oleh

Semenjak Covid, Harga Cengkih Merosot

Tahun Lalu Rp 100 Ribu, Kini Rp 55  Ribu Perkilo

SUMEDANGEKSPRES.COM, WADO – Harga bunga cengkih pada musim panen tahun ini turun drastis. Seperti  diakui para petani cengkih di Dusun Ganjartemu Desa Ganjaresik Kecamatan Wado. Mereka mengaku, turunnya harga bunga cengkih terjadi sejak adanya pandemi covid-19.

Pada musim panen cengkih tahun ini yang jatuh pada bulan Juni, bunga cengkih dalam kondisi kering hanya dibeli bandar dengan harga Rp 55 ribu/kg. Padahal pada musim panen tahun lalu, harga bunga cengkih kering berkisar antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu perkilogram.

“Harga (cengkih) tahun ini anjlok. Bandar hanya berani menaksir harga Rp 55 ribu/kg. Jauh dari harga tahun lalu,” ujar petani cengkih, Ade Juanda, 65, belum lama ini.

Ade menyebutkan, kemungkinan turunnya harga, ada hubungannya dengan pandemi covid-19. Karena sebelum adanya pandemi pada akhir Tahun 2019 saja, harga masih tinggi. “Sekarang sudah memasuki bulan Agustus harga tetap saja Rp 55 ribu per kg. Tapi alhmadulillah penjualan cengkih tetap lancar,” katanya.

Komoditas cengkih asal Ganjaresik,  tambah Ade, biasanya dibeli bandar dari Sumedang dan Garut. Baik bandar dari Sumedang maupun Garut, memberikan harga yang sama. Ade pun menggambarkan, musim panen cengkih sudah mulai dari bulan Juni hingga September. Saat ini di kawasan perkebunan Ganjartemu terdapat 50 hektare kebun cengkih.

Dari luas satu hektare, rata-rata terdapat 100 pohon cengkih. Kata Ade, dari satu pohon cengkih dengan usia 20 tahun, dapat menghasilkan sekitar 20-25 kg cengkih kering. Dan dari komoditas cengkih, sangat membantu perekonomaim warga atau petani di Ganjartemu. “Karena dari satu pohon cengkih saja petani bisa memperoleh penghasilan kurang dari Rp 4 juta permusim,” ucap Ade. (eri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed