oleh

Forkopimcam Apresiasi Kampung Tohaga di Cipacing

SUMEDANGEKSPRES.COM – Kampung Tohaga Dusun Bojong RW 15 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor, diapresiasi Forkopimcam Jatinangor sebagai daerah ketahanan pangan. Sebab, meski di lahan loteng, mampu menghasilkan puluhan kilogram sayuran dari tanaman hidroponik.

Kebun Hidroponik yang dibangun di atas loteng rumah warga berukuran 6×9 meter itu, hasil ide kreatif pemuda Cipacing dibawah binaan Cipacing Hub. Sebagaimana dikatakan Ketua Cipacing Hub, Hendrik Andiyana kepada Sumeks, kemarin.

“Cipacing Hub itu menaungi beberapa kelompok pemuda dan masa dalam bidang kerajinan tangan, kesenian, lingkungan dan potensi lain. Alhamdulillah berkat binaan kami terbentuklah kebun Hidroponik ini. Meskipun belum terlalu luas hanya 3.000 lubang saja,” katanya.

Sedangkan untuk memenuhi pesanan pasar, minimal 50.000 lubang yang bisa menghasilkan sekitar 1 ton tanaman per bulan. “Kendalanya di modal, memang berkebun hidroponik itu mahal, untuk 3.000 lubang saja, membutuhkan Rp15 juta,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Hendrik, para pemuda yang tergabung dalam kelompok tani hidroponik Melactukasuhunan itu, mampu menghasilkan 20 Kg tanaman hidroponik dalam seminggu.

Jamaludin, 39 dan Rusna Kustiwa, pemuda asal Bojong yang menjadi penggagas kebun hidroponik itu, mengaku memiliki cita-cita yang tinggi untuk memberdayakan pemuda yang nganggur dan efek lockdown. Hal itu, menjadi tekad kuat dia mengeluarkan uang Rp15 juta untuk modal awal.

“Awalnya dari hobi bertani, kemudian karena terhimpit oleh bangunan rumah dan pabrik sehingga lahan pertanian berkurang. Nah jadi ada ide bertani di lahan sempit dengan sistem hidroponik,” ujarnya.

Di lahan berukuran 6×9 meter itu, dia dapat menanam 3.000 lubang tanaman hidroponik, dengan produksi sekitar 10 sampai 20 Kg tanaman (Jenis Kangkung, Pakcoy dan Bayam) per minggu. Dari hasil produksinya itu, mendapatkan Rp600.000 per minggu. Meskipun untuk menutupi permintaan pasar membutuhkan 1 ton per minggu.

“Bertani hidroponik itu sudah dilakukan sejak Oktober 2019. Ya, sambil jalan alhamdulillah sudah menambah lubang (membeli pipa saluran air dan rak dari baja ringan) Sekarang bertambah booming karena lockdown dan tidak ada kegiatan, jadi masyarakat biasa juga banyak yang meniru,” katanya.

Menurutnya, bertani hidroponik itu sangat menguntungkan. Sebab harga jual tanaman hidroponik beda dengan tanaman biasa. Apalagi, jika yang membeli distributor swalayan dan supermarket. Sebab, tanaman hidroponik lebih bersih dan bebas pestisida. Kemudian, rasanya lebih enak dari pada tanaman biasa.

Camat Jatinangor Syarif Effendi Badar mengaku mengapresiasi sekali kiprah para pemuda di Bojong Desa Cipacing yang kreatif memanfaatkan lahan sempit menjadi lahan berjual tinggi. Menurutnya, jika itu dilakukan kompak oleh warga maka akan menghasilkan tonan tanaman hidroponik. Hanya saja, kata camat perlu modal besar untuk membuat sirkulasi lubang hidroponik.  “Insya Allah kita sampaikan ke Pemda, Mudah-mudahan ada anggaran untuk pemberdayaan petani Hidroponik ini,” tandasnya. (imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 komentar

News Feed