oleh

Kisah Mak Anah, Penjual Jagung Bakar di Talun “Ade Irawan Sempat jadi Pelanggan Setia”

Meski beragam jenis makanan ringan dalam bentuk kemasan membanjiri pasar tanah air, namun jagung bakar masih tetap banyak diminati berbagai kalangan. Salah satunya kedai jagung bakar milik Mak Anah di persimpangan Jalan Talun.

Asep Nurdin, Kota

Sore itu hujan gerimis mengguyur kawasan Talun dan sekitarnya hingga memaksa kami untuk menghentikan perjalanan. Sambil mencari tempat untuk berteduh, pandangan tertuju pada sebuah bangunan kecil dengan gumpalan asap putih yang membumbung tinggi ke angksa. Selain numpang meneduh, niat ingin ngangetin badan yang basah kuyup akibat kehujanan, sekalian makan jagung bakar.

Tampak seorang ibu setengah baya sedang asik menghangatkan kedua telapak tangannya diatas tungku pembakaran jagung, meski kepulan asap masuk kedalam selaput kedua matanya. Tapi Mak Anah, begitu panggilan ibu itu, seperti tak menghiraukan semua itu.

Saat singgah, dengan ramah Mak Anah mempersilakan kami duduk dan menawarkan sejumlah rasa jagung bakar yang menjadi menu andalan kedainya.

“Mau rasa keju pedas, asam manis, keju susu, keju coklat, keju asin atau keju stroberi?” Katanya sambil membenarkan tungku pembakaran yang sudah hampir padam.

Sambil membulak-balik jagung rasa pedas manis yang ku pesan, Mak Anah bercerita tentang profesinya sebagai pedagang jagung bakar. Kedai sederhana itu ternyata, sudah bertengger sejak empat tahun silam. Dan, hingga saat ini masih diburu penggemar jagung mulai dari kalangan masyarakat biasa hingga pejabat.

“Awal mulanya dari kesulitan menjual hasil panen jagung yang ditanam di kebun milik saya di kawasan Kampung Toga,” katanya sambil membulak-balik jangung di atas tungku pembakaran.

Meski terjual pun hanya dibeli oleh bandar dengan harga yang sangat murah. “Boro-boro dapat untung, bekas upah nyangkul juga tidak terganti,” ucapnya, sambil memasukan tempurung kelapa ke tungku pembakaran.

Tempurung kelapa itu, ia gunakan sebagai bahan bakar, karena memiliki aroma yang khas sehingga jagung bakar yang dihasilkan menjadi lebih gurih dan lezat, berbeda jika dengan menggunakan arang dari kayu.

Akhirnya sang suami mempunyai ide untuk mencoba membuka kedai jagung bakar di lahan miliknya yang berlokasi di pinggir jalan. Sisa jagung yang belum laku terjual akhirnya menjadi barang dagangan pertama di kedainya dengan rasa rendang sapi dan rendang ayam.

“Kebetulan suamiku orang padang, jadi tau berbagai rasa masakan Padang,” terangnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, jagung bakar Mak Anah memiliki banyak pelanggan dari berbagai kalangan, baik anak muda ataupun dewasa, ia mengaku banyak memiliki pelanggan seperti anggota Polres Sumedang, karyawan Kecamatan Sumedang Selatan termasuk camatnya .

“Bahkan Ade Irawan pun saat masih menjabat Bupati Sumedang, menjadi pelanggan setia ,” tandasnya.

Sambil menyusun jagung di tempat pajangan, ia melanjutkan ceritanya. “Dalam dua hari, satu kuintal jangung bisa laku terjual, apalagi jika saat-saat tertentu seperti malam tahun baru bisa menghabiskan tujuh kuintal jagung dalam satu malam saja,” katanya sambil tersenyum.

Tak menyangka, jika ibu 53 tahun ini begitu faham dengan jenis-jenis jagung yang memiliki rasa yang gurih, layaknya seorang petugas pertanian, Mak Anah menyebutkan sejumlah jenis dan nama jagung. “Jenis jagung Talenta, memiliki kulit yang tebal, ada juga jenis jagung Bonanza , enak namun tipis kulitnya sehingga mudah basi. Jagung jenis Skada dan Asian Sihani rasanya enak juga, selain itu jagung jenis ini memiliki daging yang empuk. Tetapi kalau jagung jenis Sweet Boy, tidak terpakai, karena memiliki biji yang terlalu besar dan mudah basi,” katanya sambil mengusap keringat yang membasahi sebagian mukanya.

Karena sudah tidak kuat mengolah lahan kebunnya lagi, untuk memenuhi kebutuhan dagangannya, Mak Anah mendapat pasokan jagung dari sejumlah bandar seperti dari Kecamatan Rancakalong.

“Kalu lagi kosong di Rancakalong, emak tinggal telefon kepada Dedi, bandar yang berada di Cijeruk atau Ajat, bandar jagung dari Cimalaka,” terangnya.

Ia mengaku tidak pernah belanja jagung untuk dagangannya dari pasar tsrdisional, karena ukurannya yang terlalu kecil sehingga tak tega kalau dijual kepada pelanggannya .

“Takut pelanggan pada kecewa,” katanya.

Dari hasil jualan jagung bakar selama ini, Mak Anah bersyukur, karena mampu menyekolahkan ke empat anaknya hingga Sekolah Menengah Atas, diantaranya ada yang bersekolah di SMAN 2 dan SMK Informatika Sumedang.

“Alhamdulillah bisa merayakan pesta pernikahan anak tidak kalah dengan orang lain,” katanya dengan nada bangga.

Selain itu, Mak Anah juga saat ini sedang membangun rumah dua lantai dan masih dalam tahap finishing, semua itu tak lepas dari hasil jerih payah sang suami sebagai tukang jahit. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed