oleh

Jual Bata Bekas untuk Hidup

WADO – Nasib malang masih menghantui warga korban penggenangan Waduk Jatigede, nasibnya kini seolah tak mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Salahsatunya berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan hidup layak setelah ‘diusir’ dari tanah kelahirannya.

Kini, banyak diantara korban penggenangan Jatigede bertahan hidup dengan alakarnya, seperti dialami Ojo warga Dusun Kampung Baru, Desa Wado. Meski telah memiliki rumah di tempat baru, namun untuk memenuhi kehidupan sehari-hari memang dirasakan sangat sulit. Hal hasil, pria yang saat ini sudah memasuki 60 tahun itu, mencari penghasilan baru dengan memungut batu bata dan pasir bekas dari sejumlah bangunan yang sudah dibongkar dan ditinggalkan pemiliknya.

“Saya tidak punya pekerjaan lain, jadi saya lebih baik memungut batu bata dan pasir untuk di jual kepada orang yang memerlukan,” kata Ojo saat ditemui Sumeks, kemarin.

Dalam hal ini, Ojo memaparkan bahwa pasir yang sudah di saring dari kerikil biasa di jual dengan harga seratus ribu per kolt buntung nya dan batu bata dia menjual dengan harga Rp.250/ buahnya, beruntung setiap barangnya sudah terkumpul ada saja orang yang mau membeli pasir dan batu bata bekas yang di kumpulkan Ojo.

“Saya jual dengan harga murah saja, yang penting keringat saya bisa terbayar dan saya bisa menghidupi keluarga,” kata dia.

Sebelumnya, Ojo saat masih berada di wilayah genangan dia mempunyai usaha warung nasi dan usahanya itu bisa cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun pasca penggenangan dirinya tak bisa berjualan karena modal usahanya habis untuk membeli tanah dan membangun rumah.

“Dulu waktu masih tinggal di Cisurat, saya jualan nasi, dan keuntungannya cukup untuk menghidupi keluarga,” tuturnya dengan nada berat.

Dia berharap, pemerintah dapat mencari solusi untuk mengurangi pengangguran yang terjadi pada warga yang menjadi korban genangan waduk Jatigede.

“Saya minta tolong sama pemerintah untuk meembuka lowongan kerja khusus buat warga Otd,” katanya lagi.

Ojo mungkin hanya satu dari sekian banyak warga terdampak Jatigede yang nasibnya malang. Mereka, kehilangan pekerjaan sehari-hari sebagai petani. Karena, kata dia, ladang sawah dan yang biasa dijadikan tumpuan hidupnya sudah tenggelam ditelan ganasnya pembangunan Waduk Jatigede. Parahnya lagi meski jumlahnya terbilang banyak namun perhatian dari pemerintah seakan minim untuk memecahkan masalah tersebut.

“Harusnya pemerintah peduli dengan keadaan di Jatigede karena akan ribuan orang yang jadi pengangguran, harus sepadan dengan apa yang mereka telah korban demi kepentingan Bangsa dan Negara,” kata Ifan Yudhi Wibowo.

Dia akui, Direktur LSM Instan itu, di Jatigede banyak permasalahan yang belum tuntas. Tak hanya berkaitan dengan dampak sosial yang mengancam ribuan manusia. Termasuk berbagai infrastruktur yang direncanakan oleh pemerintah pun ternyata belum sepenuhnya seratus persen kelar.

“Salahsatu contoh Jalan Lingkar Jatigede, harusnya itu kan sudah beres sebelum penggenangan, sekarang lihat sendiri. Disana-sini belum beres, termasuk yang di Cisurat jika hujan sudah saja sulit untuk dilintasi kendaraan roda dua. Belum lagi, sepanjang jalannya memang gelap gulita karena tidak ada penerangan. Pertanyaannya apakah masyarakat Jatigede mau dijadikan tumbal?” tandasnya. (eri/ign)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed