oleh

Munculnya Kembali Anak Punk di Sumedang

SETELAH beberapa lama menghilang, sejumlah anak punk kembali bermunculan di Kota Sumedang.

Keberadaan mereka kerap membuat masyarakat resah dan takut. Bagaimana tidak? Mereka suka bergerombol, mengamen di angkutan umum, dengan cara memaksa kepada penumpang angkutan umum.

Pindah dari angkutan umum yang satu ke angkutan yang lain. Serta menaiki truk dengan baju compang-camping.

Kehadiran anak punk di jalanan seputaran Sumedang selain mengganggu aktivitas warga juga membahayakan arus lalu lintas. Mereka kerap menghentikan kendaraan yang melintas di jalan utama, yang membuat sopir kendaraan mengerem mendadak. Sehingga aksi mereka ini menghambat arus lalu lintas dan membahayakan pengguna jalan.

Tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa ada anak punk dengan usia yang relatif masih anak-anak? Setelah dilakukan pendataan oleh petugas mereka beralasan ikut punk karena tidak punya kegiatan lain, orang tua yang kurang mengawasi, sekolah yang tidak lagi menyenangkan.

Lalu bagaimana Islam menempatkan anak-anak seperti mereka?

Ide kebebasan berekspresi (berperilaku) justru telah menjatuhkan martabat masyarakat pada derajat hewani yang sangat rendah. Kebebasan itu telah menyeret manusia ke kehidupan serba-boleh (permissiveness), yang bahkan tidak pernah dijumpai dalam pergaulan antar hewan sekalipun. Allah SWT berfirman:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Ataukah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (QS. al-Furqan [25]: 43-44).

Ide kebebasan berekspresi telah menjatuhkan masyarakat Barat sampai pada derajat yang lebih rendah daripada binatang. Islam jelas mengharamkan ide kebebasan berekspresi. Islam mewajibkan semua aktivitas manusia terikat dengan syariat, karena hukum asal perbuatan adalah terikat dengan syariat. Karena itu, Islam telah menghadirkan aturan bagi semua aktivitas manusia. Hal itu bukan berarti bahwa Islam menghambat dan mengekang seseorang untuk berekspresi. Islam memberikan keleluasaan yang luas kepada setiap orang untuk berekspresi, berkreasi, dan berinovasi; tetapi tentu saja sesuai dengan batas-batas yang telah digariskan oleh Allah sebagai Penguasa manusia.

Aturan Islam senantiasa menjunjung martabat luhur manusia. Oleh karena itu, semua aktivitas yang menjatuhkan derajat manusia diharamkan oleh Islam. Islam memandang masyarakat sebagai satu kesatuan; bagaikan satu tubuh. Islam memandang bahwa manfaat dan madarat dari tindakan dan perilaku sebagian orang bukan hanya bagi sebagian orang itu, melainkan bagi masyarakat seluruhnya. Karena itu, Islam menjauhkan semua hal yang membahayakan masyarakat.

Islam juga mewajibkan keluarga, masyarakat dan negara melindungi semua anggotanya termasuk remaja. Dalam keluarga, selain wajib menjamin kebutuhan hidup anak-anak mereka, seorang ayah dan ibu juga wajib mendidik anak-anak mereka agar memiliki kepribadian Islam. Membentuk pribadi yang paham dan taat pada hukum-hukum Allah. Wallahu’alam bi ash showab. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed