oleh

Irigasi Nagrog Tak Kunjung Diperbaiki

Selama 20 Tahun, Petani Dibayang-bayangi Kecemasan

SUMEDANGEKSPRES.COM – Akibat irigasi Nagrog tak berfungsi secara optimal, ratusan hektare lahan sawah menjadi tak produktif. Imbasnya, ribuan petani kehilangan mata pencaharian.

Tokoh masyarkat Desa Mekar Jaya Kecamatan Sumedang Utara, Ede Sopandi menyebutkan, sebelumnya saluran Irigasi Nagrog diproyeksi bisa mengairi 384 Hektare lahan sawah di tiga wilayah kecamatan, yakni Sumedang Utara, Rancakalong dan Kecamatan Tanjungkerta.

“Dari tiga kecamatan itu, ada lima desa yang terairi saluran Irigasi Nagrog, yaitu Desa Sukamaju, Margamukti, Mekarjaya, Gunturmekar serta Desa Jatimulya,” katanya kepada Sumeks, Selasa (8/9).

Namun, sejak diperbaiki akibat mengalami retak-retak sekitar 1998 silam, aliran irigasi menjadi tidak berfungsi secara optimal. “Saat itu, kami bersama masyarakat lainnya berupaya secara swadaya memperbaiki saluran dengan cara menambal retakan itu, namun tidak berhasil, bahkan kebocoran semakin besar,” ujarnya.

Akhirnya, dia bersama kelompok tani, mengadukan keadaan tersebut kepada DPRD Sumedang. “Pengaduan kami ada tanggapan, dengan datang bantuan dari pemerintah sekitar 1999-2000. Irigasi diperbaiki dengan cara dibeton,” ucapnya.

Namun, hasilnya tidak pernah termanfaatkan sama sekali, karena sebelum dipakai, beton sudah ambrol tergerus longsor. “Dari situ, saluran irigasi diganti dengan pipa paralon ukuran besar. Namun tidak maksimal, karena sering mampet akibat kemasukan lumpur,” katanya.

Bahkan paralon sepanjang 150 meter itu pun sudah tiga kali diganti tapi hasilnya tetap sama, dari 384 hektare lahan sawah, hanya sekitar dua hektare saja yang bisa terairi.

“Andai saja kalau menggunakan talang terbuka seperti di Joglo, mungkin tidak akan mampet, karena kita bisa mengontrol mana kala air tersumbat dan air pun akan akan maksimal,” katanya.

Disebutkan, akibat tidak bisa diairi, lahan sawah seluas itu akhirnya beralih fungsi menjadi lahan kering. Paling bisa ditanami palawija atau pohon kayu. “Kami sudah merasa frustasi, karena bukan setahun dua tahun. sejak tahun 2000-an kami sudah seperti ini,” katanya.

Sementara tanaman palawija tidak bisa jadi andalan sumber penghasilan. “Untung-untungan saja, kalau kejadian, ya kami bisa memakan hasilnya, kalau tidak kejadian, apa boleh buat,” tuturnya.

Senada dikatakan Endang, 50, pemilik sawah di Blok Sawah Buah Desa Mekarjaya. Sejak hancurnya Irigasi Nagrog, dia nyaris kehilangan mata pencaharian.

Sebab, yang tadinya bisa mengolah sawahnya tiga kali dalam setahun, kini terpaksa harus menunggu musim penghujan, itu pun untung-untungan. “Seuseur na mah cilaka weh pak miceunan modal (lebih banyak celakanya pak, buang-buang modal saja),” ujarnya.

Namun sebagai petani sejati, Endang selalu menaruh harapan besar untuk meraup keuntungan setiap kali musim hujan tiba, kendati kerugian acap kali membayang-bayangi hidupnya. “Kumaha deui atuh pak, tatanen mah tos padamelan abdi, dikeureuyeuh weh (Mau bagaimana lagi, bercocok tanam sudah mata pencaharian saya, ya dijalani saja),” keluhnya.

Selain Ede dan Endang, masih terdapat ribuan petani lain yang menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam padi dan kini mereka harus kehilangan mata pencaharian sejak 20 tahun silam.

Sementara Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang yang membidangi masalah itu, menjawab tidak tahu+menahu persoalan tersebut, dengan dalih  baru beberapa hari menjabat. “Kirang apal, abdi mah enggal pak,” kata Seksi Pengelolaan Lahan dan Air Bidang Sumber Daya Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang Cucu Ditamiharja, SP ketika dihubungi Sumeks via telepon. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed