oleh

Selain Huntara Disiapkan Opsi Translok

UJUNGJAYA – Selain menempatkan sebanyak 105 Kepala Keluarga (KK) yang menjadi korban longsor di tempat hunian sementara (Huntara) Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, sebagai solusi jangka pendek, Pemerintah Kabupaten Sumedang, mencari solusi lain sebagai upaya penanggulangan jangka panjang. Yakni, dengan mencarikan tempat relokasi tetap.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan ada seluas enam hektar lahan, dipersiapkan untuk relokasi para pengungsi korban bencana alam (KBA) di Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan.

Selain di Desa Margalaksana, ada beberapa opsi lain, yakni memanfaatkan lahan transmigrasi lokal yang berada di tiga kawasan, yakni Gunung Lingga, Gunung Goong, dan di Sampora. Ketiga lokasi tersebut, sebelumnya sudah ditetapkan menjadi lokasi transmigrasi lokal untuk melakukan penyebaran, atau meratakan populasi penduduk dari yang padat ke yang belum.

“Opsi lain diantara ada lahan translok yang terbagi di tiga kecamatan. Itu kita tidak perlu melakukan pembebasan lahan lagi, karena sudah hak milik Pemkab Sumedang,” Ujar Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dadi Mulyadi, saat dikonfirmasi, Selasa (18/10).

Lebih lanjut, Dadi mengungkapkan, di Kawasan Gunung Lingga, Desa Linggajaya, Cimarga, dan Sundamekar, ada lahan seluas 400 hektare yang belokasi di Kecamatan Cisitu. Kemudian di kawasan Gunung Goong, Desa Karangbungur, ada 257 hektare, dan di tanah eks Perkebunan Sampora, ada 700 hektare yang terletak di Kecamatan Buahdua.

“Kalau di Karangbungur itu, lokasinya cukup stategis dan merupakan kawasan lahan subur di bidang pertanian. Jadi masyarakat bisa bercocok tanam di sana,” lanjutnya.

Akan tetapi ia menegaskan, semua kembali kepada arah minat masyarakat, dan kajian dari pemerintah pusat maupun daerah.

Sementara itu, guna memenuhi sisa kebutuhan tanah relokasi, pihaknya terus melakukan pengkajian dan penelitian di lapangan. Langkah itu dilakukan dengan teliti.

“Lahan yang akan digunakan untuk relokasi harus benar-benar layak. Ini dilihat dari berbagai aspek. Misalnya tidak berada di daerah rawan bencana, dekat dengan sumber mata air bersih, dan mudah untuk akses keluarnya. Juga didukung ketersediaan infrastruktur yang menyangkut fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum),” terangnya.

Sedangkan dana yang digunakan untuk pematangan lahan sebesar Rp 200 juta, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumedang. Dengan dana sebesar itu, pihaknya akan berusaha mengoptimalkan penggunaannya.

“Mudah-mudahan setelah pematangan beres, masih pada tahun ini sudah bisa melangkah untuk membangun infrastruktur penunjang relokasi,” tukasnya. (her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed