oleh

Manajemen Buruk PDAM Berdampak ke Pelayanan

Warga: Kalau Tidak Kurang Air, Pasti Perbaikan Saluran PDAM Sumedang

SUMEDANGEKSPRES.COM – Sorotan anggota DPRD Sumedang terhadap buruknya menajemen Perumda Tirta Medal (dulu PDAM), tidaklah berlebihan. Pasalnya, dampak negatifnya, dialami pula oleh masyarakat pelanggan air bersih tersebut.

Sejumlah warga Sumedang, mengeluhkan buruknya pelayanan PDAM Tirta Medal yang jauh dari kata memuaskan. Ironisnya, tak pernah ada upaya perubahan, kendati pengaduan dilontarkan pelanggan hampir setiap hari.

“Benar-benar mengecewakan PDAM ini,” kata Enceng Agus Wiharja yang tinggal di Lingkungan Angkrek Kelurahan Situ Sumedang Utara, ketika diminta testimoni terkait pelayanan PDAM, Selasa (28/7).

Dikatakan, alasan klasik acap kali dilontarkan pihak PDAM, mana kala dia mengadukan keluhannya. “Kalau bukan debit air berkurang, pasti ada perbaikan saluran,” kata Enceng yang  sudah 10 tahun menjadi pelanggan PDAM itu.

Bahkan menurutnya, sekalinya datang air, bercampur lumpur. “Aneh kan, bukannya air kotor menjadi bening, ini mah air yang tadinya bening, saat datang ke rumah malah menjadi kotor dan berlumpur,” tuturnya.

Baca juga :
PAD PDAM Minim, Pengeluaran Boros

Padahal sumber air perusahaan tersebut, kata dia, memanfaatkan beberapa sumber mata air dari Cimalaka, Cipongkor dan Ciherang yang memang jernih. “Ujung-ujungnya, tukang kontrol meteran yang sering saya omelin, karena keluhan saya tidak pernah ditanggapi perusahaan,” katanya.

Selain itu, sistem penggiliran air pun dinilai tidak adil. Pasalnya, durasi waktu yang diberikan ke lingkungan Angkrek, jauh lebih sedikit daripada waktu yang diberikan ke Lingkungan Dano. “Di Agkrek jatahnya malam. Sedangkan air baru nyala mulai jam 23.00 hingga jam 4 atau jam 5 pagi,” katanya.

Kata dia, selalu ada perlakuan berbeda antara Angkrek dengan Dano. “Apakah di Dano banyak  pejabatnya? kan di Angkrek juga banyak rumah pejabat,” keluhnya.

Hal senada diungkapkan Hepi TS, 39, yang tinggal di Lingkungan Angkrek Teladan RT 1 RW 16 Sumedang Utara. Dia sudah berhenti berlangganan air dari PDAM, lantaran pelayanan yang buruk. “Saya sudah berhenti langganan sejak Tahun 2019 dan sekarang menggunakan air tanah,” katanya.

Namun meskipun sudah tidak berlangganan,  tagihan sebesar Rp 50 ribu tetap berjalan. “Tagihan air dibayar kantor melalui pemotongan gaji,” ujarnya.

Baca juga :
Overload Karyawan, Simalakama PDAM

Selain Enceng dan Hepi, masih ada ribuan pelanggan PDAM yang merasakan buruknya pelayanan. Mereka berharap, pemerintah turun tangan untuk memperbaiki masalah itu. Lantaran sebagai pelanggan, mereka memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan bermutu.

Sebelumnya, pelayanan yang buruk ini mendapat sorotan Anggota DPRD Sumedang Rahmat Juliadi. Dia menilai, pelayan buruk kepada masyarakat berpangkal dari manajemen PDAM yang tidak sehat. Penilaian buruk masyarakat terhadap PDAM ini, kata dia, disebabkan pula kekurangmampuan PDAM melakukan pelayanan kepada masyarakat.

Anggota DPRD lainnya, H Deden Yayan mengatakan, lebih dari 30 persen debit air berkurang, akibat kebocoran pipa Sambungan Langsung (SL) ke rumah pelanggan. “Karenan kebocoran pipa, maka yang dirugikan adalah konsumen. Make cai jadi saeutik (memanfaatkan air hanya sedikit),” ujarnya.

Termasuk meteran pengontrol, yang acap kali error. “Meteran harus diganti juga, masa hanya dengan keluar angin saja, meteran bergerak sendiri. Sementara airnya tak ada, kan ini yang jadi perbincangan di masyarakat,” paparnya. (nur/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

News Feed