oleh

Refleksi Dua Tahun Sumedang Simpati

UPAYA DINAS KESEHATAN MEWUJUDKAN SUMEDANG SIMPATI

SUMEDANGEKSPRES.COM – Dua tahun masa pemerintahan Dony Ahmad Munir – Erwan Setiawan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang berupaya mewujudkan Sumedang Simpati walaupun pada saat yang bersamaan Dinas Kesehatan juga harus fokus menangani pandemi covid-19 yang juga memerlukan sumber daya yang luar bias.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Uyu Wahyudin, M.KM menyampaiakan bahwa Dinas Kesehatan bersama Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sumedang terus berupaya maksimal dan fokus dalam penanganan pandemi covid-19 yang sampai saat ini masih belum berakhir, tetapi selain itu Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang juga tetap berupaya maksimal untuk mewujudkan Sumedang Simpati dengan cara mencapai target Indek Kinerja Utama (IKU) Dinkes yang sudah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2018 sampai dengan 2023.
“Ada beberapa target indikator kinerja utama (IKU) telah ditetapkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat khusunya di bidang kesehatan. Indikator-indikator itu meliputi ; Jumlah Kematian Ibu, Jumlah Kematian Bayi, Prevalensi Stunting, Indeks Kepuasan Masyarakat, Prevalensi HIV/AIDS, Angka Kesakitan Penyakit Menular, Universal Health Coverage dan Indeks Keluarga Sehat. Beberapa indikator telah mencapai target yang ditetapkan dalam RPJMD,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupten Sumedang kepada Sumeks di ruang kerjanya, Selasa (13/10).
Pertama, kata Uyu, indikator yang paling sensitif dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, yakni jumlah kematian bayi dan ibu saat melahirkan.
“Sampai saat ini masih bisa kita kendalikan. Artinya, jumlah tersebut tidak melebihi angka yang telah ditargetkan,” ujarnya. Jumlah Kematian bayi tidak boleh melebihi 120, pada tahun ini berhasil ditekan hanya sebanyak 85, untuk kematian ibu tidak boleh melebihi 10 kematian ibu, dan sampai Bulan September terdapat 10 kematian Ibu. Untuk itu Dinas Kesehatan berupaya maksimal agar tidak ada lagi penambahan angka kematian Ibu,”
Indikator berikutnya, Prevalensi Stunting. Di dalam RPJMD, indikator tersebut ditetapkan tidak boleh melebihi 26 persen. “Alhamdulillah bisa ditekan sehingga hanya 12 persen, hal tersebut terlihat setelah selesai bulan penimbangan Balita pada Bulan Agustus 2020, ” sebutnya.
Bahkan dia berharap, angka tersebut bisa ditekan serendah – rendahnya, sehingga tidak terjadi lagi kematian ibu dan bayi saat melahirkan, akibat faktor – faktor teknis serta tidak muncul new zero stunting (stunting baru)
“Tidak ada lagi bayi bayi lahir dengan kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yang akan menyebabkan di kemudian hari menjadi Balita stunting,” tuturnya.
Tidak hanya sampai di situ, masih dalam rangka mendongkrak mutu kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang juga membuat beberapa program unggulan di Tahun 2020 ini, diantaranya ;

Program-program unggulan dan pengembangan dalam optimalisasi pelayanan Kesehatan masyarakat..

Public Safety Center dan Layad Rawat
PSC dan layad rawat merupakan program unggulan Sumedang Simpati, dan secara teknis dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Tujuannya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dengan mengunjungi setiap penduduk yang membutuhkan pertolongan Kesehatan dengan call center 119. Atau lebih populer disebut dengan Public Safety Center (PSC) dengan nomor telpon 119. Sampai dengan saat ini telah menerima panggilan telrepon 4355 panggilan, panggilan relevan 2012, panggilan yang tidak relevan 2328. Pelayanan yang sudah dilakukan layad rawat 522 orang, Kegawatdaruratan dan Tindakan lainnya 586 orang, jumlah pasien yang dirujuk 544 orang serta penjemputan dan pengantaran pasien suspek dan yang terkonfirmasi covid-19 sebanyak 61 orang. Selain itu PSC 119 juga melakukan penanganan Pelayanan Kegawatdaruratan terkait masyarakat yang terkena Bencana Alam 26 kejadian jumlah masyarakat yang dilayani 48.604 jiwa, , menangani Pandemi covid-19 sebanyak 874 orang, Posko Kesehatan 37 even baik even-even kabupaten , Nasional dan Internasional dan jumlah yang dilayani 501 orang.

