oleh

Pengajaran Angklung Sentuh Berbasis Makey Makey Kit

PERMASALAHAN pendidikan seni di sekolah dasar, sampai saat ini adalah keterbatasan pihak sekolah untuk menghadirkan alat-alat musik sebagai media untuk pembelajaran. Dampaknya, pendidikan seni musik menjadi mata pelajaran yang porsi pembelajarannya lebih sedikit bila dibandingkan dengan seni rupa atau seni tari, sehingga materi seni musik menjadi banyak yang tidak tersampaikan mengakibatkan kepunhanannya beberapa seni daerah.

Di Jawa Barat, hal ini terbukti dengan matinya ratusan kesenian tradisional, selain karena tidak diajarkan di sekolah, tidak diperhatikan oleh pemerintah, juga karena tidak ada yang mau mempelajarinya. Dari 580 kesenian, 500 kesenian sudah punah, 40 kesenian dalam keadaan sekarat awal, 25 kesenian sekarat akhir, dan 15 kesenian masih hidup (Guci, 2015; Hasan, 2016; Heriyanto, 2015; Julia, 2016; Kurnia, 2013, 2014; Sobari, 2012).

Kenyataan ini membuktikan bahwa pada dasarnya berbagai pihak telah gagal dalam menyelamatkan keutuhan salah satu unsur dalam kebudayaan Indonesia yang ada di Jawa Barat, yaitu kesenian. Sebagai upaya untuk menyelamatkan, mewariskan, dan menjaga kesenian-kesenian yang masih hidup, maka diperlukan proses pembelajaran kesenian yang berkelanjutan.

Salah satu jenis kesenian yang masih bertahan dari gempuran seni-seni asing adalah musik angklung. Kelebihan dalam bermain musik angklung antara lain terletak pada teknik memainkannya yang sederhana. Namun, kesulitannya adalah angklung merupakan musik ensemble sehingga diperlukan kerjasama yang baik dengan pemain lainnya untuk menghasilkan kesatuan musik yang indah.

Berdasarkan hasil studi awal, di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, rintangan terbesar pembelajaran angklung di sekolah dasar, mayoritas muncul dari aspek pengadaan alat dan kompetensi guru seninya.

Solusi yang dipandang tepat untuk menyelesaikan permasalahan pengadaan alat musik angklung dan kompetensi guru seni, adalah menciptakan media angklung yang berbasis Makey Makey. Ini adalah sebuah perangkat elektronik dengan harga terjangkau yang dapat difungsikan sebagai kontroler alat musik. Melalui makey makey kit, benda apapun dan dalam bentuk apapun dapat menjelma sebagai alat musik. Oleh sebab itu, melalui pembuatan media angklung berbasis makey makey kit, yang juga dipadukan dengan alat bantu elektronik lainnya seperti laptop dan speaker aktif, diharapkan masalah ketersediaan fasilitas untuk belajar musik yang disertai dengan rendahnya kompetensi guru seni di sekolah dasar dapat segera diselesaikan.

Hasil survey yang dilakukan terhadap 61 guru SD di 26 Kecamatan di Kabupaten Sumedang tahun 2018 tentang pembelajaran seni musik menunjukkan bahwa guru-guru mengajar musik tanpa dibekali kompetensi yang memadai. Hasil survey dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Hasil Survey Pembelajaran Seni Musik

PertanyaanYaTidak
Apakah seni musik diajarkan kepada peserta didik?592
Apakah terdapat guru yang kompeten untuk mengajar seni musik dengan baik?   61
Apakah pelajaran seni musik diabaikan dan diganti dengan pelajaran seni bidang lainnya?  3  58
Apakah terdapat guru yang berani mengajar seni musik meskipun tidak memiliki keterampilan dalam bernyanyi dan memainkan instrumen musik?    60    1
Apakah memiliki alat-alat musik untuk media pembelajaran?501

Merujuk pada Tabel 1, dapat diidentifikasi bahwa seni musik diajarkan di sekolah dasar, namun pengajarnya adalah guru yang tidak memiliki kompetensi dalam seni musik, guru hanya bermodalkan keberanian untuk mengajar.

Fakta ini tentu saja memberikan gambaran yang jelas, bagaimana arah pembelajaran pendidikan seni musik di sekolah dasar. Dengan kata lain, guru mengajar bukan berlandaskan pada kompetensi yang dimilikinya, melainkan hanya berdasarkan pada pemenuhan kewajiban untuk memberikan pelajaran berdasarkan pada kurikulum, dan kewajiban untuk memenuhi jam mengajar.

Dengan kondisi seperti ini, kami menelusuri kembali mengenai program pengembangan kapasitas guru yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Apakah dinas pendidikan setempat (pemerintah) sering melaksanakan program pengembangan kompetensi guru musik sekolah dasar dalam lima tahun terakhir?” Sebanyak 27 (50%) guru menjawab Tidak Pernah, dan sembilan (16.7%) guru menjawab Pernah, 13 (24.1%) guru menjawab Jarang, satu (1.9%) guru menjawab Sering, dan empat (7.4%) guru menjawab Sangat Sering. Setelah ditelusuri lebih jauh, jawaban guru menggiring pada temuan bahwa hanya sebagian kecil saja guru-guru yang dilibatkan dalam program pelatihan pengembangan kompetensi guru musik sekolah dasar yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah terfokus pada satu hal, yaitu bagaimana meningkatkan kompetensi guru SD dalam membuat media pembelajaran musik dengan menggunakan sentuhan teknologi seperti software atau aplikasi.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan ini bermaksud untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada guru SD dalam membuat media pembelajaran musik dengan melibatkan teknologi yang diolah melalui teknik komputerisasi. Dengan demikian, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan guru SD dalam membuat media pembelajaran musik melalui penggunaan komputer. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk memberikan pemahaman kepada guru bahwa mengajar musik tidak selalu harus membeli alat musik yang mahal, namun dapat dikembangkan dengan menggunakan hardware dan software yang selama ini sudah tersedia.

Output Yang Dihasilkan

Pelatihan ini diharapkan menghasilkan output berupa – meningkatnya kualitas guru SD dalam melakukan pengajaran musik. Guru diharapkan memiliki: (1) beragam strategi untuk mengajarkan materi musik khususnya alat musik; (2) melek teknologi untuk membantu proses pengajaran musik; dan (3) berani mengajar musik dengan cara-cara yang benar dan tidak menyesatkan peserta didik.

Tahapan Pelaksanaan Program

Pada tahap pelaksanaan program, kami menggunakan metode kolaborasi antara pelatihan terstuktur berdasarkan kategorisasi kemampuan dan kebutuhan guru, dan metode kaji tindak (action research) dengan pendekatan pengajaran musik kreatif untuk guru musik modern(Schafer, 1976). Kolaborasi ini diperlukan agar pelatihan lebih tepat sasaran, dan juga membuka peluang untuk mencari pengembangan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi faktual di lapangan.

Rencana awal kami adalah melatih guru-guru untuk dapat membuat media pembelajaran musik mulai dari pembuatan media dalam bentuk aplikasi hingga pembuatan alat musiknya yaitu angklung. Namun, karena kondisi pandemi covid-19, maka kami hanya membatasi pelatihan sampai pembuatan media pembelajaran musik dalam bentuk aplikasi saja. Dalam upaya meningkatkan kemampuan guru SD untuk mengembangkan media pembelajaran musik, terdapat beberapa tahapan pelatihan yang dilaksanakan, yakni sebagai berikut.

Identifikasi

Pada tahap ini, peserta pelatihan disurvey untuk diidentifikasi tingkatan kemampuan mereka dalam mengajarkan musik, media yang biasa digunakan untuk mengajarkan musik, dan kebutuhan yang diperlukan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajar musik dengan melibatkan teknologi.

Tahap ini sudah dilakukan dan mayoritas guru kekurangan ide untuk mengembangkan instrumen musik berbasis teknologi karena tidak mengikuti dan menggali perkembangan musik dan teknologi. Termasuk, diantaranya belum mengetahui cara mengembangkan pengajaran instrumen angklung dengan sentuhan teknologi.

 

Klasifikasi

Pada tahap ini, peserta pelatihan dikategorisasikan berdasarkan tingkat kemampuan dan kebutuhannya dalam memahami aplikasi komputer dan mengajarkan komposisi musik. Hasil penelusuran dan kegiatan PkM tahun 2018-2019 diperoleh klasifikasi kemampuan dan kebutuhan guru sebagai berikut: (1) kelompok guru yang tidak tahu cara mengajarkan tempo dan pitch lagu; (2) kelompok guru yang tidak bisa menerjemahkan not balok ke dalam not angka; (3) kelompok guru yang tidak bisa menentukan jenis lagu dalam irama yang berbeda; (4) kelompok guru yang tidak menggunakan media untuk membantu mengajarkan instrumen musik dan vokal; dan (5) semua guru tidak memiliki keterampilan untuk mengembangkan instrumen musik lokal dengan menggunakan teknologi.

Retifikasi

Pada tahap ini, peserta pelatihan akan diberikan pengetahuan dan keterampilan baru, merekonstruksi pengetahuan dan keterampilan yang pernah diperoleh, dan melakukan perbaikan-perbaikan atas pengetahuan dan keterampilan dalam mengajar instrumen musik. Materi-materi yang telah diperoleh pada kegiatan PkM tahun 2018-2019 akan ditambahkan dan disempurnakan melalui kegiatan PkM tahun 2020.

Konsolidasi

Pada tahap ini, dilakukan penguatan atas materi-materi pelatihan yang telah diberikan, sehingga para peserta pelatihan dapat lebih memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan instrumen musik dan mengajarkannya sesuai dengan kebutuhan materi pengajaran di sekolahnya masing-masing.

Evaluasi

Pada tahap ini, dilakukan evaluasi atas penguasaan materi-materi hasil pelatihan. Evaluasi dilakukan dalam bentuk unjuk kerja/demonstrasi dan survey.

Tindak Lanjut

Hasil dari pelatihan membangun jaringan yang lebih luas dengan guru-guru sekolah dasar yang memiliki perhatian cukup tinggi terhadap pendidikan musik. Guru-guru mengakui sangat terbantu dengan pelatihan seperti ini, sehingga mengharapkan pelatihan lanjutan.

 

Lokasi Dan Khalayak Sasaran

Lokasi kegiatan dipusatkan di kabupaten Sumedang, meskipun pada akhirnya terdapat peserta yang berasal dari luar kabupaten Sumedang. Tercatat ada sembilan kabupaten/kota yang terlibat dalam pelatihan ini.

Khalayak Sasaran

Yang menjadi sasaran utama dalam pelatihan ini adalah guru-guru sekolah dasar di 26 Kecamatan di Kabupaten Sumedang yang telah disurvey. Hasil survey pada 61 guru di Sumedang tahun 2018 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3. Hasil Survey Minat untuk Pelatihan Keterampilan Seni Musik

PernyataanSangat Tidak SetujuTidak SetujuKurang SetujuSetujuSangat Setuju
Guru SD memerlukan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam mengajar seni musik.   5110
Guru SD memiliki minat tinggi untuk meningkatkan kompetensi dalam seni musik.   574

Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa guru telah membangun pernyataan yang menunjukkan bahwa mereka sepakat memerlukan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam mengajar seni musik. Pernyataan guru pun telah menunjukkan bahwa mereka memiliki minat tinggi untuk meningkatkan kompetensi dalam seni musik.

Pada saat pelaksanaan, guru yang terlibat sampai selesai berjumlah 38 orang. Pada pertemuan pertama, guru yang hadir mencapai 118 orang, namun guru yang berhasil mengikuti kegiatan sampai selesai hanya 38 orang. Mereka berasal dari sembilan kabupaten dan kota.Terdiri atas enam (15,8%) laki-laki dan 32 (84,2%) perempuan. Dua (5,3%) orang berusia antara 21-25 tahun, 22 (57,9%) orang berusia antara 26-30 tahun, enam (15,8%) orang berusia antara 31-35 tahun, dua (5,3%) orang berusia antara 36-40, tiga (7,9%) orang berusia antara 41-45 tahun, satu (2,6%) orang berusia antara 45-50 tahun, dan dua (5,3%) orang berusia antara 50-55  tahun.

 

Tingkat Capaian Terhadap Target/Luaran Utama

Luaran yang ditargetkan dari hasil kegiatan PkM ini, terdiri atas: (1) artikel dimuat di jurnal nasional terakreditasi/internasional bereputasi; (2) buku berISBN; (3) hak cipta (HKI); (4) makalah yang dipublikasikan pada prosiding terindeks; dan (5) artikel dimuat di media massa.


Tingkat Kesesuaian Antara Rencana Dengan Realisasi

Waktu

Pelatihan dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Namun, ada beberapa pekerjaan yang masih diproses khususnya untuk pembuatan luaran karena pada dasarnya waktu menjadi terlalu singkat sebagai akibat dari adanya pandemi covid-19. Namun, kami berupaya untuk menunaikan semua luaran agar tercapai semua dengan baik meskipun waktunya bisa jadi agak telat/mundur.

Lokasi

Lokasi untuk pusat kegiatan sudah sesuai dengan lokasi yang direncanakan sejak persiapan kegiatan. Namun, untuk peserta kegiatan mengalami perubahan atau perkembangan, karena dengan kondisi sekarang justru para guru yang berasal dari luar kabupaten Sumedang juga ikut terlibat karena kegiatan lebih banyak dikontrol secara online.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana untuk pelaksanaan kegiatan cukup memadai, berhubung kami sudah menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam kondisi pandemi covid-19. Seperti peralatan pembelajaran/pelatihan daring yang memadai seperti webcam/speaker, laptop, microphone, headphone, software musik, dan jaringan internet.

SDM

Seperti terjadi pada tahun sebelumnya, dalam kegiatan PkM ini, SDM cukup memadai, baik dari pihak tim peneliti, tim mitra, maupun dari pihak peserta. Tim peneliti memiliki SDM yang solid dan senantiasa bekerjasama dan bekerjakeras untuk menyukseskan kegiatan ini. Keragaman bidang studi tim PkM menjadi keuntungan untuk saling melengkapi dalam melaksanakan kegiatan. Pihak mitra pun memiliki andil cukup besar, sehingga para peserta mudah untuk dikoordinasikan dan dikumpulkan.


Kendala Yang Dihadapi Dan Cara Menghadapinya

Kendala utama yang dihadapi oleh tim PkM ini, adalah keterlambatan pendanaan untuk menunjang semua proses dan operasional kegiatan. Sementara kegiatan harus berlangsung secara konsisten dan harus dilaksanakan dalam kurun waktu beberapa bulan. Namun, hal ini dapat ditanggulangi dengan dana talang yang disediakan oleh anggota pelaksana. Kami juga memang terkendala dengan kondisi pandemi covid-19, namun kami berupaya untuk tetap kreatif dan inovatif dalam kondisi tersebut.

(Artikel ini dikutip dari Laporan kemajuan Pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil penelitian (PKM-BHP). Pelaksana: Dr. Julia, S.Pd., M.Pd. Dr. Prana Dwija Iswara, M.Pd. Dr. Sandie Gunara, M.Pd.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed