oleh

Wujud Ikatan Kuat Muhammadiyah dengan TNI Membantu Korban Bencana, Gelar Perlombaan saat HUT TNI ke-71

Kepedulian relawan Muhammadiyah Kabupaten Sumedang, terhadap korban bencana yang bertahan di pengungsian, terus dilakukan dengan berbagai tindakan. Selain bantuan materi, bantuan untuk memulihkan mental anak-anak yang bersekolah darurat put dilakukan. Seperti bertepatannya dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-71, digelar sejumlah kegiatan.

—————————————-
BENCANA longsor di sejumlah titik kawasan Sumedang, masih menyisakan duka. Terutama, bagi para korban yang hingga kini masih bertahan di pengungsian GOR Tadjimalela dan Makodim 0610/Sumedang.

Betah tidak betah, mereka (para korban, red) dengan terpaksa bertahan karena masih khawatir dengan ancaman longsor. Apalagi belum lama ini, pemerintah memperpanjang status siaga bencana.

Kendati demikian, bentuk kepedulian dari berbagai kalangan di Sumedang maupun dari luar, terus berdatangan. Sejumlah sumbangan mengalir untuk memenuhi kebutuhan para korban selama bertahan di pengungsian. Selain itu, sejumlah tindakan pun terus dilakukan, baik itu mengurus keperluan di pengungsian ataupun di lokasi bencana yang dibersihkan.

Tanggap darurat untuk para korban pun, hingga sekarang masih terus dilakukan dengan berbagai cara. Seperti Rabu (5/10), bertepatan dengan HUT TNI ke-71, sejumlah kegiatan pun digelar. Dimana perayaan HUT TNI ke-71 itu, digelar relawan Muhammadiyah Kabupaten Sumedang, dengan melibatkan pengungsi dan anak anak sekolah darurat di kamp pengungsian Makodim 0610/Sumedang.

Kemeriahan acara itu, berjalan dengan adanya berbagai macam perlombaan anak-anak. Dimana selama ini, banyak anak-anak pengungsi yang menjalani sekolah darurat di pengungsian. Maka dari itu, selain untuk mengenang ultah TNI, momen itu pun dimanfaatkan juga untuk menghibur para pengungsi. Terutama, bagi anak-anak agar mental mereka bangkit pasca musibah longsor waktu itu.

Begitu dikatakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sumedang, Supala. Dimana selama para korban bertahan di pengungsian, pihaknya terus berupaya untuk memberikan bantuan serta tindakan langsung kepada para korban di pengungsian. Salah satunya di pengungsian Makodim 0610/Sumedang.

“Sebuah tindakan nyata perlu dilakukan untuk para korban bencana yang sudah selama ini bertahan di pengungsian. Tertutama bagi anak-anak, mereka perlu dijaga kondisi mentalnya dan membangkitkan mereka pasca bencana alam waktu itu. Kami juga selama ini terus melakukan pemantauan, dan salah satunya kita adakan kegiatan dengan sejumlah lomba bagi anak-anak yang juga selama ini, mengikuti sekolah darurat di pengungsian. Dan bertepatan dengan HUT TNI, kita meriahkan kegiatan yang didalamnya juga untuk menghibur para pengungsi ini,” ujarnya.

Disamping itu, menurut Supala, TNI dan Muhammadiyah, memiliki ikatan yang kuat. Karena Panglima Besar Jendral Soedirman, sebagai tokoh besar TNI, merupakan anak kandung dan kader Muhammadiyah. Beliau merupakan kader Muhammadiyah dari kepanduan Hizbul Wathan (HW), sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah.

“Karena ikatan kuat ini, kita bersama membantu para korban dengan sejumlah tindakan nyata ini,” katanya.

Disampaikan Supala, di tengah-tengah dampak bencana longsor dan banjir, pendidikan anak-anak tetap mesti berjalan. Sebelumnya pun, Muhammadiyah Kabupaten Sumedang, telah berinisiatif membuka sekolah darurat di posko bencana Sumedang yang dimulai Senin (26/9) lalu.

Posko bencana Sumedang, berlokasi di dua tempat. Yakni di GOR Tadjimalela dan Makodim 0610/Sumedang. Dan untuk sekolah darurat yang diselenggarakan PD Muhammadiyah Kabupaten Sumedang, terdapat di Makodim 0610/Sumedang.

“Terdapat 196 anak korban banjir yang mengikuti pendidikan di sekolah darurat ini,” tutur Supala.

Disebutkannya, pengungsi yang berada di markas Kodim 0610/Sumedang, sepenuhnya dikelola Muhammadiyah. Dimana sampai sekarang ini, jumlah pengungsi di Makodim 0610/Sumedang, sebanyak 386 orang. Sedangkan jumlah pengungsi di GOR Tadjimalela, sebanyak 1027 orang.

Supala mengharapkan, sejumlah bantuan alat pendidikan, dan keperluan sekolah anak-anak bagi korban banjir. Bantuan itu, sangat diperlukan untuk memperlancar kegiatan sekolah darurat anak-anak.

“Bantuan logistik, seperti makanan dan minuman siap saji pun masih minim, dan sangat dibutuhkan pengungsi di lokasi pengungsian,” kata Supala yang juga sebagai Dosen STAI Muhammadiyah ini.

Ditambahkannya, selain bantuan materi, di lokasi pengungsian pun, dibutuhkan banyak relawan untuk membantu korban. “Tambahan relawan kami juga membutuhkannya untuk penempatan di pengungsian. Mengingat banyaknya yang harus dilakukan selama para korban berada di pengungsian,” tukasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed