oleh

Menjadi Buruh Tani, Karhani Kesulitan Nafkahi Keluarga

SUMEDANGESKPRES.COM , CONGGEANG – Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, pasangan Karhani (52) dan Salamah (46), harus rela berpindah pindah tempat tinggal (nomaden). Kali ini, pasangan Karhani dan Salamah beserta dua anaknya menempati perumahan OTD Jatigede di Blok Tanggulun Desa Conggeang Kulon Kecamatan Conggeang.

Pasangan Karhani dan Salamah juga tidak hanya sendiri, mereka ditemani tetangganya Ruminta (68), yang menempati rumah di samping tempat tinggalnya saat ini.

Sebelumnya, Karhani dan keluarganya menempati perumahan translok relokasi bencana Ciumpleng di Puncak Cempaka Desa Linggajaya Kecamatan Cisitu. 

Baca juga :
Dewan Soroti Bantuan UMKM

“Kami tinggal di sana kurang lebih selama lima tahun. Namun karena sulit untuk mecari nafkah sebagai buruh tani, kami pun berpindah ke sini dengan harapan dapat mencari nafkah,” ujar Karhani saat ditemui Sumeks, Minggu (6/9).

Karhani menuturkan, selama tinggal di perumahan translok Puncak Cempaka, tanah garapan dan pekerjaan sebagai buruh tani sangatlah sulit didapatkan. Dirinya beserta keluarga terlunta-lunta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Terkadang, tidak mendapatkan apa-apa.

“Saya tidak bisa menceritakan ketika tinggal di sana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja sangat sulit,” ujarnya.

Karhani menjelaskan, dirinya sudah tinggal perumahan OTD Jatigede Blok Tanggulun Conggeang, selama 10 hari. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarga, dia dan istrinya harus menjadi buruh tani.

“Alhamdulillah selalu ada pekerjaan dari warga sekitar. Seperti mencangkul, mengangkut benih padi atau apapun terpenting bisa mendapatkan makan untuk anak istri saya. Saya juga sudah banyak ditawari untuk mengerjakan sawah ataupun memelihara ternak penduduk,” jelasnya.

Dijelaskan, kalau tidak pekerjaan sebagai buruh tani, dirinya mengisi kegiatan sehari hari dengan membersihkan lingkungan sekitar perumahan OTD Jatigede ini. “Mungkin saat musim hujan nanti, kami bisa bercocok tanam palawija di sekitar perumahan untuk menambah penghasilan,” jelasnya.

Pantauan Sumeks di lokasi, perumahan OTD Jatigede merupakan perumahan yang terbengkalai dan tidak ditempati selama bertahun tahun. Perumahan tersebut, tanpa fasilitas air bersih dan penerangan. Kebanyakan rumah di perumahan OTD tersebut mengalami kerusakan berat. Bahkan, beberapa rumah hampir mengalami ambruk.

“Untuk penerangan apabila malam menjelang, kami sekeluarga menggunakan lilin dan batre. Kalau habis batre dan lilin ya bergelap gelapan,” ujar Salamah, istri Karhani.

Namun, kata Salamah, dirinya beserta keluarga, saat berpindah ke Perumahan OTD Jatigede di Blok Tanggulun mempunyai secercah harapan. Minimalnya, dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.

“Kami tidak ingin memiliki rumah ini, kami hanya ingin mencari penghidupan bagi keluarga kami agar dapat hidup dan makan,” jelasnya.

Meski baru tinggal 10 hari di Perum OTD Jatigede Blok Tanggulun, kata dia, pemerintah dan warga sekitar cukup baik dan ramah pada keluarganya. Mereka juga merasa iba melihat keadaannya.

“Mereka banyak menawarkan pekerjaan. Alhamdulillah, kami tinggal di sini baru beberapa hari sudah mendapatkan pengakuan,” pungkasnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed