oleh

Hasil Lab, Kadar Virus Sangat Tinggi

SUMEDANGEKSPRES.COM – Pemerintah dinilai kecolongan dalam mengawasi warga suspect Covid 19. Seharusnya, dilakukan pemantauan selama 24 jam kepada warga yang sudah dilakukan swab test.

Hal itu, diungkapkan Solehuddin, salah satu warga masyarakat di Kabupaten Sumedang. “Jika orang sudah dilakukan rapid test terlebih swab test, harusnya dipantau pergerakannya, sampai hasil tes lab itu benar-benar akurat. Di sinilah pentingnya koordinasi aparat kewilayahan mulai dari tingkat pemerintahan kabupaten hingga RT/RW,” ujar dia kepada Sumeks, kemarin.

Baca juga :

Seorang Jamaah Positif Covid, Masjid Langsung Ditutup

Jika membaca berita hari ini, kata dia, justru pasien positif Covid 19 ini, bisa bebas beraktivitas di luar rumah. “Ini harus jadi pembelajaran bagi pemerintah. Meski sekarang Sumedang sudah masuk zona biru, bukan berarti pengawasan dan protokol kesehatan diabaikan,” ketus dia.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Sumedang Iwa Kuswaeri mengakui, pasien baru Covid-19 inisial MA, tidak mematuhi protokol kesehatan. Padahal, usai melakukan swab test pada 2 Juli 2020 lalu, seharusnya dia melaksanakan isolasi mandiri sampai hasil swab keluar.

Oleh karena itu, Iwa menyayangkan adanya kejadian tersebut. Sehingga berdampak kepada adanya sejumlah warga yang harus ikut di-swab test.

“Yang bersangkutan sudah diberitahu untuk melakukan isolasi mandiri. Tapi tanpa sepengetahuan, yang bersangkutan malah keluar. Jadi memang yang bersangkutan ini bandel,” ujarnya kepada Sumeks.

Iwa juga menjelaskan, agar tidak sampai terjadi hal serupa, merupakan tanggung jawab bersama dalam melakukan pencegahan. Salah satunya dengan melaksanakan protokol kesehatan sesuai yang dianjurkan pemerintah.

“Kami sering melakukan sosialisasi di lapangan. Tapi ini merupakan tanggung jawab bersama juga. Masyarakat harus paham juga, bahaya dari wabah ini,” paparnya.

Bahkan, lanjut Iwa, pasien asal Sumedang Selatan ini, memiliki hasil lab yang tinggi dibandingkan dengan pasien-pasien sebelumnya.

“Hasil lab-nya tinggi dari pasien yang lain, ini harus diwaspadai sejumlah pihak,” sebut Iwa.

Dari kejadian tersebut, sedikitnya ada 12 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien, langsung di-tracking oleh Dinas Kesehatan Sumedang.

“Jadi, ada tujuh orang dari Sumedang, tiga orang dari Depok dan dua orang dari Bandung,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dusun I Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan Dodi Firmansyah menilai, pasien pemuda berusia 20 tahun tersebut, dikenal taat dalam beragama.

Bahkan, dia dikenal aktif mengikuti pengajian di sejumlah daerah. Salah satunya adalah majelis taklim dari ustadz Yoyo asal Tanjungkerta.

“Jadi, kemarin itu posisinya pasien dan Ustad Yoyo sengaja ke Sukajaya, untuk silaturahmi dengan salah satu rekannya di sini. Dan yang bersangkutan juga melaksanakan salat ashar berjamaah di Masjid Nurul Hidayah,” terangnya.

Namun sayang, akibat kejadian tersebut, tiga warga Sukajaya yang salat berjamaah dengan pemuda tersebut, tidak menerangkan jika sedang dalam proses swab test.

Hal itu untuk mengantisipasi adanya penyebaran Covid-19 dilingkungan Desa Sukajaya. “Saat ini, warga juga kondisinya jadi takut virus itu nyebar di wilayah sekitar,” sebutnya.

Oleh sebab itu, warga pun berharap, pemerintah agar segera menangani kejadian tersebut. Sehingga dapat memutus mata rantai penyebaran virus korona asal Wuhan, China itu.

“Kalau masjid sudah disterilkan, bahkan sementara waktu tidak akan digunakan,” tuturnya.

Diketahui, pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 ini, telah melakukan cukup banyak perjalanan. Di antaranya, melakukan perjalanan ke Tasikmalaya selama satu hari.

Sepulang dari Tasikmalaya, pasien pun merasakan sesak, batuk dan demam serta pegal-pegal. Hingga akhirnya dilakukan swab test secara mandiri.

Data terakhir yang dihimpun Sumedang Ekspres, dari 3 pasien positif Covid-19, kini menjadi 2 orang. Setelah masuknya satu pasien dari Kecamatan Sumedang Selatan, satu pasien asal Kecamatan Tomo sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. (bay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed