oleh

Pragmatisme Politik Dilarang dalam Agama

Sa’dulloh: Kedepankan Kepentingan Masyarakat

SUMEDANGESKPRES.COM – Politik dalam agama Islam, adalah seni untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional. Tentunya, dengan menitikberatkan pada etika dan akhlak agama sesuai ajaran Alquran dan Sunnah Nabi SAW.

Hal itu disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Al Hikammussalafiyah, KH Sa’dulloh saat mengawali perbincangannya dengan Sumedang Ekspres, Jumat (1/8). “Politik harus mengedepankan kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan,” ujar Sa’dulloh.

Baca Juga :
Emil Tinjau Penerapan Protkes Pondok Pesantren

Dia menjelaskan, tujuan politik tentunya untuk meraih kekuasaan. Kekuasaan yang didapat kemudian dipergunakan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat. “Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengerti kebutuhan dan keinginan masyarakat. Dia selalu mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan diri dan keluarganya,” jelasnya.

Terkait pragmatisme, Sadulloh menuturkan, pragmatisme sangat dilarang oleh agama. Pragmatisme sama saja dengan suap (risywah). Penyuap dan yang menerima suap sama-sama diancam neraka jahannam oleh Allah SWT.

Baca juga :
Kadar Pragmatisme di Kabupaten Sumedang Tinggi

Dituturkan, saat ini pragmatisme sudah dianggap lumrah. Bahkan dianggap sebuah keharusan dalam dunia politik Indonesia. Sebuah perbuatan dosa kalau dilakukan terus menerus apalagi berjamaah, maka akan menjadi sesuatu yang dianggap benar.

“Bahayanya, kalau pragmatisme politik ini terus berlangsung maka akan menghasilkan kepemimpinan yang tdk baik. Imbasnya, tentu pada kerusakan moral masyarakat dan rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat,” pungkasnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed