oleh

Hari Ini, RA Nurmanah Buka PAUD di Hunian Sementara, Perbaiki Mental Anak, Kurangi Beban Ortu

Berawal dari aspirasi warga korban bencana alam, mengetuk pintu hati RA Nurmanah untuk membuka PAUD di Huntara. Sebanyak kurang lebih 20 anak, akan mengikuti proses belajar di PAUD dadakan tersebut. Berikut liputannya.

ATEP BIMO ARIO SUTEJO, Ujungjaya.

BERAWAL dari sekedar obrolan warung kopi untuk mewujudkan tempat belajar bagi anak-anak korban bencana alam. Hal ini, mendapat respon tenaga pendidik dari RA Nurmanah/PAUD Permata Bunda Dusun Cikoang, Desa Sakurjaya, beserta UPTD TK SD dan PNF Kecamatan Ujungjaya.

Kini, telah terwujud ruang belajar bagi anak-anak usia dini di hunian sementara (Huntara) Blok Pamoyanan, Desa Sakurjaya. Mulai hari ini, Senin (17/10), RA Nurmanah/PAUD Permata Bunda, membuka posko pendidikan dan mendidik anak-anak usia dini korban bencana alam. Sebanyak kurang lebih 20 hingga 30 anak, akan mengikuti proses belajar di PAUD dadakan tersebut.

Kepala Sekolah RA Nurmanah, Elong Talemiyati S.PdI, mengaku dirinya terketuk untuk membimbing anak-anak usia dini korban bencana alam. Hal itu dilakukan, untuk memperbaiki psikologis anak-anak yang terkena musibah agar kembali dapat tersenyum, dan mendapatkan pendidikan sesuai dengan usia mereka.

“Kami di RA Nurmanah/PAUD Permata Bunda, merasa bertanggung jawab juga terhadap pendidikan mereka.

Mereka harus tetap belajar sesuai dengan usia mereka,” tutur Elong ditemui di kediamannya, Minggu (16/10).

Dengan dibukanya PAUD di huntara, akan mengurangi beban para orang tua anak. Karena, kata dia, dalam masa-masa ini, para orang tua disibukkan dengan pembenahan hunian. Sehingga, para orang tua pun berpendapat lebih baik tidak menyekolahkan anak-anaknya, meski telah disediakan sekolah yang siap menampung.

“Selain itu, disaat datang bantuan, para orang tua sering tidak mendapatkan bagian. Karena, kesibukan mereka menjaga anak-anaknya di sekolah. Terkadang, jemputan juga menjadi kendala. Mereka sering tertinggal oleh jemputan tersebut,” jelasnya.

Elong mengatakan, teknis belajar bagi anak-anak korban bencana alam tidak akan menjadi kendala. Para tenaga pendidik di RA Nurmanah/PAUD Permata Bunda, akan secara bergiliran mendatangi tempat belajar di huntara.

“Di sini terdapat empat orang tenaga pendidik. Mereka akan dibagi dua secara bergiliran. Masing-masing dua orang akan mengajar di Dusun Cikoang, dan dua orang akan mengajar di huntara,” jelasnya.

Dikatakan Elong, alasan lain dibentuknya ruang belajar tersebut, karena anak-anak itu bukan berasal dari satu sekolah. Mereka berasal dari beberapa sekolah yang disatukan menjadi satu.

“Sehingga dibutuhkan waktu bagi mereka untuk lebih saling mengenal. Dan memulai belajar di tempat yang baru dari nol kembali,” terangnya.

Terpisah, Koordinator Huntara, Dede Rahmat, mengapresiasi atas upaya RA Nurmanah dan unsur UPTD TK SD dan PNF Kecamatan Ujungjaya, hingga terwujudnya PAUD di Huntara.

“Sebenarnya, pembentukan PAUD sudah terpikirkan. Namun waktu itu masih belum terpikirkan kendala-kendalanya. Seperti tenaga pengajar, berbagai fasilitas dan ruangan kelas ataupun yang lainnya. Ketika ada respon dari masyarakat di sini, kami memberanikan diri membuat PAUD ini,” kata Dede.

Dede berharap, adanya PAUD akan mempermudah anak-anak korban bencana mendapatkan pendidikan. Selain itu, melalui yayasan menaungi yaitu RA Nurmanah, akan mengajukan fasilitas-fasilitas kepada pemerintah.

“Saat launching, kemungkinan anak-anak korban bencana akan sedikit yang bersekolah. Mudah-mudahan dalam waktu dua atau tiga hari seluruh anak usia dini dapat memanfaatkan fasiltas PAUD ini sebaik-baiknya,” tukasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed