oleh

DLP Boroskan Uang Negara

KOTA –Karena dinilai hanya pemborosan anggaran negara, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Sumedang menolak adanya Program Studi Dokter Layanan Primer (DLP).

Ketua IDI Kabupaten Sumedang, dr. Hilman Taufik, mengatakan program studi DLP merupakan kebijakan dari pemerintah untuk meningkatkan kompetensi dokter dan pelayanan kesehatan masyarakat.

DLP, kata dia, menerapkan dokter untuk mempelajari ilmu kedokteran general secara konsisten dengan menerapkan prinsip Ilmu Kedokteran Keluarga, Ilmu Kedokteran Komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Untuk memenuhi kompetensi tersebut, pemerintah mewajibkan dokter-dokter yang sudah ada kembali menempuh pendidikan DLP selama 3 tahun. Padahal, Standart Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) yang dijalani dokter selama 8 tahun dirasa cukup untuk memenuhi dan menjaga kompetensi dokter.

“Melihat hal tersebut, agaknya program DLP dianggap mubazir. Pasalnya, bukan cuma layanan pendidikan yang cukup lama, tapi dari segi program pendidikan yang dipelajari tidak jauh berbeda dengan SKDI,” ujar Hilman.

Ia menjelaskan, pada SKDI 2012 yang sudah ditetapkan bersama Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Dokter yang sudah menguasai modul penyakit pada 2010 dapat bertugas sebagai dokter di layanan primer dalam melaksanakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Kemudian pada SKDI 2017 terdapat 144 penyelesaian penyakit dan sampai 2019 ditetapkan 155 penyelesaian masalah penyakit. Untuk memenuhi SKDI pada 2019 nanti, dokter hanya perlu menguasai 11 modul penyelesaian penyakit.

Sedangkan berdasarkan UUD Kedokteran yang berlaku, program pendidikan bisa dilakukan jika terdapat 70 persen cakupan ilmu baru. Lantas jika melihat target JKN hingga 2019, ilmu terapan penyakit baru tidak sampai 70 persen.
Dengan biaya Rp300 juta (beasiswa) dan lamanya proses belajar, membuat program DLP dianggap hanya pemborosan waktu dan anggaran negara.

“Alangkah baiknya dana tersebut dialokasikan untuk perbaikan kualitas pelayanan di FKTP atau Puskesmas yang distribusi dokter di wilayah-wilayah yang masih tidak terisi dokter,” pungkasnya. (her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed