4 Bangunan Tertimpa Longsor

4 Bangunan Tertimpa Longsor

LANGSUNG DIPANTAU: Seorang anggota Polsek Jatigede saat memantau sebuah rumah yang tertimpa longsor, kemarin.(IST)

PEWARTA: ATEP BIMO AS/IGUN/SUMEKS

*Di Jatigede Dua Jembatan Ambruk

KOTA – Dinas PUPR Kabupaten Sumedang, langsung melakukan penanganan sementara sejumlah jembatan yang amblas tergerus air pada Senin sore (11/2).

“Semalam saya mendapat laporan jembatan Cisaar Lanang yang menghubungkan Desa Jembarwangi dengan Desa Darmawangi, Kecamatan Tomo ambles. Jembatan yang dibangun pemerintah desa Jembarwangi tahun 2003 itu amblas karena abutmen awal jembatan tergerus air sungai. Penurunan jembatan mencapai 1,5 meter dan ada patahan badan jembatan pada pilar pertama,” kata Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.

Meski demikian sebut dia, Dinas PUPR telah melakukan penanganan sementara dan darurat berupa oprit/arug tanah dengan cara pengupasan kurang lebih 1,5 meter sepanjang 50 meter. ”Langkah ini diambil supaya jembatan dengan panjang 36 meter dan lebar 3,5 meter bisa dilalui motor dan mobil dengan aman,” jelasnya.

Sementara untuk penanganan jangka menengah sambil menunggu dapat teranggarkan oleh APBD dan akan dibuat bronjong pengganti abutmen awal yang tergerus air sungai dengan teknik didongkrak dan diratakan kembali seperti sediakala. Amblasnya jembatan akibat bencana alam dan penanganan menggunakan anggaran belanja tak terduga (BTT) APBD.

”Dinas PUPR akan menerjunkan kembali tim teknis perencanaan jembatan Dinas PUPR untuk menghitung volume, menggambar dan mengajukan RAB jembatan yang baru sebagai pengganti jembatan saat ini. Bagi masyarakat yang menggunakan jembatan tersebut agar selalu waspada,” sambungnya.

Selain itu, akibat intensitas curah hujan yang tinggi pada Senin sore itu sempat mengakibatkan sebuah jembatan lainnya amblas. Jembatan gantung di Blok Batu Agung Dusun Cisaar Landeuh Desa Cipicung Kecamatan Jatigede terputus, sekira pukul 16.30.

Kapolsek Jatigede AKP Dadang Rostia mengatakan, jembatan di ruas jalan kabupaten yang amblas menghubungkan antara Desa Cipicung menuju desa lainnya, seperti Desa Cintajaya, Lebaksiuh dan Kadu.

”Jalan ini merupakan jalan utama bagi masyarakat ketiga desa tersebut menuju Kecamatan Jatigede,” ujar Dadang ke Sumeks, Selasa (12/2).

Dikatakan Dadang, jembatan ambruk disebabkan curah hujan yang tinggi, sehingga air sungai meluap. Adapun panjang jembatan terputus kurang lebih 40 meter.

Sedangkan, lanjut Dadang, untuk jembatan gantung sepanjang kurang lebih 50 meter yang ambruk ini merupakan penghubung antar dusun, yaitu antara dusun Cisaar Landeuh dengan Cihanyir Landeuh.

”Jalan dan jembatan gantung ini sering dilalui siswa siswa SD Cimukti. Kami Forkopimka Jatigede masih mencari solusi agar siswa kembali bisa melintas dengan aman,” jelasnya.

Dadang menuturkan, unsur Forkopimcam Jatigede langsung mendatangi TKP untuk meninjau bencana alam tersebut. Mereka terdiri Sekcam Jatigede Drs Lili Rahli, Kanit Bimas Polsek Jatigede Aiptu Sahdi, Kanit Sabhara Bripka Heri S, Bhabinkamtibmas Brigadir lpul M serta Babinsa Serda Pendi dan Sertu Dudung.

”Mereka didampingi Kadus Cisaar Landeuh Lela serta masyarakat Cisaar Landeuh,” jelasnya.

Kata Dadang, dalam kejadian amblasnya jembatan di jalan utama serta ambruknya jembatan gantung tidak menimbulkan adanya korban jiwa. ”Namun kerugian tidak bisa di taksir,” tandasnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi Sumeks Sekcam Jatigede, Drs Lili Rahli menuturkan, meski jembatan mengalami ambruk, para siswa SD Cimukti masih bisa bersekolah secara aman. Karena, masih bisa dilalui oleh warga dengan berjalan kaki.

”Kalau untuk motor dipastikan tidak bisa melintas,” jelasnya.

Sementara, kata Lili, untuk para siswa SMP Cijeungjing yang berasal dari Desa Cintajaya, Kadu dan Lebaksiuh tersendat oleh ambruknya jembatan jalan kabupaten. Baik di Desa Cipicung ataupun yang melewati Desa Jembarwangi Kecamatan Tomo.

”Mereka tersendat karena di dua lintasan tersebut seluruhnya jembatan amblas,” ujarnya.

Masyarakat di sekitar Desa Cintajaya, Kadu dan Lebaksiuh berharap agar pihak pemerintah untuk segera memperbaiki jembatan agar mobilitas warga kembali normal.

”Kami berharap agar pemerintah kembali memperbaiki jembatan, sehingga mobilitas warga kembali normal. Terutama, untuk para pelajar,” harap seorang warga.

Sebelumnya, masih di sekitar Desa Cipicung Kecamatan Jatigede, tepatnya di Dusun Cisaar Tonggoh telah terjadi longsor. Peristiwa terjadi pada Senin (11/2) sekitar pukul 15.00.

”Longsor terjadi sewaktu hujan deras. Kemudian, aliran air tersumbat sehingga air masuk ke rumah warga dan berserakan kemana-mana,” ujar Bhabinkamtibmas Polsek Jatigede Bripka Ipul M.

Dikatakan Ipul, dalam kejadian longsor di Dusun Cisaar Tonggoh ada lokasi rumah yang terkena lonsor. Diantaranya, bangunan milik Sahman, bangunan milik Nadi serta bangunan milik Anang dan Yusuf.

”Tidak ada korban jiwa di kejadian ini, namun warga mengalami kerugian material. Kerugian kira-kira mencapai Rp 70 juta,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, sebuah jembatan penghubung antar desa terputus di wilayah Kecamatan Tomo. Jembatan Cipari II dengan panjang delapan meter dan lebar 2,5 meter yang menghubungkan antara Dusun Cibengkung Desa Jembarwangi  Kecamatan Tomo dengan tiga desa di Kecamatan Jatigede, yaitu Cintajaya, Kadu dan Lebaksiuh.

”Saat ini, jembatan Cipari II tidak bisa dilewati,” ujar Dandim 0610/Sumedang Letkol Arh Novianto Firmansyah melalui Danramil 1009/Tomo Kapten Inf Mohaji, Selasa (12/2).

Dikatakan Mohaji, peristiwa ambruknya jembatan Cipari II terjadi pada Senin (11/2) sekitar pukul 16.00. Jembatan ambruk diakibatkan curah hujan yang tinggi.

”Sehingga air sungai meluap dan menggerus pondasi jembatan,” ujarnya.

Mohaji menuturkan, pihaknya bersama Polsek Tomo memasang Policeline supaya warga tidak melintas mengingat kondisinya sangat berbahaya bagi keselamatan pengguna.

Hingga Senin (11/2) malam, kata Mohaji, Forkopimcam Tomo dan anggota Polsek, PU serta masyarakat berupaya membuat jalan alternatif melalui Dusun Cirendang Desa Jembarwangi.

”Pembuatan jalan alternatif dilakukan agar mobilitas warga tidak terganggu,” jelasnya.

Tidak hanya jembatan Cipari II, sebelumnya diberitakan jembatan Cisaar Lanang penghubung antara Dusun Cibengkung Desa Jembarwangi dengan Dusun Cariang Desa Darmawangi juga ambruk. Jembatan sepanjang 36 meter dengan lebar 2,5 meter ambruk diterjang air sungai yang meluap.

Seorang warga setempat Inta Suminta mengatakan kedua jembatan yang ambruk merupakan akses untuk menyalurkan dan memasarkan hasil bumi di desa desa sekitar. Seperti, sayuran dan buah buahan dari Desa Cintajaya, Kadu dan Lebaksiuh.

”Ambruknya kedua jembatan akan mempengaruhi pemasaran sayuran dan buah buahan. Karena, sekitar 20 ton hasil bumi setiap harinya dari desa sekitar melintasi kedua jembatan itu,” terangnya.

Inta menuturkan, putusnya kedua jembatan juga mengganggu mobilitas anak sekolah. Terutama, bagi para pelajar warga Cibeber yang bersekolah di SMP Cijeungjing.

”Sekarang juga banyak mobil pupuk yang tidak bisa pulang ke Cibeber, akhirnya parkir di Cibengkung,” jelasnya.

Dikatakan Inta, para petani dan bandar harus melintasi jalur lain yang jaraknya cukup jauh untuk memasarkan hasil bumi. Seperti melintasi jalur Pamoyanan.

”Itupun, saya mendengar jembatan yang ada disana juga ambruk karena hujan. Sehingga, hasil pertanian akan sulit dipasarkan,” tukasnya. (atp/ign)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.