Digitalisasi pelayanan
Dalam era revolusi industri 4.0, digitalisasi menjadi hal yang mutlak dilakukan, termasuk di bidang pelayanan kesehatan. Pelayanan yang cepat, mudah, terjangkau, serta berkualitas menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat. Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan transformasi pelayanan publik ke arah digital untuk mempercepat dan memudahkan pelayanan. Digitalisasi pelayanan publik menjadi keniscayaan dalam upaya meningkatkan transparansi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam kondisi pandemi Covid-19. Digitalisasi dalam pelayanan publik, diharapkan mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan. Dengan adanya kemudahan pelayanan, diharapkan juga dapat mengubah stigma ketidakpercayaan masyarakat atas pelayanan buruk pemerintah dapat menghilang. Bentuk digitalisasi pelayanan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang diantaranya; pendaftaran online melalui aplikasi dan sms gateway, penggunaan aplikasi e-Puskesmas, e-Posyandu dan aplikasi-aplikasi lain dalam proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan kegiatan dan evaluasi kegiatan. Mengembangkan Sistim Informasi Puskesmas melalui Aplikasi yang terintegrasi dengan ePuskesmas.
Akreditasi Puskesmas dan Labkesda
Akreditasi puskesmas adalah pengakuan terhadap Puskesmas yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan setelah dinilai bahwa Puskesmas telah memenuhi standar pelayanan Puskesmas yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan puskesmas secara berkesinambungan. Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan, Puskesmas wajib diakreditasi secara berkala minimal tiga tahun sekali. Tujuan diberlakukannya akreditasi puskesmas adalah untuk membina puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan primer dalam upaya untuk berkelanjutan memperbaiki sistem pelayanan dan kinerja yang berfokus pada kebutuhan masyarakat, keselamatan, dan manajemen risiko. Pelayanan kesehatan primer yang dimaksudkan meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan. Akreditasi puskesmas berkaitan erat dengan dimensi kualitas pelayanan. Seperti yang disebutkan dalam beberapa kriteria standar penilaian akreditasi puskesmas salah satunya yaitu pada bagian Peningkatan Mutu Puskesmas (PMP) dimana disebutkan bahwa perbaikan mutu dan kinerja Puskesmas konsisten dengan tata nilai, visi, misi dan tujuan Puskesmas, dipahami dan dilaksanakan oleh Pimpinan Puskemas, Penanggungjawab Upaya Puskesmas dan Pelaksana. Melalui akreditasi, diharapkan manajemen Puskesmas dapat menerapkan Prosedur Standar dengan baik sehingga pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
Di Kabupaten Sumedang ditargetkan semua Puskesmas dan Labkesda sudah terakreditasi.
dan sampai saat ini sudah berhasil tercapai 100 %.
Rujukan Horizontal
Dalam rangka meningkatkan pelayanan rujukan maka ditetapkan sistim rujukan horizontal yang terintegrasi, dimana ada 10 Puskesmas yang siap menerima rujukan dari Puskesmas satelit di wilayahnya. Dengan adanya rujukan horizontal ini memudahkan masyarakat dalam memperoleh pelayanan sekaligus mengurangi beban layanan rujukan di RSUD.
Bela Cinta Ema
Bela Cinta Ema merupakan singkatan dari Berikan Layanan Terintegrasi Cegah Kematian Ibu dan Anak. Bela Cinta Ema bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pelibatan peran berbagai organisasi profesi kesehatan yang dilakukan secara terintegrasi. Selain itu juga dilakukan pengamatan dan pemantauan secara terus menerus oleh masyarakat.
Salah satu kegiatan implementasi Bela Cinta Ema adalah akan diluncurkannya Sistem Pemantauan Ibu Hamil Resiko Tinggi (Simpati). Sistem ini berbasis teknologi informasi yang akan menyediakan panduan bagi tenaga kesehatan untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu hamil dengan resiko tinggi, serta memberikan akses kepada pimpinan untuk ikut memantau kesehatan ibu hamil sampai ke tingkat desa sebagai bahan evaluasi dan pengambilan kebijakan.
Binwilkesa {Pembina Wilayah Kesehatan Desa)
Dalam rangka identifikasi masalah Kesehatan di wilayah Desa sekaligus deteksi dini gangguan Kesehatan maka dibentuk Pembina Wilayah Kesehatan Desa. Kegiatan diarahkan pada deteksi resiko kesakitan, pemetaan kasus resiko tinggi, peningkatan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat, Konsultasi Kesehatan.
Posyandu Remaja
Posyandu remaja merupakan upaya pengembangan pelayanan Kesehatan berbasis remaja. Ini dimaksudkan mepersiapkan secara dini Kesehatan remaja putri secara mandiri untuk memasuki usia pernikahan dan sehat dalam kehamilan, melahirkan bayi tidak stunting. Melalui Posyandu remaja ditargetkan tidak ada lagi ibu hamil melahirkan bayi stunting (New Zero Stunting).
Sasarengan Wujudkeun Kesehatan Masyarakat Desa (SARAKSA)
Kegiatan Saraksa adalah wujud kepedulian dan peningkatan upaya promotive dan Preventif bagi masyarakat pedesaan yang ada di satu wilayah Kecamatan. Tim Dinas Kesehatan bergabung dengan Akademisi, Pihak Swasata (Pengusaha), Media untuk sama melaksanakan kegiatan selama 2 hari menginap di Kecamatan. Melakukan Rakor dengan pemerintahan setempat, Mengidentifikasi keluhan dan masalah Kesehatan serta merumuskan solusi Bersama, Menyampaikan program-program pemerintah daerah agar terjadi kolaborasi antar stakeholder, Crosscating dan cascading program. Sehingga terjadi akselerasi cakupan indikator Kinerja Utama (IKU) bidang Kesehatan di wilayah-wilayah kantong rawan Kesehatan.

Peningkatan Performance Puskesmas
Upaya ini dimaksudkan untuk peningkatan sarana dan prasaran puskesmas melalui renovasi dan pembangunan baru Puskesmas, sekaligus untuk mewujudkan pelayanan kesehtan yang terjangkau, bermutu, dan nyaman kepada masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed