oleh

Wisata Buka, Sekolah Masih Tutup

SUMEDANGEKSPRES.COM – Meski masuk zona biru, namun Kabupaten Sumedang belum membuka tatap muka belajar mengajar bagi siswa. Sebab, Pemkab Sumedang hawatir kecolongan bertambahnya kasus Covid-19. Meskipun demikian, beberapa tempat hiburan/wisata dan mal sudah dibuka. Bahkan kolam renang yang notabene paling rentan penyebaran virus Covid-19 diperbolehkan buka.

Pengamat pendidikan yang juga anggota komite sekolah, Nurdin Sobari Soleh mengatakan, jika keputusan pemerintah menutup sekolah dan membiarkan tempat kerumunan orang buka, jelas diskriminasi terhadap dunia pendidikan. Sebab, meski KBM dilakukan secara daring, namun memberatkan orang tua siswa.

“Sekarang itunganya gini, jika sekolah normal per hari hanya dikasih ongkos Rp20.000, sekarang memasuki belajar daring, beli kuota bisa sampai Rp50. 000 perhari. Belum apakah siswa mengerti dengan pelajaran apa tidak,” katanya.

Tak hanya itu, siswa juga tetap dibebani dengan tugas tugas sekolah yang menumpuk dan harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Karena dikerjakan di rumah, jelas mengganggu waktu bersama keluarga. “Belajar daring itu menambah beban orang tua siswa. Belum ongkos buat beli kuota, pekerjaan rumah yang acak acakan, dan orang tua juga harus membimbing anak anaknya. Lalu tugas sekolah apa,” katanya.

Yang menarik, kata Nurdin, bayaran SPP sekolah tidak diliburkan meskipun tidak ada pertemuan tatap muka, dan operasional sekolah. Seperti pembelian kapur, spidol, bayar listrik sekolah, air, dan lain lain. Sementara, aktivitas anak didik lebih banyak di rumah.

“Kalau Pemkab mau memutus mata rantai Covid-19, ya tutup semua fasilitas umum, jangan kendor. Masa tempat wisata dibuka, sekolah tidak. Meskipun harus sekolah, ya bisa menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Atau setidaknya, lanjut Nurdin, guru yang harus jemput bola melakukan home visit ke rumah siswa. Teknisnya, setiap siswa dibagi kelompok belajar, nah guru yang datang ke rumah siswa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. “Semisal, dijadwalkan, hari ini guru pergi ke tiga kelompok belajar. Besoknya, ke kelompok belajar lain. Kan bisa sosial distancing dan jangan sun tangan,” katanya.

Dirinya pun melihat, ada kawasan wisata yang terlihat kerumunan bahkan social distancing tidak dipakai. Acaranya pun botram (makan bersama) di tempat wisata. “Bagaimana juga dengan kolam renang, mal, pantai, pasar. Kan lebih banyak massanya. Masa sekolah yang bisa diatur sedemikian rupa, tidak boleh buka,” katanya.

Dia khawatir, dengan belajar secara daring, akan membuat siswa individuallis dan matanya rusak akibat terus terusan menggunakan hape. Termasuk, membentuk generasi muda yang ketergantungan dengan gadget, tanpa memerhatikan dunia sosialnya. (imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 komentar

  1. Game dengan penghasilan terbesar,
    Game dengan sensasi yang luar biasa,
    Kekayaan menanti anda…..
    Daftarkan diri anda dan bergabunglah,
    Hanya di dupa88

News Feed