oleh

Covid; Pernikahan Tinggi, Cerai Melonjak

SUMEDANGEKSPRES.COM – Wabah pandemi Covid 19 tidak menyurutkan pasangan suami istri menggugat perceraian ke Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Sumedang. Sejak dibuka kembali pendaftaran gugat cerai pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) lebih dari 400 berkas daftar gugat cerai di PA.

“Sejak masa PSBB berakhir, kita kembali membuka pendaftaran perkara perceraian. Sejak tanggal tersebut pendaftaran gugat cerai lumayan tinggi,” ujar Kabag Humas Pengadilan Agama Sumedang Drs Nuryadi Siswanto MH, beberapa waktu lalu.

Baca juga :
Pasutri Egois, Anak Jadi Korban

Tingginya angka pendaftaran ini, bisa jadi dampak penghentian sementara pelayanan pendaftaran perkara di kantor PA selama masa PSBB. Meski demikian, sebenarnya pendaftaran pada masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tetap dibuka secara online.

Seiring tingginya angka perceraian, rupanya diimbangi dengan angka pernikahan baru. Bahkan, wabah Covid ini tidak serta merta menurunkan pasangan pernikahan baru.

Kepala Seksi (Kasi ) Bimas Islam Kementrian Agama Kabupaten Sumedang, Drs Sjamsuridjal ME Sy menyebutkan, wabah Covid 19 yang melanda sejak tujuh bulan terakhir, dinilai tidak mempengaruhi jumlah angka pernikahan.

Hal itu dibuktikan dengan rekapitulasi jumlah peristiwa nikah di Lingkungan Kementrian Agama Sumedang Tahun 2020 yang mencapai 7.866 pada bulan September.

Angka tersebut, tidak terpaut jauh jika dibandingkan dengan rekapitulasi tahun sebelumnya, yang mencapai 11.236 di bulan Desember.

“Tidak jauh berbeda dengan 2019, waktu sebelum ada Covid. Hanya saja, terjadi pergeseran waktu, dari Maret April ke Mei Juni akibat ada surat edaran dari Kemenag lantaran wabah Covid 19,” katanya kepada Sumeks di ruang kerjanya, Senin (19/10).

Disebutkan, secara keseluruhan jumlah pernikahan itu sifatnya fluktuatif, tergantung kepada usia pernikahan yang ada di tahun itu. “Misalnya tahun 2019 banyak warga yang belum mencapai usia pernikahan, maka secara otomatis jumlah pernikahan akan turun dan akan naik di tahun berikutnya, manakala usia pernikahan sudah jatuh di tahun tersebut. Intinya, angka pernikahan dipengaruhi oleh usia pernikahan di tahun tersebut,” katanya.

Disebutkan, UU Nomor 16 Tahun 2019  perubahan atas UU Nomor 174 Pasal 7, bahwa perkawinan itu diizinkan usia 19 tahun, baik laki-laki maupun perempuan.  “Berbeda dengan Undang-Undang dulu yang mengizinkan pernikahan kepada wanita 16 tahun dan laki-laki 19 tahun,” ucapnya.

Secara umum, lanjut dia, jumlah peristiwa pernikahan di Sumedang, rata-rata berada di kisaran angka 11 ribu per tahunnya. “Saya belum bisa menyimpulkan bahwa Covid akan menurunkan jumlah pernikahan, karena bisa saja pas tahun 2020 ini usia pernikahan memang lagi turun,” katanya. (nur/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

News Feed