oleh

Tiga Proyek Besar Gagal Tender

Lelang Ulang Dijadwalkan Hari Ini

SUMEDANGEKSPRES.COM – Dua dari tiga paket proyek pengembangan waduk Jatigede, dinyatakan gagal lelang. Kedua paket tersebut yakni area take off paralayang dan kawasan Buricak burinong.

“Hanya satu yang ada pemenangnya, yaitu area lending,”  kata Kasubag Pengembangan SDM pada Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (LPBJ) Setda Kabupaten Sumedang, Didi Sumarna saat ditemui Sumeks di ruang kerjanya, Kamis (16/7).

Didi mengatakan, para kontraktor penawar yang ikut lelang itu dinyatakan gugur, lantaran tidak lulus saat dilakukan evaluasi. “Kami belum bisa membuka, apa saja yang menyebabkan mereka (kontraktor, red)  gugur dalam proses lelang ini,” ujarnya.

Baca juga :
Deadline Kontraktor Tinggal Dua Minggu Lagi

Sementara  proyek area lending yang ditawar tiga kontraktor,  sedang dalam tahap pembuktian kualifikasi.

“Hari ini pembuktian kualifikasi tahap akhir dan nanti akan diketahui pemenangnya. Sampai dengan pengumuman, hasil evaluasi masih bersifat rahasia,” kata Didi menjelaskan.

Sementara untuk lelang ulang kedua proyek tersebut, dijadwalkan pada hari Jumat 17 Juli 2020.

Selain kawasan take off paralayang dan Buricak burinong, gagal lelang juga dialami proyek pembangunan Gedung Creative Centre, yang bernilai kontrak Rp14.1 Miliar itu.

“Ini sudah ditender ulang dan dijadwal ulang, sejak 15 Juli 2020,” katanya.

Pihaknya  memberikan waktu selama empat belas hari untuk proses lelang ulang itu. “Kalau tidak ada halangan, pemenangnya akan kita umumkan pada tanggal 29 Juli 2020,” ujarnya.

Disebutkan, sejak diumumkannya lelang ulang, laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sudah diminati 13 pendaftar.

“Ini masih akan bertambah hingga batas waktu yang ditentukan,” katanya.

Secara umum, Didi menyebutkan empat kriteria perusahaan yang layak ikut lelang proyek. Antara lain administrasi, teknis, kualifikasi dan harga.

“Setiap kriteria itu ada tahapan – tahapan tertentu yang mesti dipenuhi,” katanya.

Masalah administrasi, panitia lelang akan melihat surat penawaran serta jaminan penawaran kalau memang ada.

“Untuk teknis ada beberapa hal yang harus dipenuhi, yakni masalah manajerial, peralatan, Rencana Keselamatan Kerja (RKK) dan persyaratan lain,” katanya.

Sedangkan untuk kualifikasi, berbicara masalah legalitas perusahaan, pengalaman, kemampuan dasar serta laporan keuangan.

Terakhir masalah harga. Setelah lulus tahapan evaluasi, panitia lelang akan memeriksa  masalah harga.   “Jika harga kurang dari 80 persen, maka Pokja wajib melakukan klarifikasi kewajaran harga,” ucapnya.

Didi mencontohkan  pagu anggaran sebesar Rp 1 Miliar, salah satu perusahaan menawar Rp 870 Juta. Artinya, yang bersangkutan menawar 87persen.  “Itu harus diklarifikasi kewajaran harganya,” terang Didi.

Kalau memang wajar, maka akan diteruskan dengan jaminan pelaksanaan dinaikan sebesar 5 persen dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS). “Tetapi kalau tidak wajar, itu bisa digugurkan,” katanya.

Sebaliknya jika penawaran di atas 80 persen, maka tidak diwajibkan melakukan klarifikasi penawaran.

Setelah semua tahapan dilakukan, maka Pokja melakukan klarifikasi ke instansi tertentu, mengenai keabsahan dokumen yang dimiliki perusahaan tersebut.  “Yang bersangkutan harus bisa menunjukan dokumen asli perusahaan,” katanya. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed