oleh

Miris, Puluhan Tahun Hidup Dibawah Sutet

Tidak Ada Kompensasi, Setiap Hari Dihantui Gemuruh

SUMEDANGEKSPRES.COM, JATINANGOR – Malang nian nasib Ibu Ade (60) dan suaminya Didi Sukardi, warga Dusun Margamekar RT 03 RW 12 Desa Hegarmanah Kecamatan Jatinangor ini hidup dibawah tengangan listrik ekstra tinggi (Sutet). Tidak hanya mengancam keselamatan keluarganya, namun mengancam bahaya radiasi.

KAMIS, 1 Oktober 2020, cuaca di daerah Jatinangor terbilang cerah. Di sebuah kampung tepatnya di pinggiran kota Jatinangor, atau sebelah timur kantor Kecamatan Jatinangor, terdapat sebuah kampung yang rumah penduduknya, berada di bawah Saluran Udara Tegangan ekstra tinggi (Sutet).

Salah satunya rumah pasangan suami istri, Didi Sukardi dan Ade (60). Sudah puluhan tahun sejak mereka membina mahligai rumah tangga dia hidup dibawah saluran Sutet. Bahkan, kini dia sudah memiliki enam anak yang dibersarkan di lingkungan Sutet.

Miris sekali memang, ketika Sumeks memantau ke lokasi. Rumahnya persis dibawah kolong besi pencakar langit dengan aliran listrik yang begitu tinggi. Tak hanya hawatir roboh ketika musim hujan dan angin kencang, namun suara gemuruh dari Sutet itu setiap kali datang.

Hanya bisa pasrah. Begitulah kira kira yang dialami Ade dan keluarganya ketika cuaca tidak bersahabat. Suara gemuruh dari jaringan listrik itu selalu terdengar dari langit langit rumahnya. Bahkan, beberapa pelindung sambungan listrik (dari plastik sebesar helm) pernah jatuh tepat diatas rumahnya.

Mau pindah rumah pindah kemana, mau komplen, kesiapa. Sedangkan keselamatan merela sewaktu waktu bisa terancam. Ironisnya, sejak dibangun Sutet itu, belum pernah sedikitpun dia mendapat uang ganti rugi atau kompensasi.

“Bangunan rumah saya dengan Sutet ini duluan rumah saya. Saya sudah punya enam anak, lima sudah menikah bahkan saya sudah punya cucu. Kalau Sutet ini dibangun ketika anak ketiga saya lahir,” kata Ade sambil melinangkan air mata.

Tak hanya itu, kata Ade, setiap angin kencang, tak jarang material dijaringan Sutet berterbangan dan sesekali seperti mau roboh. Anehnya, beberapa kali melakukan komplen ke pihak desa maupun PLN tidak pernah ada tanggapan.

“Mau ngadu kemana lagi, saya bingung. Padahal kata orang orang mah jangankan berada dibawah kolong, di pinggir saja dapat bantuan kompensasi,” katanya.

Yang paling ditakutkannya, kata dia, bahaya radiasi dari listrik yang bisa mengancam pertumbuhan buah hatinya dan keluarga. Sebab, kata orang-orang, radiasi dari Sutet itu bisa terkena kanker atau tulang keropos.

“Kalau siang siang suka sakit kepala, tapi karena sudah puluhan tahun, jadi terbiasa. Ya diberi obat Paramex juga sembuh,” kata wanita bertubuh kurus ini.

Beruntung, dia dan keluarga masih tertolong dengan program keluarga harapan (PKH) dan beberapa bantuan lain dari desa maupun pihak lain. Baru baru ini, rumah tidak layak huni miliknya berukuran 3×6 meter mendapat bantuan perbaikan rumah dari TNI dan Baznas Sumedang.

“Alhamdulillah ada bantuan dari pak TNI dan Baznas. Dibantu pihak desa juga. Tapi saya masih kawatir anak saya yang bungsu tidak bisa sekolah karena tak masuk KIP,” katanya.

Dia mengaku, anaknya yang bungsu itu duduk di bangku kelas 1 Madrasah (SMP). Namun, tidak mendapatkan program bantuan Kartu Indonesia Pintar atau SKTM.

Sementara itu, Kepala Dusun 3 Desa Hegarmanah, Rosid Abdul Fatah mengatakan jika ada puluhan rumah warga yang berada dibawah persis saluran Sutet. Namun, pihak desa pun bingung mau komplen ke siapa karena memang jaringan Sutet itu dibawah PLN pusat.

“Tegangan listrik itu untuk Jawa dan Bali, jadi memang sulit harus ke PLN pusat. Warga juga sudah diimbau kalau sekiranya berbahaya, lebih baik mengungsi dulu atau tinggal di tempat aman,” katanya. (imn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed