oleh

Muhibah Budaya Sumedang ke Prancis, Pemda Biayai 30 Seniman Rp 800 Juta

KOTA – Pemkab Sumedang angkat bicara, terkait anggaran muhibah budaya Sumedang ke Prancis. Sejatinya, kegiatan dilaksanakan Oktober 2020. Namun, diundur ke tahun 2021 karena merebak pandemi Covid-19.

Sekda Sumedang Herman Suryatman menjelaskan, untuk transportasi Muhibah Budaya dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang. Sedangkan biaya akomodasi dan fasilitasi selama di Perancis, sepenuhnya akan dibiayai KBRI di Perancis.

“Kebutuhan pembiayaan untuk memberangkatkan 30 orang Seniman dari Sumedang mencapai Rp 800 juta (bukan Rp 1,2 miliar seperti yang disampaikan anggota DPRD, red). Biaya tersebut, mencakup untuk transportasi, penyediaan alat kesenian, serta proferti pendukung lainnya,” ujar Herman dalam rilisnya yang dikirim ke redaksi sumedangekspres.com, hari ini.

Dia mengatakan, agenda Muhibah Budaya berawal ketika Bupati Sumedang kedatangan Duta Besar Perancis untuk Indonesia Mr. Jean Charles Berthonet beserta Istri pada 26 Juli 2019 silam. Kala itu, Kedutaan Besar Perancis mengapresiasi pelaksanaan Konser Impressions Universelles pada 11 Mei 2019 di Aula Simfonia Jakarta, Kerjasama Pemda Kabupaten Sumedang dengan Jakarta Simfonia Orchestra, Institut Perancis dan Kedutaan Besar Perancis.

“Pada kesempatan tersebut, Duta Besar Perancis mengundang Seniman Sumedang untuk Konser Gamelan di Paris Perancis,” kata Sekda.

Selanjutnya, beber sekda, pada 11 Maret 2020, Bupati kedatangan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Perancis, Prof. Dr. Warsito. Maksud kunjungan tersebut adalah mengundang Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk melakukan Muhibah Budaya ke Paris Perancis dalam rangka memperingati Ulang Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Perancis Ke 70.

Selain muhibah budaya, jelas Sekda, akan diperkenalkan potensi seni budaya dan pariwisata Sumedang kepada masyarakat Perancis dan Eropa. “Pihak KBRI di Perancis akan memasilitasi pertemuan bisnis dan penjajagan sister city  antara Kabupaten Sumedang dengan salah satu kota yang sepadan di Perancis,” jelasnya.

“Manfaat yang didapatkan insyaallah jauh lebih besar dari biaya yang akan dikeluarkan. Selain menjadi ajang promosi pariwisata, muhibah budaya tersebut juga potensial menarik investasi internasional ke Sumedang, serta akan mendorong kerjasama lintas bidang secara berkelanjutan melalui skema sister city,” pungkas Sekda.

Terkait relevansi dan pentingnya Muhibah Budaya, dapat diinformasikan bahwa Gamelan Sarioneng Parakansalak (koleksi Museum Prabu Geusan Ulun) pada tahun 1889 pernah tampil memukau saat peresmian menara Eiffel melalui ajang Exposition Universelle. Rencana muhibah tersebut sejatinya adalah mengingatkan dan menarik kembali simpati dan atensi masyarakat Perancis terhadap Sumedang dan kekayaan budayanya. Harapannya akan berdampak terhadap sektor pariwisata, perdagangan dan investasi.

“Di era digital dan seiring arus globalisasi saat ini, kita semua memasuki babak baru dalam tatanan kehidupan dan berpemerintahan. Dunia kini tanpa batas (borderless). Kunci keberhasilan otonomi daerah, selain tergantung pada kelincahan daerah dalam mendayagunaan potensi daerah, juga terletak pada kepiawaian dalam membangun jejaring dan hubungan relasional di kancah regional, nasional, bahkan global. Saatnya Sumedang membuka diri dan siap menjemput kolaborasi tanpa batas. Dari budaya untuk ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sumedang,” pungkas dia. (rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed