oleh

Pasutri Egois, Anak Jadi Korban

SUMEDANGEKSPRES.COM – Angka perceraian di setiap daerah di Jawa Barat tergolong cukup tinggi setiap tahunnya. Termasuk salah satunya di Kabupaten Sumedang.

Namun demikian, menyandang status janda, saat ini bukanlah sebuah momok menakutkan bagi sejumlah perempuan di Sumedang. Bahkan, mereka menyebut lebih nyaman hidup sendiri ketimbang hidup memiliki seorang suami.

Psikolog Sumedang Ayuna Haziza SPsi, menerangkan, dari setiap perceraian justru akan menimbulkan dampak psikologis. Salah satunya adalah terhadap anak, khususnya yang masih di bawah umur.

Baca juga :
Covid; Pernikahan Tinggi, Cerai Melonjak

“Anak-anak biasanya merasakan dampak dari perceraian orang tuanya. Apalagi perceraian itu tidak disiapkan secara dewasa, tapi memutuskan secara sepihak. Harusnya, anak yang sudah besar, sudah bisa diajak komunikasi terkait masalah tersebut,” ujarnya saat dihubungi Sumeks (19/10).

Ayuni juga menerangkan, dalam kondisi sulit tersebut, anak-anak akan menilai jika orang tua tidak perhatian, jadi cenderung dititip di rumah kakek atau nenek.

“Mereka juga merasa terasingkan. Dan tidak bahagia karena melihat keluarga temannya lengkap. Apalagi sekarang kondisi tidak sekolah, jadi tidak ada teman yang bisa diajak bicara, sehingga berat buat mereka,” terangnya.

Selain faktor ekonomi, Ayuna juga melihat angka perceraian banyak terjadi karena dasar ketidakmatangan pasangan dalam berumah tangga.

“Memang untuk bercerai itu sebuah pilihan. Bagaimana perempuannya, kalau memang tidak bisa diperbaiki keputusan mereka juga harus dihormati,” paparnya.

Apalagi melihat kondisi saat ini, lanjut Ayuni, di Kabupaten Sumedang juga memiliki kebanyakan suami yang bekerja merantau di luar kota.

Sehingga, dalam kesendiriannya merupakan tugas dari suami untuk menjaga keutuhan rumah tangga agar istri tidak mencari pemenuhan nafsu di luar.

“Gaya hidup juga mempengaruhi terhadap perceraian. Terutama jika berteman dengan sosialita. Jika terus melihat gaya hidup mereka, apalagi karena faktor ekonomi dan kesendirian, itu juga akan mempengaruhi angka perceraian. Tapi, secara tidak langsung, bagaimana orangnya dan keadaan keluarganya,” jelas Ayuni.

Sementara itu, untuk mengurangi angka perceraian di Kabupaten Sumedang sendiri, pemerintah harus bisa mengembalikan peran dari orang tua ke dalam rumah.

“Ini tugas pemerintah melalui dinas terkait untuk melakukan itu. Bisa melalui parenting atau solialisasi. Sekarang saya juga melihat sedikit sekali peran orang tua. Salah satunya mereka menyerahkan pengasuhan kepada pihak luar,” tuturnya. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed