oleh

Petani Kopi Dilatih Tingkatkan Pendapatan

SITH ITB Ajarkan Pengemasan dan Pemasaran

SUMEDANGEKSPRES.COM Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan pelatihan Peningkatan Kapasitas Wirausaha Petani Kopi Gunung Geulis dalam rangka meningkatkan pendapatan dengan menerapkan konsep Green Bussines Kopi kepada petani Kopi Gunung Geulis di Sekretariat Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor, Minggu (28/6).

Acara tersebut dibuka oleh Dr. Ir. Yayat Hidayat SHut MSi IPM selaku pembina Forum Komunikasi Gunung Geulis dan sekaligus Tim PPM SITH ITB. Sambutan juga diberikan oleh Ketua Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis, Saepudin.  Acara ini juga dihadiri Kasi Bina Usaha Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Ir. Budi Djatnika MSi.

Materi terdiri tiga modul. Modul Pertama dengan judul Teknik Pengemasan Produk Kopi dibawakan oleh Dr Ir Rijanti Rahayu Maulani SP MSi. Dalam pemaparannya, Rijanti mengatakan ada lima cara pengemasan kopi yang menarik sesuai estetika juga menjaga kualitas kopi agar tetap harum.

Pertama, kemasan Gusset. Kemasan ini aman digunakan untuk membungkus biji kopi atau bubuk kopi karena terbuat dari aluminium foil dan memiliki ketebalan 90 micron yang akan meminimalisir kopi terkena paparan sinar matahari dan oksigen dari luar kemasan. Kemasan ini memiliki sisi yang berbeda, ada yang memiliki dua sisi tertutup dan ada yang satu sisi terbuka bagian atasnya.

Baca juga :

Petugas Cek Protkes Tempat Wisata

Kedua, kemasan standing pouch one way valve. Kemasan ini menggunakan bahan aluminium foil dengan ketebalan 125 mikron yang tahan terhadap paparan sinar matahari. Selain itu juga dilengkapi filter one way valve atau katup satu arah berbahan nylon. Katup ini berfungsi untuk mengeluarkan Co2, pada kopi yang tertahan di dalam kemasan.

Ketiga kemasan kantung kertas Greaseproof. Kemasan ini berlabel food grade yang khusus digunakan untuk kopi. Kemasan ini dapat menyekat atau meresap minyak kopi sehingga dapat menjaga kualitas kopi. Namun kemasan ini hanya digunakan sementara.

Keempat ada kemasan flat bottom pouch. Model kemasan ini merupakan kombinasi dari stand up pouch dan Gusset Pouch. Ide bentuk kemasan ini awalnya muncuk dari ide bagaimana agar kemasan berbentuk gusset ini bisa menggunakan zipper sebagau penutup. Karena kelemahan dari Gusset Pouch ini adalah tidak adanya zipper sehingga dibentuk kemasan model baru bernama Flat Bottom Pouch.

Kelima ada Glass Coffee Conister, atau toples gelas yang banyak digunakan untuk menyimpan biji kopi atau bubuk kopi agar tetap awet. Kemasan ini biasanya digunakan pelaku usaha biji/bubuk kopi, karena terlihat transparan dan berkelas. Sehingga kopi terlihat sangat mahal dan menarik yang akan membuat penasaran penikmat kopi.

Keenam kemasan vakum. Kemasan inj lebih sederhana karena menggunakan plastik yang di press. Dengan cara seperti ini udara tidak bisa masuk karena kemasan kedap udara. Namun tidak cocok untuk mengemas bubuk kopi karena akan membuat bubuk kopi terhirup oleh mesin vakum.

Materi kedua oleh Dr. Mia Rosmiati SP MSi dengan pembahasan Managemen Usaha. Mia memberikan pemahaman mengenai pengertian manajemen, usaha, pemasaran dan manajemn pemasaran. Kelompok tani kopi Gunung Geulis membutuhkan manajemen yang efektif dan efisien mulai dari aspek perencanaan (plan), pengorganisasian (organizing), implementasi (actuiting) dan pengendalian (controlling). “Kelompok ini sudah punya susunan organisasi, namun apakah sudah berfungsi organisasinya? Seringkali suatu organisasi kelompok tani hanya bergantung kepada peran ketuanya saja,” ujarnya.

Lebih jauh Mia menjelaskan bahwa manajemen usaha kelompok tani kopi Gugeuls harus berorientasi bisnis yang menguntungkan agar mampu menggerakan ekonomi anggotanya. Hal penting dalam pemasaran hasil kopi adalah harus menjalin link kerjasama kemitraan dengan pihak lain, misalnya pengusaha kopi yang sudah maju.

Materi (modul) ketiga diberikan setelah ishoma oleh Dr. Rijanti Rahaju Maulani, dengan topik Teknik Pengujian Mutu Kopi. Materi yang dijelaskan meliputi standar mutu biji kopi, faktor-faktor yang mempengaruhi mutu kopi.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis Saepudin sangat mengapresiasi sekali upaya SITH ITB dalam kegiatan ini. Sebab bisa memberikan suport dan semangat kepada petani kopi di Gunung Geulis bisa bergairah lagi dalam bertani dan memasarkannya.

Kebanyakan petani kopi, lanjut Saepudin, bingung dalam hal pengemasan dan pemasarannya. Sehingga, kalau menggunakan pengemasan konvensional (tradisional) membuat harga kopi murah dan jarang dilirik masyarakat.

“Dengan pelatihan pengemasan dan pemasaran kopi dari PPM ITB ini, proses pengemasan lebih menarik dan memiliki daya jual lebih. Produk kopi petani lebih berkelas dan elegan. Mudah-mudahan bisa mengangkat harga kopi dan bisa menggairahkan petani kopi khususnya di Gunung Geulis,” katanya.

Menurut Saepudin kopi 60 persen kuncinya ada di petani, dan sisanya faktor eksternal. Jika petani benar-benar dalam mengelola dan mengolah kopi dari awal sampai akhir, maka kualitas kopi akan terjamin dan sesuai dengan standar kopi khas Indonesia.

Saepudin mengingingan proses pemasaran dibantu sebaik-baiknya oleh pihak ITB dan dilakukan dalam satu pintu. Sebab, yang sulit dalam bisnis kopi adalah pemasarannya. Sehingga, jika pemasaran kopi terhubung dalam satu pintu akan menjaga keseimbangan harga dan menekan adanya tumpang tindih dalam harga kopi di pasaran. “Jadi yang penting budi daya juga konservasi. Lahan produktif tetapi tetap menjaga lingkungan agar tetap lestari,” tandasnya. (imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed