,” paparnya. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 komentar

News Feed