oleh

Harusnya Terapi Perilaku, Bukan Hukuman

SUMEDANGESKPRES.COM – Niat seorang ibu membuat terapi anaknya yang diduga autis berujung masalah. “Kecanduan” anak terhadap bendera merah putih, membuat ibunya pusing. 

Niat menyembuhkan sang anak agar tidak selalu membawa-bawa bendera, malah membuatnya harus berurusan dengan kepolisian. Penyebabnya, si ibu justru merusak bendera di depan sang anak, bertujuan si anak tidak lagi membawa bendera hingga ke tempat tidur ataupun kemana dia pergi.

Seorang psikolog asal Kabupaten Sumedang Ayuna Haziza S.Psi Psikolog mengatakan, cara yang dipakai sekelompok ibu tersebut sangat tidak efektif. 

“Kalau melihat dari karakteristiknya, secara sekilas terlihat bahwa anak memiliki kebutuhan khusus yang termasuk dalam golongan autisme. Memang salah satu karakteristiknya adalah mengalami preokupasi pada benda tertentu. Dalam hal ini, anak sangat tertarik pada bendera. Cara yang dipakai pelaku untuk memisahkan anak dengan benda kesukaannya (baca: bendera) sangat tidak efektif,” ujar Ayuna saat dihubungi Sumekes, 

Dari sisi ilmu psikologi, kata dia, perilaku yang tidak baik dilakukan di depan anak akan menimbulkan efek jangka panjang yang juga tidak baik. Anak dapat terluka hatinya, merasa tidak dimengerti, tidak dipahami, tidak disayang dan sebagainya. 

Selain dapat menimbulkan trauma, anak juga akan menjadi lebih emosional, kurang memiliki empati dan bahkan dapat meniru perilaku tidak baik itu.

“Anak ini mungkin saja tidak lagi bermain dengan bendera, tetapi dia bisa mengalihkan ke benda lain. Karena, karakteristiknya memang seperti itu. Kalau orang tua tidak paham, hal ini akan terus berulang,” tandasnya.

Disebutkan, kemungkinan anak dalam kasus ini mengalami autis. Mereka akan sangat tertarik dengan benda benda tertentu dan akan sangat sulit dipisahkan. 

“Jadi kalau anak ini tertarik dengan bendera, kemana manapun dia akan selalu membawa benderanya. Jadi, sekali lagi, cara ibu untuk memisahkan anak dengan benda kesukaannya ini sangat tidak efektif,” tandasnya.

Ayuna menuturkan, untuk solusi terbaik ibu dan keluarganya harus paham dulu apa yang terjadi dengan anak dan apa kebutuhan khususnya. Karena, masing masing kebutuhan khusus memiliki perlakuan yang berbeda beda. 

“Intinya, anak yang berkebutuhan khusus itu memerlukan penanganan yang khusus pula. Anak yang berkebutuhan khusus membutuhkan layanan yang spesifik yang tidak sama dengan anak anak pada umumnya,” jelasnya.

Dijelaskan, anak anak berkebutuhan khusus ini, seperti autis, ADHD ataupun disabilitas fisik seperti tuna netra, tuna wicara tuna rungu dan lain sebagainya membutuhkan orang tua, keluarga atau pendamping yang sangat penyayang dan tangguh untuk mendampingi dia supaya bisa berkembang secara optimal.

“Jadi, solusi yang pertama orang tua atau keluarga terdekat harus tahu dulu jenis kebutuhan anak untuk kemudian bisa memberikan treatment yang tepat bagi anak,” tukasnya. 

Terkait dengan kasus ini, kata dia, anak yang suka dengan bendera atau terus bermain dengan bendera, sebenarnya bisa diterapi.  Anak bisa mendapatkan  terapi perilaku. 

“Kita akan berusaha untuk mengurangi perilaku yang berlebihan dan memunculkan perilaku yang kurang,” jelasnya. 

Menurutnya, dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak memberikan respon yang benar sesuai dengan instruksi yg diberikan. Tidak ada hukuman dalam terapi ini. 

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan perilaku positif anak dan mengurangi munculnya respon negatif. Harapannya pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan dan perilaku yang sewajarnya, akan meningkat.  Semua bisa terjadi bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten sejak anak masih berusia dini,” pungkasnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed