oleh

Gunung Tampomas Babak Belur

Janji Pemerintah Tutup TPA Belum Terealisasi

SUMEDANGESKPRES.COM – Keberadaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di kaki Gunung Tampomas, tepatnya di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, menjadi momok menakutkan bagi warga sekitar.

Terlebih, keindahan alam gunung tertinggi di Kabupaten Sumedang tersebut, menjadi tenggelam oleh gunungan sampah yang jumlahnya hingga berton-ton.

Kondisi tersebut, menjadi perhatian sejumlah pihak, salah satunya adalah Aktivis Lingkungan Kabupaten Sumedang Jibriel Firman.

Sosok pemuda tersebut, mengaku miris dengan keberadaan TPA yang letaknya lebih tinggi dari pemukiman warga sekitar. Bahkan, lebih mirisnya lagi, karena menurutnya, pejabat di Kabupaten Sumedang sendiri tidak tahu asal usul dari keberadaan TPA tersebut.

“Tidak ada semacam grand design atau perencanaan waktu Tampomas dijadikan TPA. Itu menurut keterangan kabid Bidang Persampahan LH pada 2019 lalu. Sedangkan pemerintah itu kan perencana. Tapi, setelah kejadian tidak tahu,” ujarnya saat ditemui Sumeks, Senin (7/9).

Jibriel mengatakan, pemerintah sempat berjanji menutup operasi dari TPA yang berada di Gunung Tampomas. Kemudian, akan dipindahkan ke wilayah Cijeruk di awal 2020 ini. 

“Kenyataanya hingga sekarang masih beroperasi dan belum dinormalisasi,” sebutnya.

Padahal, dengan lokasi yang lebih tinggi dari pemukiman, dapat menimbulkan dampak yang tidak baik bagi lingkungan sekitar. Baik itu manusia, maupun makhluk hidup lainnya.

“Kalau bicara dampak, secara ekologi itu bisa menimbulkan pencemaran air hingga rawan longsor. Kemudian diperparah dengan adanya pembakaran secara terbuka di sana,” terangnya.

Menurut Jibriel, akibat dari pembakaran sampah dengan volume besar tersebut, dapat menimbulkan bahaya. Bahkan hingga mengancam nyawa manusia.

“Ini pengelolaanya sangat buruk. Karena dibakar begitu saja tanpa ada alat apapun. Apalagi jika sampah plastik terbakar, dia bersifat karsinogenik. Dampaknya bisa memicu kanker bahkan kematian jika terhirup langsung oleh manusia. Mau berbicara sama profesor manapun juga pasti akan berbicara seperti itu,” paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut Jibriel, beberapa masyarakat Desa Cibeureum Wetan dan Kulon yang berdekatan dengan TPA tersebut, sangat menyayangkan dengan kondisi tersebut. Bahkan, para pemuda setempat pun sempat melakukan himbauan kepada petugas di lapangan.

“Karena kecemasan masyarakat di sana kembali naik,” ungkapnya.

Tak hanya sampah, kata Jibriel lagi, keberadaan Galian C pun turut membuat kondisi Tampomas seolah babak belur. Sehingga, dirinya menyarankan agar pemerintah selektif dalam mengeluarkan izin galian.

“Kalau dibilang babak belur memang babak belur. Tetapi kita juga bijaksana ketika tambang itu legal, prosedur dijalankan dan pasca tambang dijalankan saya rasa bakal ada harapan baru. Tapi jika terjadi sebaliknya, hanya akan memperparah kondisi saat ini di Gunung Tampomas,” terangnya.

Sementara itu, untuk mengatasi permasalahan sampah, Jibriel menyarankan agar tumpukan sampah tersebut tidak dibakar. Melainkan dikubur atau dikembalikan kepada media tanah.

“Kabupaten kota di Indonesia saya rasa minimal seperti itu. Namun, nampaknya karena pengawasan dan tidak ada keseriusan dari pemkab tentang TPA, ya akhirnya seperti itu. Tapi kami akan memantau perkembangan daripada kebijakan zonasi yang ada di Gunung Tampomas,” tuturnya. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

News Feed